Tips: Mengurangi Pengaruh Televisi bagi AnakSumber Bahan 
       Judul Buku/Buletin : e-BinaAnak (Edisi 109) 
       Penulis/Narasumber : -- 
       Penerbit : -- 
       Halaman : -- 


1. Berikan teladan. 

Sikap orangtua akan ditiru anak. Sebaiknya orangtua lebih dulu menentukan 
batasan bagi dirinya sendiri dulu sebelum membuat batasan bagi anaknya. 
Misalnya, orangtua hanya menonton TV pada saat merasa lelah atau bosan pada 
kegiatan lain. Dengan begitu, Anda tidak menjadikan menonton TV sebagai menu 
utama setiap hari. Jangan hidupkan TV sepanjang waktu. Matikan TV ketika sedang 
makan, berdoa bersama, bercengkerama, atau belajar. 

2. Hindari memanfaatkan TV sebagai babysitter. 

Di tengah kesibukan kerja, para orangtua lebih merasa aman dan tenang jika anak 
duduk manis di depan pesawat TV ketimbang main di luar. Tingginya angka 
kejahatan dan semrawutnya lalu lintas sudah membuat orangtua mengkhawatirkan 
keselamatan putra- putrinya. Untuk mengalihkan menonton TV, berikanlah 
aktivitas positif bagi anak seperti ikut kursus, olahraga, berkebun, mewarnai, 
memancing, membantu memasak, dan sebagainya. 

3. Buat jadwal. 

Ajak anak bersama-sama membuat jadwal kegiatan anak pulang sekolah. Yang 
penting beri porsi tidak lebih dari dua jam untuk menonton TV. 

4. Letakkan pesawat TV di tempat terbuka. 

Dengan begitu Anda bisa memantau acara apa yang sedang ditonton anak. Namun 
begitu, usahakan juga letak pesawat TV tidak menjadikannya sebagai pusat 
aktivitas keluarga. Jangan menempatkan TV di kamar anak (kalau radio boleh). 

5. Pakailah TV untuk mendidik. 

Ada beberapa acara TV yang bagus ditonton bersama seperti program dokumentasi, 
edutainment (tayangan edukatif yang menghibur seperti discovery), kuis, 
olahraga, konser musik klasik, talk show, (lihat dahulu "Acara TV" yang layak 
ditonton -- biasanya terdapat di koran). 

6. Diskusikan adegan anti sosial di TV. 

Ajaklah anak membahas: Apakah kata-kata kasar yang diucapkan patut ditiru? 
Apakah perilaku kekerasan itu layak dicontoh? Apakah setiap masalah harus 
diselesaikan dengan berkelahi? Diskusikan dan bandingkan nilai-nilai yang ada 
dalam TV dengan nilai kristiani. 

7. Terangkan antara fakta dan fiksi. 

Anak masih kesulitan membedakan antara fiksi dan fakta. Tokoh drakula yang Anda 
anggap biasa saja, bisa membuat anak ketakutan dan susah tidur. Terangkan 
proses pembuatan film/sinetron laga dan misteri, termasuk trik-trik 
pembuatannya. Apakah darah yang muncrat itu sungguhan? Mengapa jagoannya bisa 
terbang? Jelaskan bahwa untuk adegan yang berbahaya dilakukan pemeran pengganti 
yang terlatih. Ada teknik tertentu untuk memuat pemainnya bisa mengecil, 
menghilang dan menembus tembok. Jelaskan juga tali (sling) yang dipakai untuk 
membuat pemainnya bisa melayang. 

8. Diskusikan tayangan iklan. 

Mengapa ada iklan di TV? Apa tujuan iklan? Mengapa iklan selalu tampak menarik? 
Apakah iklan pernah menunjukkan kekurangan barang yang diiklankan? Apakah iklan 
yang bagus berarti barang yang diiklankan pasti bagus? Tunjukkan barang-barang 
yang paling sering diiklankan di TV. Ajak anak membandingkan: lebih bagus mana 
penampilan sebenarnya dengan yang di TV? 

9. Rumuskan bersama aturan menonton TV. 

Aturan ini berlaku untuk semua anggota keluarga, juga pembantu, babysitter, 
famili, teman, tamu atau tetangga yang nebeng menonton. 

10. Tolaklah semua media yang mengandung kekerasan. 

Bukan hanya TV, PlayStation pun mengandung banyak adegan kekerasan. Buatlah 
kesepakatan bahwa tidak ada tempat dalam keluarga bagi media yang mengandung 
kekerasan. Entah itu berupa TV, VCD/CD, PlayStation, Video Games, radio, kaset 
atau bacaan. 


http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/109/

Meiga

Kirim email ke