TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN “Saat kita ingin marah, carilah penyebabnya, apakah kita marah karena bereaksi terhadap dosa yang perlu diluruskan atau kita marah karena ketersinggungan pribadi”
|||||||||||||||||||||||||||||||||||| e...@il Dari TUHAN Anak-Ku , Rasa takut merupakan suatu perasaan yang paling merusak dan melumpuhkan di dunia. Ia dapat mencegahmu mewujudkan impian-impianmu - yaitu melakukan hal-hal yang membuatmu paling berbahagia. Rasa takut menyerang manusia dalam cara yang berbeda-beda. Sejumlah orang takut akan kegagalan; beberapa takut akan keberhasilan. Beberapa takut mati, yang lainnya takut hidup. Sejumlah orang takut akan kritik yang mencegah mereka bergerak maju menuju impian-impian mereka. Kuberitahukan kepadamu suatu rahasia yang akan membebaskan hidupmu dari ketakutan. Hati yang dipenuhi dengan kasih tidaklah mempunyai ruang untuk ketakutan. Ketika kasih-Ku menerobos masuk dan mengambil alih, rasa takut harus pergi dan menemukan tempat lain untuk bernaung. Oleh sebab itu, biarlah Aku memenuhimu dengan kasih-Ku dan lihatlah bagaimana ketakutanmu menghilang. Kasih merupakan keahlian-Ku Salam penuh kasih, Tuhan Di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Karena ketakutan itu mengerikan, kehidupan yang penuh ketakutan - takut akan kematian, takut akan penghakiman, berarti tidak sempurna dalam kasih (1 Yohanes 4:18) |||||| sumber: http://www.terangdunia.com// |||||| TEGUH MENENTANG DUNIA 1 Yohanes 4:4-6 Rabu, 15 Juli 2009 Suatu contoh tentang gerakan antikristus adalah kampanye yang menghilangkan simbol-simbol kekristenan dari tempat umum. Para pengacara mendukung ungkapan “kebebasan beragama” (dan yang dimaksud mereka adalah kebebasan dari agama), dan mereka yang mendengarkan – termasuk beberapa orang percaya – ikut dibodohi dengan menyetujui bahwa beribadah itu harus bersifat pribadi. Motif yang tidak kentara seringkali luput dari perhatian: untuk menyingkirkan Yesus dari masyarakat. Dunia menganggap Yesus itu bersifat menghina. Banyak orang pada masa kini mengklaim bahwa setiap kita dapat menciptakan sistem kepercayaan kita sendiri. Namun Yesus berkata bahwa iman kepada-Nya merupakan satu-satunya jalan untuk berhubungan dengan Bapa (Yohanes 10:9). Gagasan duniawi lainnya adalah melakukan apa yang dirasa benar itu sah-sah saja, selama tidak ada yang dilukai. Namun Yesus mengajarkan bahwa dosa – segala tindakan, pikiran atau sikap yang bertentangan dengan prinsip Allah – mengandung konsekuensi. Filosifi antikristus seringkali akan terdengar persuasif sebab setan membuat kebohongan yang menarik hati manusia. Karena itu, orang percaya harus dapat membedakan benar dan salah. Tuhan telah memberikan 3 tuntunan untuk menjalani hidup dengan selamat. Pertama, Roh Kudus memampukan kita untuk membedakan fakta Allah dengan fiksi setan. Kemudian, Firman Tuhan menjelaskan kebenaran mengenai Tritunggal dan rancangan Tuhan bagi umat manusia. Yang terakhir, kita memiliki akses kepada orang-orang kudus yang memberitakan dan mengajar tentang kekristenan yang otentik. Jikapun seandainya orang tidak percaya mencoba untuk menghapus nama Yesus Kristus dari masyarakat, mereka tidak dapat menghilangkan semua pengikut-Nya. Selama kita teguh berdiri berlandaskan Firman Tuhan dan memberitakan Injil, Allah dapat bekerja melalui kita dan memenangkan jiwa-jiwa bagi kemuliaan-Nya. |||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ |||||| Setia dalam Kekosongan Bacaan hari ini: Rut 1 Ayat mas hari ini: Rut 1:16 Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 25-27 ”Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan. Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit? Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan berada—Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi “pergi dengan tangan penuh” (1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin—”tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Di sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”. Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia. Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih Penulis: Riand Yovindra |||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ |||||| [Non-text portions of this message have been removed]
