TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEKALIAN “Pikiran merupakan daerah peperangan dalam hidup kita sehingga dapat menciptakan tekanan. Karena itu carilah waktu untuk membagikan pikiran kita kepada Tuhan”
|||||||||||||||||||||||||||||||||||| e...@il Dari TUHAN Anak-Ku , Kadang kala godaan untuk putus asa sangatlah marak. Jika kamu merasa lelah atau kehabisan tenaga, tampaknya seperti tidak ada orang yang peduli entah kamu tetap mencoba atau tidak. Nah, ada sesuatu yang Ku ingin kamu dengar dengan keras dan jelas. Aku peduli! Jangan lupakan hal itu sesaat pun. Di tengah-tengah semua tantanganmu, Aku bersamamu. Kehidupan adalah permainan tarik tambang akbar antara panggilan untuk peduli terhadap sesama dan berbuat baik, dengan godaan untuk menyerah. Menyerah mengatakan bahwa tidak ada apa-apa yang berarti dan hidup merupakan suatu ketercampakan. Jikalau kamu tetap bertahan dan "tetap meneruskan" kamu meneguhkan panggilan-Ku terhadap hidupmu untuk membuat suatu perbedaan. Oleh karena itu, galilah dan bangkitlah. Aku telah menaungimu, dan Aku takkan membiarkanmu pergi. Jangan putus asa! Aku mengasihimu. Pemberi Semangatmu, Tuhan Dalam kekuatan-Mu sekarang aku sanggup memanjat setiap tembok dan menyerang setiap pasukan (Mazmur 18:29) |||||| sumber: http://www.terangdunia.com// |||||| DIMANA ANDA AKAN MANJALANI KEKEKALAN 1 Korintus 15:1-4 Sabtu, 24 Oktober 2009 Dirumah kami memakai detektor asap untuk mengingatkan kami pada bahaya kebakaran. Dasbor mobil kami akan menyala jika ada yang tidak beres pada mobil itu. Bodoh sekali jika kami mengabaikan peringatan-peringatan ini. Demikian pula peringatan-peringatan Alkitab tentang akibat-akibat mengerikan menolak pemberian Allah akan Juruselamat, kita perlu memperhatikan! Alkitab sudah memberi tahu kita tentang cara didamaikan dengan Allah, agar kita bisa menikmati kekekalan bersama-Nya. Kita perlu memahami dan menerima bahwa…’58 Dosa memisahkan kita dari Allah (Roma 3:23; Kolose1:19-22). Akibat pemberontakan Adam dan Hawa, kita semua sudah dilahirkan dengan sifat memberontak kepada Allah. Keadilan Allah menuntut kita untuk menanggung segala akibat dosa dan pelanggaran kita. Allah sudah mengutus Yesus, Putra-Nya, untuk menebus dosa kita (1 korintus 15:3). Hanya kematian orang tak berdosa yang dapat memenuhi tuntutan keadilan Allah. Yesus tidak berdosa dan memenuhi syarat sebagai pengganti kita. Dia rela mati menanggung hukuman dosa kita. Allah menerima kematian-Nya bagi kita dan menjadikan kita benar dihadapan-Nya (Roma3:22) Keselamatan adalah anugerah cuma cuma yang di terima melalui iman kepada Yesus (Efesus 2:8-9). Perbuatan baik kita tidak dapat memenuhi tuntutan keadilan Allah, atau menebus dosa kita. Bukan itu yang di kehendaki Allah untuk mendapat pengampunan dan menjadi keluargaNya. Iman di dalam Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah(Yohanes 14:6). Jika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, surga akan menjadi tujuan kekal kita. Allah mau kita hidup selamanya bersama Dia. Jika anda belum memastikan tujuan kekal anda, pastikanlah sekarang. |||||| sumber: http://www.sentuhanhati.com/ |||||| Jadi Pendengar yang Baik Bacaan hari ini: Yohanes 11: 31-36 Ayat mas hari ini: Roma 12:15 Bacaan Alkitab Setahun: Markus 4-6 Saat menghadiri sebuah pemakaman, seorang ibu bermaksud baik ingin mengajak ngobrol sang istri yang sedang berduka karena suaminya meninggal. Namun, kenyataannya ia malah lebih menyusahkan. Ibu tersebut malah banyak bertanya, mulai tentang kondisi sang suami sebelum meninggal, apa penyakitnya, kapan meninggalnya, di mana, dan sebagainya. Akibatnya, istri yang ditinggal oleh suaminya ini bukannya terhibur tetapi justru semakin sedih karena harus mengingat-ingat kembali tentang suaminya. Dalam buku Something Else to Smile About karya Zig Ziglar, terdapat sebuah kutipan unik: “Satu alasan mengapa anjing begitu menghibur ketika Anda sedih adalah karena ia tidak berusaha mencari tahu mengapa Anda sedih”. Sadar atau tidak, kadang kita tidak memberi diri untuk mendengar ketika teman kita berduka atau mengalami masalah, tetapi malah sibuk bertanya atau mengomentari. Saat melihat Maria menangis, Yesus tidak lantas menghujani Maria dengan berbagai pertanyaan. Dia hanya bertanya, ”Dimanakah dia kamu baringkan?” Setelah itu Dia menangis bersama Maria (ayat 35). Dengan caranya itu, Yesus telah menunjukkan empati-Nya kepada Maria yang tengah dirundung kesedihan karena baru ditinggal Lazarus, saudaranya. Ya, dalam kepedihan dan derita kadang yang diperlukan bukan banyaknya kata-kata yang diucapkan, cukup empati dan simpati yang terwujud dalam kehadiran dan telinga yang mau mendengarkan. Sudahkah kita menunjukkan sikap yang benar kepada teman, sahabat, atau keluarga yang sedang berduka? Baiklah kita menjadi pendengar yang baik dan turut merasakan kesedihan mereka. DIAM DAN MENDENGARKAN TERKADANG LEBIH BERARTI DARIPADA RIBUAN NASIHAT Penulis: Gloria Kamiharja |||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ |||||| [Non-text portions of this message have been removed]
