TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN “Kekuatan rohani tidaklah datang begitu saja tanpa latihan. Kita tidak mungkin menjadi umat Kristus yang kuat jika tidak rajin untuk membaca alkitab dan berdoa”
|||||||||||||||||||||||||||||||||||| e...@il Dari TUHAN Anak-Ku yang Tercinta, Bagaimanakah jika kau mengetahui bahwa sebuah pesta besar yang takkan berakhir telah direncanakan dan namamu terdaftar dalam daftar namu tamu? Tetapi sebelum musik dapat dimulai, sebelum minuman bisa disajikan, malah sebelum pesta bisa dimulai, terdapat hari-hari yang sungguh sengsara. Itulah gambaran yang betul-betul bagus tentang hal yang sedang berlangsung sekarang ini di dunia. Semua hal-hal yang buruk -- kejahatan dan kemiskinan -- membuat-Ku sedih. Semua masalah internasional -- perang dan kelaparan dunia -- menghancurkan hati-Ku. Tetapi Kuingin kamu mengetahui bahwa bagi mereka yang mengikuti-Ku, masa-masa sulit takkan berlangsung selamanya. Segera saja semuanya itu akan menjadi sejarah! Pesta yang tanpa akhir sudah dekat. Itu akan lebih menakjubkan daripada apa pun yang bayangkan! Maka bertahanlah melewati masa-masa sulit. Ada suatu pesta pada masa depanmu. Tuan Rumahmu, Tuhan Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan dimasa yang akan datang. Bahkan seluruh dunia juga tak sabar menunggu apa yang akan terjadi kemudian (Roma 8:18-19) |||||| sumber: http://www.terangdunia.com// |||||| BERUBAH MENJADI SERUPA KRISTUS 1 Korintus 15:45-49 Kamis, 15 Oktober 2009 Berubah menjadi seperti yang dikehendaki Allah itu tidak mudah (Efesus 4:31-32). Tetapi melalui pengorbanan PuteraNya, Bapa sudah membebaskan kita dari perbudakan dosa. Merenungkan yang sudah dilakukan Yesus untuk menjamin keselamatan kita (Filipi 2:6-8), akan memotivasi kita untuk menaati kehendakNya. Perubahan dimulai dari pikiran (Roma 12:2) karena cara berpikir kita mempengaruhi tindakan kita. Sementara Roh Kudus menolong kita mengenali dan mengubah sikap-sikap yang tidak benar, kita akan melihat perubahan pada perilaku kita . Dari cepat marah menjadi mudah mengampuni dan menggosip menjadi ingin berkata-kata yang positif dan membangun. Yang kita utamakan adalah mengikuti teladan Juruselamat. Bapa surgawi sudah memberi kita Alkitab dan penyertaan Roh Kudus untuk memimpin kita. Dia juga melengkapi kita dengan saudara-saudara dalam Kristus untuk mendukung dan membimbing kita. Orang percaya yang dewasan dapat mendeteksi hal-hal yang merintangi pertumbuhan kita dan menunjukan penyesuaian yang perlu kita lakukan. Mereka juga dapat mengenali karunia-karunia rohani dan bidang-bidang pelayanan yang mungkin kita abaikan. Saya sangat dipengaruhi oleh biografi orang-orang kudus seperti Oswald Chambers, Charles Spurgeon dan DL Moody. Saya melihat kualitas hidup yang saya inginkan pada diri mereka. Karekter seperti itu lalu banyak menjadi pokok-pokok doa saya. Menjadi serupa Yesus adalah proses seumur hidup. Mintalah Allah membuat anda bekerja sama denganNya dalam meningkatkan keserupaan dengan keluargaNya. |||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ |||||| Alasan untuk Memaafkan Bacaan hari ini: Matius 18:21-35 Ayat mas hari ini: Matius 6:12 Bacaan Alkitab Setahun: Matius 1-4 Di sebuah ruang pengadilan, seorang pemuda duduk di kursi terdakwa. Ia didakwa membunuh teman sebayanya. Sebelum hakim membaca keputusan, ia bertanya kepada ayah anak yang menjadi korban, “Pemuda ini terbukti bersalah telah membunuh putra Anda. Menurut Anda hukuman apa yang setimpal untuknya?” Bapak tua itu menjawab, “Pak Hakim, anak saya satu-satunya telah meninggal. Hukuman apa pun tidak akan mengembalikan hidupnya. Saya sangat mengasihinya, dan sekarang tidak punya siapa-siapa untuk saya kasihi. Tolong kirimkan terdakwa ke rumah saya, untuk menjadi anak saya.” Apa reaksi kita terhadap orang yang pernah menyakiti kita? Ingin menghukumnya? Mencoba untuk membuatnya merasakan penderitaan yang kita rasakan, bahkan kalau bisa lebih menderita; biar tahu rasa? Memaafkan memang bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Namun, begitulah yang Tuhan ingin kita lakukan (ayat 22). Lalu, bagaimana melaksanakan kehendak Tuhan itu di tengah keterbatasan kita? Pertama, sadari bahwa ibarat orang berutang, kita lebih punya banyak utang kepada Tuhan, daripada orang lain kepada kita. Dosa kita yang begitu banyak, oleh kasih Kristus lunas dibayar di kayu salib. Jadi, kalau utang kita yang segitu banyaknya sudah Tuhan bayar lunas, mengapa kita masih terus menuntut orang lain ”membayar” utangnya kepada kita (ayat 33)? Kedua, sadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian dalam hati hanya akan menimbulkan ketidaksejahteraan. Hanya menambah beban. Dengan memaafkan sebetulnya kita tengah berbuat baik kepada diri sendiri. Kekuatan seseorang terletak ketika ia bisa memaafkan orang yang menyakitinya Penulis: Ayub Yahya |||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ |||||| [Non-text portions of this message have been removed]
