Ada ide untuk kegiatan saat pensiun tiba ....????
Minggu, 27 Mei 2007 - 17:39 wib KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Fitria Handiarto Fitria Handiarto Tertarik pada Perhiasan Asimetris Ketika masih kecil, Fitria Nahdi Handiarto (52) tidak suka berdandan. Ia lebih senang menggunakan jins dan T-shirt. Senang main tenis lapangan, renang, dan squash, serta tidak suka memakai anting seperti anak perempuan seusianya. Tetapi, dunia pekerjaan membuat ibu dua anak ini mengubah penampilannya. Berbagai tuntutan tugasnya yang selalu bertemu dengan para klien mengharuskan ia mengubah penampilan agar selalu tampil menarik. Maka, sejak bekerja di perusahaan swasta asing dari Dubai yang bergerak di bidang impor gula di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Fitria menjadi lebih suka berdandan. Kalung tidak pernah lepas dari penampilannya. Aksesori ini dipadupadankan sesuai pakaian dan ikat kepala yang terbuat dari kain. Setiap kalung yang dia pakai menarik perhatian rekan sekerjanya, termasuk para ekspatriat yang bekerja di tempat itu, di antaranya orang Inggris dan Dubai. "Mereka sering memuji kalung yang saya pakai. Mereka mengatakan: ibu keren kalau pakai kalung ini," kata Fitria, pengusaha industri kecil perhiasan mutiara alam, perak, kristal, dan batuan, mengenang. Tidak sekadar memuji, rekan kerjanya juga sering menanyakan toko kalung yang menjadi langganan wanita lulusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia ini. Beberapa rekan ada yang meniru kalung hasil desainnya. Melihat minat orang terhadap kalung buatannya cukup tinggi, dia menjadi semakin percaya diri membuka usaha kerajinan tangan ini. Ketika usaha industri rumah tangganya semakin laris, Fitria menjadi semakin sibuk melayani permintaan pelanggan. Dia berani mengambil sikap keluar dari pekerjaan sebelumnya, meski saat itu posisinya sebagai salah satu manajer di perusahaan tersebut. Kebetulan, tahun 2002, ada larangan impor gula di Indonesia. Hampir tidak ada pekerjaan yang dilakukan Fitria di perusahaan itu sejak pukul 09.00 sampai 17.00, selain bermain internet. Akhirnya dia memilih bekerja di rumah daripada makan gaji buta. Selanjutnya, dia memutuskan mengundurkan diri dari tempat kerjanya. "Risikonya tidak lagi terima gaji. Enggak masalah. Namanya kepuasan, sulit dinilai dengan uang," ujar Fitria yang memulai usaha industri rumah tangga sejak tahun 2002. Ibu dari Almer Hafiz (22) dan Rifqi R (12) menjadi berbunga-bunga bila mendapat pujian atas produknya. Dia pun menjadi semakin bersemangat berkreasi. Kalau sebelumnya ia hanya bisa memproduksi satu sampai dua kalung per hari, kini ia bisa memproduksi 10 sampai 30 set perhiasan (terdiri dari kalung, gelang, anting, cincin, dan bros) per hari. Dulunya dia hanya memproduksi kalung. Sementara material batu permata yang digunakan antara lain mutiara, kecubung (amethys), coral, lapis lazuli, blue topaz, akik, garnet, citrine, dan markesit. Perempuan kelahiran Temanggung, 6 Juni 1954, ini juga semakin berani menggunakan bahan baku yang tergolong "aneh" untuk dikombinasikan pada produknya. Di antaranya, peralatan bengkel kaum lelaki seperti kawat Brasswire dan Copperwire untuk rangka bros dan anting. Atau benang kasur sebagai tali kalung, dan hiasan penutup jendela untuk mata kalung. "Kalau pintar mendesainnya, bahan baku 'aneh' dan tidak terpikirkan oleh orang ini bisa menghasilkan perhiasan yang indah," kata Fitria tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai perhiasan dan bahan bakunya. Tiga tahun terakhir dia sering diundang ke Bangkok untuk mempelajari dan mendapat pelatihan perhiasan dan bahan bakunya. Tidak terhitung lagi berapa banyak aksesori yang telah diproduksinya. Setiap hari rata-rata dia bisa memproduksi 10-15 set perhiasan, terdiri dari kalung, gelang, dan anting. Dalam kondisi yang mendesak, misalnya akan mengikuti pameran, dia mampu memproduksi 20-30 set perhiasan. Semua hasil karyanya diproduksi dari bengkel di rumah tinggalnya di Jalan Persada, Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Di situ juga sekaligus menjadi tempat pajangan untuk produknya. Untuk membantu produksinya, dia mempekerjakan tiga karyawati. "Sekarang tinggal dua, karena yang satu lagi sudah bekerja di kantor kedutaan," papar Fitria yang menggunakan label Nahdi untuk produknya dan menjadi binaan PT Pelindo II ini. Dari setiap perhiasan, dia mematok harga mulai dari Rp 50.000 per buah sampai Rp 1 juta per set, tergantung bahan baku aksesorinya. Misalnya, untuk mutiara dijual dengan harga Rp 50.000-Rp 300.000 dan untuk batuan semimurni dijual sampai Rp 1 juta per set. Dan kini omzetnya sudah mencapai ratusan juta dari modal awal sebesar Rp 600.000. Tampil beda Kalung yang dia pakai memang berbeda dengan kalung yang dijual di pasaran. Bisa dikatakan desainnya unik dengan ciri khas kalung berbentuk asimetris. Antara sisi kanan dan kiri dari untaian kalung berbeda, baik dalam bentuk, corak, maupun ukuran. Dia juga berani "bermain" warna pada kedua sisi dari rangkaian kalung. Misalnya, kalung mutiara berwarna gading pada sisi kiri dan hitam di sisi kanan. Selain itu, warna-warni juga dipadukan dalam satu untaian kalung, gelang, dan anting yang tidak dimiliki produk serupa lainnya. "Saya selalu ingin tampil beda. Tidak mau kalau kalung yang saya pakai sama dengan orang lain," ujar Fitria yang menggunakan label Nahdi Jewelry untuk produknya. Untuk tampil beda, ia menciptakan kalung tidak mengikuti tren yang ada. "Saya selalu membeli setiap kalung yang sedang tren. Cuma tidak langsung dipakai. Saya akan menyimpannya sampai muncul tren baru," jelas Fitria yang baru mengeluarkan kalung yang dibelinya itu dengan tampilan baru setelah tren lama menghilang. Orang asing Selera pasar memang sudah dikuasai istri Handiarto, seorang pilot sebuah perusahaan penerbangan di Indonesia, ini. Tidak hanya pasar di Indonesia, banyak dari pembelinya adalah orang asing, di antaranya Senegal, Nairobi, Afrika Selatan, Perancis, Inggris, Turki, dan Dubai. "Karena bentuknya unik, kebanyakan orang asing yang membeli dan menggunakan aksesori buatan saya," kata Fitria yang selalu melayani para pembeli dari orang asing di rumahnya. Para pelanggan ini dikenalnya ketika mengikuti pameran Inacraft, Australia New Zealand Woman Association (ANZA), British Woman Association (BWA), dan American Woman Association (AWA). Dari pelanggan, dia sering mendapat corak dan model serta bahan baku dari pelanggannya dari luar negeri. Misalnya, kristal dari Turki dan tangan Fatimah, sejenis perhiasan perak yang diberikan pelanggan lainnya. (Pingkan Elita Dundu) ________________________________ ** “This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee and could contain information that is confidential; If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through Internet”
<<image001.gif>>
<<image002.gif>>
<<image003.jpg>>
