TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN

“Tanpa Tuhan Yesus kita tidak memiliki sesuatu yang kekal,
tidak ada yang dapat mengubah hidup kita, serta tidak ada yang dapat
menyelamatkan kita dari dosa”



||||||||||||||||||||||||||||||||||||

e...@il Dari TUHAN




Anak-Ku ,
Yesus sangatlah menderita. Tentara Romawi
mencambuk-Nya berulang kali membuat-Nya berdarah sampai hampir mati.
Kemudian
mereka menyuruh-Nya memikul sebuah balok kayu besar, tempat Ia kemudian
digantungkan dengan memukulkan paku-paku menembus kedua tangan dan kaki-Nya.
Di sanalah mereka meninggalkan-Nya, menderita berjam-jam di salib hingga Ia
mati pada akhirnya.
Mengapa? Mengapa Putra-Ku membiarkan mereka
menyiksa-Nya dengan cara yang begitu kejam? Karena kasih-Nya kepadamu. Ia
melakukannya suapaya kamu bisa lolos dari penghukuman atas kesalahanmu. Ia
melakukannya supaya kamu bisa tinggal di Surga bersama-sama dengan kami
selama-lamanya.
Di salib, Yesus mendapatkan kehidupan abadi
bagimu. Itu merupakan imbalan. Ambillah keuntungan itu!
Bapa dari yang Tersalib,

Tuhan
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh
karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita
ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yesaya
53:5)



|||||| sumber:  http://www..terangdunia.com// ||||||

MEMBUKA
KEDOK GURU-GURU PALSU

Matius 7:15-20

Rabu, 5 Agustus 2009



Penulis
Perjanjian Baru mengingatkan tentang pengajaran palsu yang kedengarannya
baik,
tetapi sebenarnya menentang kebenaran (2 Timotius 4:3; 1 Yohanes 4:1). Orang
percaya masa kini harus tetap memperhatikan peringatan ini! Pemimpin palsu
bisa
membelokan kebenaran dengan halus dan sangat meyakinkan, sehingga orang
Kristen
yang belum dewasa bisa termakan oleh kebohongannya. Itulah sebabnya Alkitab
memerintahkan kita untuk menguji pengajaran siapa pun yang hendak memimpin
kita
(Matius 7:20).



Guru palsu itu
penipu.. Ayat 15 dari bacaan kita hari ini menggambarkannya seperti serigala
berbulu domba. Ia muncul di hadapan orang-orang yang ingin mengenal
“kebenaran
sejati” tentang Allah dengan tafsiran Alkitab yang berisi kebohongan sejati
atau
campuran antara yang benar dan salah. Orang percaya bijak yang mempelajari
Firman Allah, bisa mendektesi “bulu domba” yang mulai mengelupas. Makin lama
serigala itu akan makin tampak, dari
kehidupan pribadinya yang tidak sesuai dengan kebenaran (Matius 7:16).
Pengamatan saksama terhadap berbagai
keputusan, tindakan dan perkataannya akan menyingkapkan bahwa ia tidak taat
pada kehendak Tuhan atau prinsip-prinsip Alkitab.



Kehidupan dan
ajaran guru palsu itu mementingkan diri sendiri. Ide-idenya yang hebat
memikat
keinginan daging pendengarnya. Sesungguhnya, ia sering menghalalkan
tindakan-tindakan yang dilarang Alkitab. Beberapa guru palsu menggambarkan
kasih karunia Allah sebagai izin untuk hidup tanpa pengendalian diri (Yudas
1:4)..  Paulus jelas mencela kebohongan
ini; ia justru mengajar orang percaya agar mati bagi dosa dan tidak hidup di
dalamnya (Roma 6:2).



Tubuh Kristus
diharapkan memakai Alkitab sebagai pedoman untuk menguji perkataan dan gaya
hidup para pemimpin. Jika kita mencari
kebenaran ilahi, kita akan diberi kepekaan untuk mengenal pengajaran yang
kudus
dari pengajar yang tidak sesat.

|||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/
||||||

Waspada Sejak Dini


Bacaan
hari ini: Kejadian 4:1-16

Ayat mas hari ini: Kejadian 4:7

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia
3-4






Dalam salah satu cerita Donal Bebek, pernah dikisahkan Donal yang bingung
untuk bertindak; bertindak baik atau bertindak buruk. Lalu muncullah dua
figur di kepalanya, yakni tokoh putih dan tokoh hitam. Kedua figur itu
mati-matian berusaha memengaruhi Donal agar memperhatikan dan mengikuti
nasihat
mereka yang pastilah berseberangan. Donal pun harus memilih, mana yang ia
ikuti: nasihat si tokoh putih atau hitam.

Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Kain yang iri dan marah kepada Habel
karena persembahannya tidak diindahkan Tuhan. Sangat mungkin ia juga merasa
malu, karena terjemahan bahasa Ibrani dari “muka muram” (ayat 6) adalah
“wajahnya jatuh”. Wajah jatuh berarti tak punya muka. Tak punya muka berarti
malu. Jadi, Kain menjadi iri, marah, dan sekaligus malu akibat Tuhan menolak
persembahannya. Akibatnya, Kain melampiaskan kemarahan dan rasa malu serta
iri hatinya kepada Habel, adiknya. Kain membunuh Habel. Ini bukan tanpa
peringatan Tuhan. Sebetulnya Tuhan sudah memperingatkan Kain, agar “berkuasa
atas dosa yang sudah mengintip di depan pintu” (ayat 7). Namun, agaknya
kuasa
dosa yang mengintip di pintu hati Kain yang marah dan malu itu terlalu besar
untuk dapat ia kuasai. Hasilnya tragis: Darah Habel tercurah ke tanah akibat
pembunuhan yang dilakukan oleh kakak kandungnya.

Godaan si jahat harus kita kalahkan sejak awal; sejak godaan itu masih
berupa
benih. Itu jauh lebih mudah daripada kita mencoba mengalahkannya ketika
godaan itu sudah menjadi pohon yang besar
DOSA BESAR BERAWAL DARI KEINGINAN KECIL


Penulis: Daniel K.
Listijabudi



|||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ ||||||



[Non-text portions of this message have been removed]


Kirim email ke