--- On Fri, 26/6/09, Andry Pakan <[email protected]> wrote:


From: Andry Pakan <[email protected]>
Subject: [FDA] Fw: Surat Para Uskup & Surat PGI
To: [email protected], "FDA" <[email protected]>
Received: Friday, 26 June, 2009, 10:09 AM






Salut kepada KWI dan umat Katolik yang taat kepada gembala dan pimpinan gereja.
Mereka tahu membedakan dan mengedepankan hal-hal fundamental dalam kehidupan 
berbangsa bernegara
serta memperjuangkannya secara elegan.
Tidak seperti sejumlah orang protestan yang lebih peduli dan meributkan
bahkan memperjuangkan antara lain lewat milis  hal-hal yang bukan
merupakan yang terutama dan yang pertama. 
Hal-hal yang fundamental tsb juga terdapat dalam Surat Penggembalaan PGI 
(copy-paste tertera di bawah).
-andry-
 
Surat Para Uskup :


> JAKARTA,- Menanggapi keinginan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto tentang aspirasi 
> umat Katolik, Sekjen Konferensi Wali Gereja Indonesia Mgr Sutrisno Atmoko MSF 
> langsung membacakan surat dari para uskup se-Indonesia.
> 
> Surat bertanggal 30 Mei 2009 itu berisi enam hal yang kerap menjadi 
> keprihatinan umat Katolik, karena dinilai dapat menghadang kemajuan bangsa. 
> Bagian akhir surat itu bahkan dengan tegas meminta kepada presiden dan wakil 
> presiden terpilih nantinya untuk membatalkan 151 peraturan daerah (perda) 
> yang dinilai bertentangan dengan Pancasila.
> 
> "Peraturan-peraturan ini bagaikan puncak karang yang secara kasat mata 
> menghadang bahtera bangsa kita. Untuk menjaga keutuhan NKRI, kami 
> menganjurkan kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk membatalkan 
> 151 Perda ini serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundangan yang 
> bertentangan dengan konstitusi," kata Mgr Sutrisno Atmoko yang juga Uskup 
> Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kepada pasangan capres-cawapres JK-Wiranto 
> yang bertandang ke KWI Selasa (9/6) sore ini.
> 
> Mgr Sutrisno juga mengatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden terpilih, 
> siapa pun orangnya nanti, adalah nakhoda, orang-orang yang bertanggung jawab 
> untuk memimpin bangsa. Oleh karena itu, kehendak baik dan tindakan-tindakan 
> yang terorganisir hendaknya yang selalu dikembangkan.
> 
> Enam hal
> 
> Ada pun enam hal yang menjadi keprihatinan Umat Katolik selama ini dan harus 
> menjadi perhatian para capres dan cawapres itu adalah:
> 
> 1. Pengabaian pilar-pilar bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal 
> Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut para Uskup, selama 
> ini pilar-pilar tersebut digerogoti oleh mereka yang sebenarnya diharapkan 
> untuk mempertahankannya. Dari luar terlihat utuh, tetapi di dalamnya rusak.
> 
> 2. Pendidikan yang tidak mencerdaskan. Menurut para Uskup, perlu perbaikan 
> sistem pendidikan untuk saat ini. Selama biaya pendidikan masih mahal tapi 
> bermutu rendah, maka Indonesia berada dalam bahaya pembodohan massal. Para 
> Uskup juga meminta pemerintah memberi kebebasan dan dukungan kepada 
> lembaga-lembaga swasta yang selama ini sudah membantu secara aktif dalam 
> pendidikan, dengan memberikan fasilitas dan kebebasan untuk ikut menentukan 
> sistem pendidikan nasional.
> 
> 3. Lemahnya penegakan hukum. Pemerintah dipandang perlu meningkatkan 
> kredibilitasnya dengan mengagendakan pemberantasan korupsi, kolusi, 
> nepotisme, premanisme dan melindungi hak-hak sipil, politik, ekonomi, budaya, 
> serta menindak pelanggaran HAM. Pemerintah juga diminta menjamin hak asasi 
> setia warga negaranya, terutama para buruh dan perempuan.
> 
> 4. Pengrusakan lingkungan hidup. Hutan-hutan Indonesia memang kerap mengalami 
> pengrusakan selama satu dasawarsa ini. Padahal pengrusakan lingkungan hidup 
> melanggar hak hidup sekuruh ciptaan.
> 
> 5. Kesenjangan tingkat kesejahteraan. Menurut para Uskup, kemiskinan begitu 
> mencolok. Jurang kaya dan miskin tidak dapat lagi disembunyikan. Busung lapar 
> kerap terjadi dan tidak ada kehendak kuat dari pemerintah untuk mencabut 
> akar-akar kemiskinan.
> 
> 6. Penyalahgunaan simbol agama. Menurut para Uskup, agama dan budaya adalah 
> kekuatan bangsa Indonesia. Tapi sayangnya, agama kerap digunakan untuk 
> hal-hal di luar itu. Sering digunakan justru untuk membedakan dan menindas 
> yang lain.





SURAT PENGGEMBALAAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
DALAM RANGKA PEMILIHAN PRESIDEN R.I. 2009


Saudara-saudara warga Gereja anggota PGI di mana pun berada,

Salam dalam kasih Yesus Kristus Juruselamat dunia,

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 8 Juli 2009 makin mendekat, dan 
kampanye Pilpres sedang berlangsung. Kita bersyukur sebab demokrasi berada 
dalam proses pertumbuhan, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi sehingga 
demokrasi tidak sekadar memenuhi prosedur yang ada, tetapi sungguh-sungguh 
memperhatikan dan merefleksikan nilai-nilai yang tercantum didalam Pancasila 
dan UUD 1945.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Gereja-gereja anggotanya 
bukanlah partai politik atau organisasi yang menjalankan politik praktis, yaitu 
politik yang berusaha merebut kekuasaan dalam negara. Politik Gereja (baca: 
PGI) adalah politik moral atau yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan moral 
atau suara kenabian di tengah zaman. Dalam kaitan itu PGI dan Gereja-gereja 
ikut bertanggung-jawab dalam kehidupan bersama didalam polis (negara) 
Indonesia. Orang Kristen Indonesia sebagai bagian integral bangsa harus mampu 
hidup bersama secara proaktif didalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Nabi Yeremia menyampaikan kepada Umat Israel yang sedang berada dalam tawanan 
di Babilonia sebagai berikut: 

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota 
itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). 
Atas dasar itu, kita tidak boleh bersikap pasif menghadapi Pilpres ini, sebab 
agenda politik ini adalah salah satu upaya penting pembangunan politik bagi 
kesejahteraan bersama. Di dalam menghadapi Pilpres ini, kami ingin menyampaikan 
pesan Alkitab bagaimana memilih seorang pemimpin: “Di samping itu kau carilah 
dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, 
orang-orang yang dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran suap…” (Kel. 
18:21).

Maka berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, kami ingin menyampaikan 
kepada saudara-saudara agar kita memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 
pada Pemilihan Presiden yang akan datang dengan arahan-arahan sbb:

Pemimpin yang kita harapkan ialah mereka yang cakap, yakni mempunyai kemampuan 
dan keterampilan untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia terutama yang cakap 
dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang masih dihimpit oleh belenggu 
kemiskinan. 

Pemimpin yang kita cari ialah pemimpin yang takut akan Tuhan, yaitu pemimpin 
yang menjalankan tugasnya dengan mengandalkan kekuatan moral, menjauhkan diri 
dari kebohongan dan segala bentuk manipulasi politik.

Pemimpin yang akan kita pilih ialah mereka yang dapat dipercaya yaitu mereka 
yang terbukti melakukan apa yang dia ucapkan. Telusurilah rekam jejak setiap 
kandidat sehingga saudara dapat mengetahui siapa dari antara mereka yang dapat 
dipercaya dan siapa yang tidak.


Pemimpin yang kita butuhkan ialah mereka yang benci kepada pengejaran suap 
yaitu mereka yang selain jujur dan tidak korupsi, mereka juga harus bertekad 
untuk memberantas korupsi yang menghancurkan per-ekonomian Negara ini.

Pemimpin yang kita akan pilih ialah mereka yang tetap mempertahankan Pancasila 
dan nilai-nilai yang ter-kandung di dalamnya sebagai acuan kehidupan 
ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. Presiden dan Wakil Presiden haruslah 
sungguh-sungguh mempunyai komitmen teguh kepada Pancasila, UUD 1945, Negara 
Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (masyarakat majemuk, setara dan 
bersatu), dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dampak Pilpres 2009 ini tidak hanya untuk periode 2009-2014 saja, melainkan 
berdurasi sangat panjang yang ikut menentukan nasib bangsa kita di masa depan. 
Salah memilih berarti membawa bangsa ini kepada penyimpangan yang berakibat 
fatal bagi kelestarian bangsa. 

Kita memilih bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden, melainkan juga bangunan 
koalisi yang ada di belakangnya. Saudara-saudara harus melihat dengan jeli 
manakah dari pasangan koalisi itu yang tidak secara jelas menjadikan Pancasila 
sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan ideologi yang 
lain.

Saudara-saudara perlu memperhatikan sikap partai-partai politik selama ini yang 
tidak tegas menolak Undang-undang yang cenderung diskriminatif, seperti UU 
Pornografi dan Perda-perda yang diskrimnitif di berbagai daerah.

Saudara-saudara juga perlu jeli untuk melihat bagaimana sikap partai-partai 
politik terhadap kebebasan beragama dan 
berkeyakinan di Indonesia selama 4-5 tahun terakhir ini. Apakah golongan 
Kristen misalnya di beberapa tempat mempunyai kebebasan untuk mendirikan 
gedung-gedung ibadah atau malah sering dihambat, sedangkan tindakan konkret 
Pemerintah hampir tidak terlihat.

Pada akhirnya kami ingin menyatakan bahwa visi pembangunan bangsa kita bukan 
hanya untuk lima tahun mendatang, melainkan jauh melampauinya. Maka yang 
terutama adalah bagaimana membangun sistem demokrasi yang sehat, bukan sekedar 
kalah/menang dalam Pilpres. 

Kiranya Tuhan membimbing saudara-saudara di dalam menentukan pilihan yang tepat 
bagi bangsa ini. Tuhan menyertai saudara-saudara.

Jakarta, Medio Juni 2009

Atas nama,
Majelis Pekerja Harian
Persekutuan gereja-gereja di Indonesia

Pdt Dr AA Yewangoe, Ketua Umum
Pdt Dr Richard Daulay, Sekretaris Umum



 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google "Forum 
Diskusi Alumni" grup. 
Untuk mengirim pesan ke grup ini, kirim email ke 
[email protected] 
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke 
[email protected] 
Untuk pilihan lainnya, lihat grup ini pada 
http://groups.google.com/group/Forum-Diskusi-Alumni?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---




      Access Yahoo!7 Mail on your mobile. Anytime. Anywhere.
Show me how: http://au.mobile.yahoo.com/mail

Kirim email ke