Salam,

Sonny Tutuarima

DSM-PPAd

021-2310108 ext 4921

Hijaukan Bumi Kita

 

 

Alkisah, di suatu kerajaan, Sang Raja merasa masygul.. Ia merasa hatinya
gundah.

Semenjak Ia melanjutkan tugas dan tanggung jawab Ayahandanya untuk
memerintah dan mengatur agar seluruh rakyat dapat hidup aman, tenteram
& sentosa, Ia telah berusaha sebaik-baiknya tetapi akhir- akhir ini Ia
merasa jenuh. Semua bebannya yang ditanggungnya dirasakan demikian
berat, dan hidup menjadi rutinitas tiada akhir dan membosankan.
Sehingga Ia memutuskan untuk berlibur, menikmati hidup bukan sebagai
Raja melainkan sebagai Rakyat Jelata, sekaligus untuk melihat-lihat
dari dekat hasil jerih payahnya selama ini.

Sepanjang masa liburnya, Raja sebenarnya cukup terhibur melihat
kemajuan kerajaannya. Ia dapat melihat bahwa rakyatnya hidup
berkecukupan, pemerintahan berjalan dengan cukup baik, walaupun ada
hal2 yang masih bisa Ia sempurnakan.

Tetapi, entah mengapa, semakin Ia nikmati liburannya, rasanya semakin
malas ia untuk kembali ke istana.

Suatu hari, Ia singgah di suatu daerah dan entah kenapa, Ia tertarik
kepada seorang Pemuda yang sedang menanam pohon. Pemuda itu bertubuh
kekar & kuat, tetapi ketika bekerja, ia tampak lemas dan tak
bersemangat.

Setelah mengucap salam, sang Raja bertanya kepada sang Pemuda. "Hai 
kawan, engkau tampak lelah, apakah engkau sakit ? Siapakah yang
memaksamu untuk tetap bekerja dalam kondisi sakit ?

"Saya tidak sakit tuan, hanya Saya tidak menyukai pekerjaan ini"
jawab sang Pemuda. "Aku membantu ayahku untuk menanam tiga ratus pohon
zaitun. Jikalau bukan karena Ayahku, aku tak akan melakukannya.

Bayangkan, tiga ratus pohon zaitun? Belum juga seratus pohon, aku
sudah tak ingin melakukannya lagi" keluh sang Pemuda.

"Dimana Ayahmu? Mungkin aku bisa bicara dengannya.." .

"Beliau ada di belakang bukit ini" ujar sang Pemuda sambil 
menggerakkan tangannya menunjukkan arah.

Raja segera bergegas ke belakang bukit, tetapi sesampainya Ia disana,
Ia tertegun. Dilihatnya, pohon yang telah ditanam jauh lebih banyak
dari sang pemuda padahal sang ayah ternyata sudah renta, Dan Ia
bekerja penuh semangat.

Kagum, Raja menghampirinya. Seraya mengucap salam, Raja bertanya
"Wahai orangtua, engkau demikian bersemangat sekali. Apa yang engkau
tanam?"

"Saya sedang menanam pohon zaitun" jawab sang Kakek. "Sebanyak ini?

Untuk apa? Lagipula, bukankah pohon zaitun baru berbuah 6-7 tahun
kemudian ? Melihat usia Kakek, mungkin Kakek tidak bisa lagi mengunyah
dan menikmati buahnya, lantas apa untungnya?" Raja semakin heran.

"Tuan mengajukan pertanyaan yang sama seperti anak saya" ujar sang
kakek sambil menghela napas. "Tuan mungkin telah berjumpa dengan anak
saya, ia anak yang baik, walau ia tak mengerti sepenuhnya alasan saya,
tapi ia tetap membantu karena tak ingin saya mengerjakan semuanya
sendirian".

"Tuan, saya memang tidak berniat untuk merasakan manfaat dari pohon
yang saya tanam ini. Saat pohon ini berbuah, belum tentu saya masih
hidup. Saya menanam pohon-pohon ini, karena buah zaitun yang selama
ini saya nikmati juga berasal dari pohon yang ditanam oleh orang
sebelum saya. Saya ingin membalas kebaikan mereka dengan menanam
kebaikan yang sama. Membayangkan buah zaitun yang berlimpah yang bisa
dinikmati banyak keluarga, pohon yang hijau & rindang yang memberikan
naungan dari terik dan hujan, minyak zaitun yang memberi manfaat,
semua itu membuat saya bersemangat untuk menanam pohon sebanyak yang
saya bisa".

Raja tercenung mendengar jawaban sang kakek. Ia tak hanya melihat
ketulusan dan kebaikan hati sang Kakek, ia juga melihat perbedaan
motivasi yang menggerakkan sang Pemuda dan Ayahnya itu. Sementara sang
Pemuda melihat pekerjaan tsb sebagai beban yang harus ditanggungnya,
Ayahnya terdorong oleh gambaran indah dari hasil yang akan dicapainya.

Diakuinya, ia juga melakukan hal yang serupa dengan sang Pemuda.

Walau ia berusaha memerintah dengan sebaik-baiknya, itu semua
dilakukan untuk menghormati kebesaran Ayahnya, Raja terdahulu dan agar
warisan Ayahnya tetap terjaga dengan baik. Itu semua adalah beban yang
harus ditanggungnya sebagai penerus tahta..

Tapi, kini ia bisa melihat bahwa semuanya terserah dirinya, apakah ia
memilih melihatnya sebagai beban, atau fokus pada gambaran indah yang
bisa dicapainya.

Raja tersenyum dan berkata "Wahai Orang Tua, ketahuilah bahwa aku
sebenarnya adalah Rajamu. Kebaikanmu telah mengajarkan aku. Sebagai
ungkapan rasa terima kasihku, terimalah hadiah dariku" lantas ia
memberikan sekantung uang dirham kepada sang Kakek.

Dengan hormat, Kakek itu menerima hadiah tersebut, tersenyum dan
berkata "Wahai Tuan Raja, tadi engkau bertanya "apa untungnya".

Lihatlah, belum juga selesai hamba menanam, walau bukan buah dari
pohon yg saya tanam, Allah telah memberi rizki satu kantung uang
melalui tangan Paduka".

Raja kembali tertegun, Ia memang tidak percaya apa yang disebut
"kebetulan", karena kebetulan hanya mungkin timbul dari
ketidakteraturan murni (pure chaos),sementara pengalamannya
mengajarkan bahwa problem paling kusut pun memiliki pola-pola
keteraturan yang memungkinkannya untuk diuraikan. Bukanlah kebetulan
kalau hari ini ia bertemu orang tua istimewa itu, dan bukanlah
kebetulan pula jika kebaikannya diganjar sepundi uang melalui
perantaraan dirinya. Ia lantas memeluk kakek itu. "Terima kasih atas
pengajaran tuan" ujarnya.

Hari itu juga Raja kembali ke istana, langkahnya ringan dan hatinya
senang. Tekadnya makin mantap, untuk segera menanam kebaikan-demi
kebaikan.

Moral of the Story :

- Adalah Keputusanmu, Pilihanmu sendiri, apakah Hidup untuk 
Menanggung Beban, atau Mengejar Tujuan.

- Kebaikan yang engkau terima saat ini, bisa jadi adalah buah dari
kebaikan orang-orang sebelum kamu.

- Jika engkau berbuat baik, Allah akan membalasnya - walau bukan dalam
bentuk kebaikan yang sama - bahkan ketika engkau belum menyelesaikan
perbuatan baikmu.

 

________________________________

** 



“This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee 
and could contain information that is confidential; If you are not the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or 
dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you 
should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the 
views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer 
viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus 
and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient 
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of 
e-mail transmission through Internet”

<<image001.jpg>>

Kirim email ke