Bagi yang sudah membaca, boleh baca lagi ...


Perang Agama, Ras, atau Apa?

Emha Ainun Nadjib

Israel memang nyusahin. Kita semua jadi repot. Harus demo, harus mengutuk,
harus wiridan. Qunut nazilah. Diskusi sana-sini. Belum keluar duitnya. Utus
orang untuk bantu penanganan kesehatan. Macam-macam. Anda semua juga pasti
jadi repot. Ngerusak acara. Ngaco irama. Program kita jadi ekstra ini-itu.
Hati jadi rusuh. Pikiran mesti menanggung beban dan mengolah hal-hal yang
mestinya tak perlu. Saya diserbu SMS. Ada yang info saja, ada yang
mobilisasi. Ada yang menuntut supaya saya turut menyatakan kutukan,
seolah-olah ada yang tertarik memerlukan kutukan saya. Lebih-lebih lagi
seakan-akan kutukan saya akan mampu mengubah arah terbangnya nyamuk.

"Kenapa sih Cak kok semua pembicaraan tentang penyerbuan Israel ke Gaza
hanya satu saja temanya: kekejaman?" kata sepotong SMS.

Saya jawab dengan jengkel, "Pertama, kok nanya saya? Kedua, emang saya tahu
apa tentang itu? Ketiga, orang lagi perang, kita diskusi."

"Kenapa tidak ada analisis yang agak luas, yang historis-komprehensif
tentang segala hal yang melatarbelakangi konflik itu."

"Walah! Mana saya paham...."

"Kan harus diperjelas oleh kita semua bahwa konflik Israel-Palestina itu
konflik ras, konflik agama, atau apa? Kalau ras, kan banyak juga warga
Palestina yang beragama Nasrani. Apakah ini perang agama Yahudi melawan
Islam-Kristen? Kalau ya demikian, mestinya semua umat Islam di dunia
bahu-membahu dengan semua umat Protestan dan Katolik melawan Yahudi. Hancur
dong Israel ngelawan Arab Saudi dan negara-negara Islam lain, Indonesia,
gabung sama Amerika, Jerman, Inggris dll. Dengan catatan bahwa agama
mayoritas penduduk menentukan sikap pemerintahnya."

"Ya, lantas?"

"Orang beragama Yahudi kan juga tidak hanya ada di Israel, tapi juga di
mana-mana, terutama negara-negara Barat, bahkan di Amerika Serikat banyak
menguasai berbagai kunci strategis di bidang politik dan perekonomian.
Berarti akan terjadi multikonflik di berbagai negara ndak karu-karuan di
antara pemeluk tiga agama itu, kecuali Indonesia...."

Saya goda, "Indonesia tak kalah serem konflik internalnya. Kan Yahudi itu
bukan tidak ada di Indonesia. Jewish mirip-mirip Jawa, J dan W-nya. Ibu kota
Israel saja Java Tel Aviv. Banyak kantor Yahudi di negara-negara Barat
selalu pakai kata "Java". Ukiran hias di mahkota para rabi Yahudi mirip
ukiran pintu bagian atas di sejumlah tempat pesisir utara Pulau Jawa.
Makanya, kalau memang Israel jantan dan punya nyali, suruh serbu Indonesia,
ayo kalau berani!"

"Saya serius, Cak."

"Saya juga serius. Kalau Israel berani nyerang kita, persoalan PHK menjadi
beres. Jutaan orang yang tak punya kerjaan, jadi punya kerjaan. Pasti senang
teman-teman itu kalau ada situasi perang. Hidup nggak ada harapan kok
ditantang berkelahi, ya ayo!"

"Jadi, menurut Cak Nun, itu perang agama atau bukan?"

"Emang saya ahli Timur Tengah? Pakar agama? Nyang bener aje...."

"Atau perang ras?"

"Kalau saya sih ndak penting ras, agama, atau apa pun, pokoknya tidak
perang."

"Kalau ras, kayaknya nggak juga. Kan di Israel sendiri ada demo menentang
keputusan perdana menteri mereka yang memutuskan penyerbuan itu. Orang
Yahudi kan tidak semua Zionis. Banyak juga orang Yahudi yang anti-Zionisme,
baik dari kalangan Yahudi Askinazim maupun Sepharadim. Bahkan bukan tidak
ada orang Yahudi yang beragama Kristen atau Islam. Atau malah jangan-jangan
ada juga Yahudi beragama Kristen atau Islam tapi pro-Zionisme."

"Anda ini bingung kok ngajak-ngajak saya!"

"Saya ini mau tahu itu sebenarnya konflik apa? Kok nggak ada ujungnya, nggak
ada selesainya, kayaknya sepanjang masa."

"Salah alamat kalau nanya ke saya. Yang paling efektif dan produktif,
bertanya kepada Tuhan."

"Apa urusannya ama Tuhan?"

"Lho, cacing saja punya garis keterkaitan yang logis rasional dengan Tuhan."

"Emang Tuhan mungkin terlibat dalam peperangan?"

Saya jadi gatal ingin menggoda lebih lanjut. "Kan seolah-olah Tuhan
menggambarkan bahwa kehidupan ini begini: Ia memperjalankan manusia di malam
hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kan begitu di Surah Al-Isro.
Hidup ini ulang-alik berdialektika dari dan di antara kegembiraan dan duka,
di antara cahaya dan kegelapan, di antara yang menyenangkan dan yang
menyusahkan, di antara yang bikin hati semringah dengan yang bikin hati
gerah. Kalau ingat Masjidil Haram, hati senang. Lantas ingat Masjidil Aqsa,
hati jadi rusuh lagi. Dan itu semua berlangsung di malam hari. Artinya hidup
ini kegelapan: kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit
mendatang. Apa kita penjual nasi, sopir taksi, pengusaha besar, pejabat
tinggi, atau siapa pun: tidak tahu persis dagangan kita laku berapa, saham
kita anjlok atau tidak, di depan sana ada calon penumpang nyegat taksi saya
atau tidak. Hidup adalah malam hari. Dan seluruh SMS Anda itu seratus persen
mencampakkan saya ke kegelapan malam...."

"Gini aja, deh," kata SMS itu lagi, "kenapa sih kok Arab Saudi dan
negara-negara Arab Islam tetangga Palestina tidak ngebantuin? Bahkan Iran
yang dulu mengancam akan kirim rudal, nggak juga sampai sekarang."

"Mau saya teleponkan Pak Ahmadinejad sekarang?"

"Saya serius, Cak"

"Saya tidak hanya serius mikirin Palestina, tapi juga makin stres mikirin
pulsa....". (Sumber: Koran Tempo, 6 Januari 2009)

Kirim email ke