TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN
“Sadarilah! bagi orang dunia masalah adalah awal dari kejatuhan, sedangkan
bagi orang percaya masalah adalah awal pengalaman untuk bersama Tuhan”

||||||||||||||||||||||||||||||||||||

e...@il Dari TUHAN

Anak-Ku ,
Mungkin kamu pikir Yesus takkan pernah terluka perasaan-Nya. Mungkin kamu
pikir Ia malah tak punya perasaan sepertimu karena Ia adalah Tuhan.
Nah, Ia memang Tuhan, namun Ia juga manusia, sehingga Ia merasa dilukai dan
ditolak ketika orang bersikap kasar terhadap-Nya. Aku memberitahumu lagi:
Jika orang menyakiti-Nya, mereka menyakiti-Ku juga. Itu juga berlaku
terhadapmu. jika orang menyakitimu, mereka menyakiti-Ku. Jika hatimu hancur,
hati-Ku juga hancur.
Oleh karena itu, pada suatu hari dari hari-hari yang sungguh-sungguh tak
enak, ketika kamu merasa bahwa hatimu ditendang bagaikan bola kaki dan tiada
orang yang peduli, ingatlah Aku peduli. Datanglah kepada-Ku, dan Aku akan
menghiburmu sama seperti Aku menghibur Yesus. Aku berada disini untuk mu.
Penghiburmu,
Tuhan
Ia dihina dan dihindari orang, seseorang yang penuh kesengsaraan dan yang
biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya
terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan (Yesaya 53:3)
|||||| sumber:  http://www.terangdunia.com// ||||||
MERENUNGKAN KESETIAAN TUHAN
Ratapan 3:22-23
Kamis, 16 Juli 2009

Bapa kita di surga selalu setia akan janjiNya. Kita dapat yakin akan hal ini
sebab Ia membuat janji itu berdasarkan karakterNya yang tidak pernah berubah
(Ibrani 6:13-14) serta anakNya Yesus Kristus.

Selama bertahun-tahun, saya telah mendapatkan berkat dari kesetiaan Tuhan
atas FirmanNya. Contohnya, Roma 10:13 berkata, “Sebab,barangsiapa yang
berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Pada usia 12 tahun, saya
percaya bahwa Yesus adalah juruselamat saya. Meskipun saya tidak mengetahui
isi alkitab, saya menyadari bahwa saya orang berdosa. Begitu saya percaya
bahwa Tuhan mengampuni dosa saya, Ia telah menyelamatkan saya, seperti yang
dikatakan FirmanNya.

Pada usia 14 Tahun, saya mulai berpikiran tentang masa depan saya dan
bertanya-tanya tentang jalan apa yang akan saya ambil. Dengan berlandaskan
pada janji Tuhan, saya percaya bahwa Ia akan memberitahu saya dan akan
menyatakan rancanganNya atas hidup saya(Mazmur16:11).

Pada suatu waktu Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa  Ia menghendaki saya
untuk menjadi pengkhotbah sehingga saya mulai  mengumpulkan uang untuk
kuliah. Sumber penghasilan saya adalah sebagai pengantar Koran, yang artinya
tabungan saya bertambah hanya dengan  upah yang kecil. Ketika saya meliha
jumlah tabungan saya, saya berpikir bahwa saya tidak akan mampu untuk
mendaftar kuliah.

Kemudian Tuhan membuat Amsal 3:5-6 menjadi nyata dalam hidup saya. Ia
mengatur serangkaian peristiwa yang membawa saya menerima beasiswa penuh.
Bila saya bergantung pada pemikiran saya sendiri, saya mungkin sudah
meninggalkan impian saya untuk kuliah. Karena saya percaya kepadanya, Ia
menyediakan apa yang saya perlukan untuk menggenapi rancanganNya.

Renungkan bagaimana Tuhan telah bekerja dalam hidup anda. Kesaksian apa yang
dapat Anda berikan mengenai kesetiaanNya kepada anda.
|||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ ||||||

Memeriksa Diri Sendiri

Bacaan hari ini: Matius 3:1-12
Ayat mas hari ini: Matius 3:8
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 28-30

Dalam sebuah seminar, para peserta diberi lembar “evaluasi narasumber”.
Dengan antusias, peserta mengungkap hal-hal positif maupun negatif yang
perlu ditingkatkan sang narasumber. Evaluasi memang sangat bermanfaat jika
dipandang sebagai “cermin” untuk meningkatkan kualitas kinerja seseorang.
Namun, pernahkah kita mengevaluasi diri sendiri, untuk melihat berapa banyak
kebenaran yang sudah atau belum kita lakukan? Atau, kita lebih suka
mengevaluasi orang lain?

Yohanes Pembaptis dipakai Tuhan untuk menyerukan “... hasilkanlah buah yang
sesuai dengan pertobatan” (ayat 8). Sangat menarik bahwa kalimat ini ia
katakan di depan orang-orang Farisi dan Saduki yang sudah mengenal hukum
Taurat. Mereka datang kepada Yohanes untuk dibaptis (ayat 7). Di situlah
Yohanes mengingatkan mereka agar berbuah, sesuai pertobatan mereka.
Seseorang yang mengaku telah bertobat, tidak boleh pasif atau tidak berbuah.
Justru pertobatan itu harus mendorongnya untuk senantiasa menghasilkan buah
pertobatan, yaitu perkataan dan perbuatan yang mewartakan kasih Tuhan.. Kita
diminta senantiasa berbuah, apa pun keadaan kita. Respons yang benar
bukanlah menawar atau mengajukan beribu alasan untuk tidak berbuah,
melainkan taat untuk berbuah. Dan di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana
dapat Dia jadikan berkat bagi orang lain.

Maka, satu hal yang perlu kita lakukan: belajar berani mengevaluasi diri.
Tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah saya berbuah? Apakah yang saya berikan
hari ini adalah perkataan dan perbuatan yang meninggikan nama Tuhan, atau
diri sendiri? Kiranya kita didorong untuk melakukan yang lebih baik bagi
Tuhan dan sesama.
Sejak kita bertobat, sebuah tugas melekat. Yakni untuk terus berbuah, hingga
hanya Kristus yang disembah

Penulis: Helen Aramada Setyoputri
|||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ ||||||


[Non-text portions of this message have been removed]


Kirim email ke