TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN “Dengan menghitung hari-hari dalam hidup kita, maka kita akan senantiasa kagum dan bersyukur apabila melihat kebaikan Tuhan dan anugerahNya yang kita alami selama ini”
|||||||||||||||||||||||||||||||||||| e...@il Dari TUHAN Anak-Ku Tercinta, Andaikan kamu bisa memilih menjadi seorang pengemudi kapal selam atau pilot pesawat terbang, manakah yang kamu mau? Kebanyakan orang mengatakan mereka ingin menjadi seorang pilot, tetapi mengapa? Nah pemandangan tentu lebih bagus di pesawat terbang , kamu dapat mempunyai wawasan.. Kamu berada di atas segalanya, bukan dibawahnya. Apakah kamu pernah merasa seperti tenggelam dalam semua situasi hidupmu? Jikalau kamu merasakan suasana di bawah laut, Aku mau mengangkatmu dan memberimu sudut pandang tempat ketinggian terhadap hidupmu. Aku dapat melihat kedepan dan Aku mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Berbicaralah kepada-Ku, bertanyalah kepada-Ku, dan kemudian temukanlah jawaban-Ku di Alkitab. Sekali kamu mulai melihat bahwa Aku memegang kendali, kamu akan merasa terangkat. Biarlah Aku mengubah sudut pandangmu. Pemberi Kekuatan, Tuhan Ia memenuhi aku dengan kekuatan dan melindungi aku ke mana pun aku pergi. Ia memberi aku kelincahan kaki seperti rusa yang berdiri di atas bukit batu yang curam (Mazmur 18:32-33) |||||| sumber: http://www.terangdunia.com// |||||| BERTOLONG-TOLANGLAH MENANGGUNG BEBAN Galatia 6:1-2 Senin, 3 Agustus 2009 Yesus memerintahkan orang percaya untuk melanjutkan pekerjaanNya di bumi ini yaitu menyampaikan kabar baik tentang anugerah Allah yang menyelamatkan (Matius 28:19). Menaati perintah ini tidak mudah jika menjumpai orang yang gaya hidupnya tidak menyenangkan kita. Kita sering merasa lebih nyaman berteman dengan orang yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan kita. Tetapi orang yang terhilang juga perlu dipimpin kepada pemulihan melalui teman atau sahabat Kristen. Yesus pun bergaul dengan orang-orang yang disingkirkan masyarakat. Ia makan bersama para pemungut cukai (Matius 9:10; Lukas 19:5) dan menyampaikan berita pengharapan kepada perempuna yang berzinah (Yohanes 4:7-27). Dan kepada murid-murid maupun orang-orang Farisi yang terkejut melihat sikapNya, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa, Dia “datang bukan untuk orang benar, tetapi untuk orang berdosa (Markus 2:17)”. Di Amsal 29:6, dosa digambarkan seperti jerat yang mengikat korbannya. Dengan putus asa dan bingung, si korban yang terikat erat dengannya tidak tahu bagaimana caranya membebaskan diri. Tetapi orang percaya mengetahui caranya. Dan kita perlu menyampaikan berita itu sebagaimana dikatakan Paulus: “Kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh yang lemah lembut”. (Galatia 6:1). Kata Yunani untuk “memimpin ke jalan yang banar” (restore) mengacu pada kata yang berarti menata tulang-tulang, suatu proses yang sangat menyakitkan. Karena itu, kita perlu dengan lemah lembut mengarahkan orang berdosa kepada pengampunan dan kemurahan Allah serta pertolongan Roh Kudus dalam mengatasi pencobaan. Jika Yesus masih ada di bumi saat ini, Dia tentu melayani orang-orang yang menderita, kecanduan dan tertindas. Untuk menjadi seperti Yesus, marilah kita mendorong orang lain meninggalkan dosa supaya mereka terbebas dari cengkramannya. |||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ |||||| Pandanglah Langit di Atas Bacaan hari ini: Mazmur 19:2-7 Ayat mas hari ini: Mazmur 19:2 Bacaan Alkitab Setahun: Obaja Pada sebuah siang yang panas, Badu—sebut saja demikian, mengeluh kepanasan. Mukanya terlipat, tak ada senyuman. Baju kerjanya mulai basah oleh keringat. Ini memperpanjang daftar keluhannya. Sorenya—masih di hari yang sama, sekali lagi Badu mengeluh. Hujan turun sangat lebat disertai kilat, dan angin menusuk tubuhnya yang tak mengenakan jaket. Dalam hati ia berkata, “Tuhan, jangan berlebihan dong! Bukankah akan lebih baik jika tadi siang tak sepanas itu, dan sore ini tak sedingin ini?” Mungkin itu juga yang ada dalam hati kebanyakan orang saat merespons cuaca. Saat panas, mengeluh. Saat hujan, mengeluh. Mendung pun mengeluh. Astaga! Siapakah kita? Apakah kita memiliki kuasa untuk mengendalikan alam, sampai-sampai kita mengeluh terhadap apa yang Tuhan jadikan? Bukankah yang seharusnya terjadi adalah bersyukur atas semua hal, termasuk atas cuaca? Lihatlah pemazmur yang mengungkapkan kebesaran Allah, saat memandang ke langit. Ia bahkan menemukan tutur Sang Pencipta saat memandang cakrawala. Betapa luar biasa kepekaannya untuk mengerti pernyataan kemahakuasaan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya! Sungguh, ini acap disepelekan dan diabaikan manusia. Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita hidup di bawah kolong langit. Namun, sempatkah kita memandang langit hari ini? Mahakarya ilahi yang sayang untuk diabaikan begitu saja! Luangkan waktu sejenak untuk menikmati keindahan karya Tuhan dan bersyukur; entah pada saat panas, mendung, maupun hujan. Jangan terjebak pada keluhan, melainkan ingatlah Dia yang menciptakannya. Dan, mulailah bersyukur atas semua ini. SEPERTI TUHAN MENAUNGI KITA DENGAN LANGIT, DEMIKIANLAH DIA MENAUNGI KITA DENGAN KESETIAAN-NYA DARI HARI KE HARI Penulis: Helen Aramada Setyoputri |||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ |||||| [Non-text portions of this message have been removed]
