**
 **
 **
*DUSTA*
 ------------------------------

Membiarkan berkembangnya sesuatu yang berpengaruh buruk adalah kesalahan
serius. Ibarat penyakit menular, jika dibiarkan ia akan semakin banyak
memakan korban. Ibarat sel kanker, jika sudah berkembang hingga ke stadium
lanjut, ia akan semakin sukar dilumpuhkan. Ibarat kebiasaan buruk, jika
dibiarkan sejak anak-anak akan menjadi watak yang buruk. Daya rusaknya sudah
terlampau kuat untuk dihambat. Satu satunya cara mengatasi hanya dengan
mencegah atau memberantasnya selagi masih dini.

Gereja di zaman para rasul tentu masih amat "muda". Tugasnya adalah menjadi
saksi kebenaran injil Yesus Kristus. Dalam pengadilan di masa itu, kebenaran
sebuah kesaksian harus dikukuhkan oleh dua orang saksi. Jadi, banyak murid
diutus berpasangan-seperti Petrus dan Yohanes atau Paulus dan Barnabas-untuk
meneguhkan kebenaran injil. Dusta adalah dosa yang bertolak belakang dengan
tugas menjadi saksi. Menjadi saksi harus berkata benar. Oleh sebab itu,
ketika ada dua orang murid bersepakat dalam sebuah dusta, mereka dihukum
dengan amat serius untuk menjadi peringatan bagi semua orang. Sebab seorang
saksi tak mungkin berkompromi dengan dusta. Itulah sebabnya kita tertegun
membaca tentang hukuman berat yang harus dialami oleh pasangan Ananias dan
Safira.

Ada hal-hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa dikompromikan, sebab sejak
dari akarnya sudah bertolak belakang. Termasuk dusta melawan kebenaran. Jika
kebiasaan buruk berdusta dibiarkan, ia akan menjadi bencana di kemudian
hari. Kita harus bersikap tegas terhadapnya.

               ~~ TIADA CARA LAIN UNTUK MEMERANGI DUSTA SELAIN MEMANGKASNYA
SEDINI DAN SESERIUS MUNGKIN ~~


 ------------------------------
 *Sumber: **Renungan Harian* <http://www.renunganharian.net/>
*Penulis: Pipi Agus Dhali*

<<Amsal 3~32.jpg>>

BEGIN:VCARD
VERSION:2.1
N:;GBU
FN:GBU
EMAIL;PREF;INTERNET:g...@always
REV:20090217T212441Z
END:VCARD

Attachment: diduniayangpenuhcemar1.mid
Description: MIDI audio

Kirim email ke