----- Forwarded Message ----
From: manurung jenny ita vera <[email protected]>
To: Betty Marpaung <[email protected]>; Yosia Bong-bong 
<[email protected]>; Raymond Tobing <[email protected]>; edes 68 
<[email protected]>; Tati Kecil <[email protected]>; Yuli Randolph 
<[email protected]>
Sent: Fri, 1 May, 2009 7:03:43 PM
Subject: FW: Kisah keluarga Yahudi dan seorang Pastor


 
> From: [email protected]
> To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
> [email protected]
> Subject: Fw: Kisah keluarga Yahudi dan seorang Pastor
> Date: Thu, 30 Apr 2009 17:47:09 -0700
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "aurel_wong" <[email protected]>
> To: "yuliaty" <[email protected]>; "vin" <[email protected]>; 
> "vera" <[email protected]>; "robin" <[email protected]>; "riana" 
> <[email protected]>; <[email protected]>; "maria maria" 
> <[email protected]>; "Ius" <[email protected]>; "imelda" 
> <[email protected]>; <[email protected]>; "Ellen" 
> <[email protected]>; "DESY" <[email protected]>; "avun" 
> <[email protected]>; "ASIAN" <[email protected]>; "aicin" 
> <[email protected]>; "ahua" <[email protected]>
> Sent: Thursday, April 30, 2009 2:26 AM
> Subject: Fw: Kisah keluarga Yahudi dan seorang Pastor
> 
> 
> >
> > ----- Original Message ----- 
> > From: "wihardi vincent" <[email protected]>
> > To: <[email protected]>; <[email protected]>
> > Sent: Thursday, April 30, 2009 10:30 AM
> > Subject: Fw: Kisah keluarga Yahudi dan seorang Pastor
> >
> >
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> --- On Wed, 4/29/09, sovia <[email protected]> wrote:
> >>
> >>> From: sovia <[email protected]>
> >>> Subject: Kisah keluarga Yahudi dan seorang Pastor
> >>> To: "sovia" <[email protected]>
> >>> Date: Wednesday, April 29, 2009, 2:10 PM
> >>> kisah cinta sejati antar manusia yang tanpa pandang batas.
> >>>
> >>> Kisah keluarga Yahudi dan seorang pastor.
> >>> Oleh: Esther Ueberall
> >>> Riwayat kehidupan Esther Ueberall ini, dimuat dua kali
> >>> dalam majalah
> >>> Guideposts, Februari 1974 dan Mei 1987.
> >>> DESEMBER 1902
> >>> Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha
> >>> kami.
> >>> Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin baru)
> >>> berdiri di sebelah
> >>> suami saya Solomon, di dalam toko kami yang bernama
> >>> UEBERALL 3 - 9 - 19
> >>> Sen. Terletak di Brooklyn, Amerika Serikat, toko ini
> >>> menjual barang-barang
> >>> dengan harga pas, senilai 3, 9 atau 19 sen.
> >>> Tamu pertama kami melangkah masuk. Beliau seorang
> >>> Pastor Katolik muda
> >>> usia, dari sebuah Gereja (Katolik) kecil, namanya
> >>> Pastor Caruana. Beliau
> >>> berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna
> >>> jubahnya. "Mengapa
> >>> sedih Bapa?" suami saya bertanya - Pastor Katolik
> >>> biasa disapa dengan
> >>> sebutan Father/Bapa - Solomon tergolong orang yang
> >>> sangat mudah "jatuh
> >>> hati".
> >>> Pastor tersebut berbicara pelan, seolah menerawang
> >>> menjawab, "Gereja kami
> >>> harus ditutup...." "Mengapa?" bagi suami
> >>> saya, agama adalah penyembahan
> >>> dari menit ke menit. Kami menjalankan semua ritual
> >>> agama kami, Keluarga
> >>> Ueberall, sebagaimana sebagian besar orang-orang
> >>> Yahudi, beragama Yahudi.
> >>> Mereka menyembah Allah Yehovah yaitu Allah Abraham,
> >>> Ishak & Yakub, dan
> >>> mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama
> >>> Kristen Katolik. Bukan
> >>> demi ritus itu semata mata, namun kepatuhan kami kepada
> >>> Allah.
> >>> Pastor tersebut menjelaskan bahwa Beliau membutuhkan
> >>> $500, untuk Senin
> >>> mendatang. Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi
> >>> tuntutan $500 itu.
> >>> Gereja pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak
> >>> ada jalan keluar.
> >>> Suami saya mendengarkan dengan cermat, dan tangannya
> >>> meremas-remas jemari
> >>> saya. Saya merasakan perasaan hatinya yang terdalam.
> >>> Kami berdua adalah
> >>> orang-orang Yahudi, pindah dari Austria (suami saya)
> >>> dan saya dari Rusia.
> >>> Kami mencari kehidupan yang lebih aman dan baik di
> >>> Amerika. Di Eropa,
> >>> keadaannya kurang begitu baik untuk bangsa kami.
> >>> "Tidak! tidak boleh terjadi...." Solomon
> >>> menggerutu. Ia berpikir keras,
> >>> dan kemudian berkata: "Jangan kawatir Bapa, kita
> >>> usahakan uang
> >>> itu...."Saya melotot ke arah Solomon. Nggak salah?
> >>> Lima dollar saja tidak
> >>> kami miliki saat ini. Pastor Caruana juga melotot
> >>> memandangi suami saya.
> >>> Kemudian dengan wajah tidak percaya, Beliau
> >>> meninggalkan kami.
> >>> Solomon menatap saya. "Esther, kita memiliki
> >>> begitu banyak hadiah
> >>> pernikahan. Kita gadaikan itu semua. Suatu saat kita
> >>> tebus itu semua
> >>> kembali, namun sekarang kita cari 500 dollar...."
> >>> Solomon melepaskan jam
> >>> emas beserta rantainya yang merupakan hadiah dari ayah
> >>> saya. Ia melihat
> >>> kepada cincin kawin saya. Terpaksa saya buka perlahan
> >>> dan menyerahkan
> >>> kepadanya.
> >>> MASIH KURANG BANYAK
> >>> Solomon kembali petang itu dengan wajah kurang cerah.
> >>> Ia hanya berhasil
> >>> mendapatkan $250. Pada saat makan malam ia menjadi
> >>> riang kembali dan
> >>> berseri-seri berkata: "Saya tahu, kita pinjam!
> >>> Keluarga kita besar dan
> >>> kompak bukan?"
> >>> Dan sepanjang hari minggu itu,Solomon pergi mengunjungi
> >>> para paman, ipar,
> >>> sepupu, dan kawan kawan yang pernah ia tolong. Beberapa
> >>> dengan simpatik
> >>> langsung menolonG, beberapa berkeras hati. Solomon
> >>> memohon-mohon, ia
> >>> mengemis-ngemis, ia menghimbau, ia membangkit-bangkit,
> >>> akhirnya terkumpul
> >>> lagi sebesar $250.-.
> >>> Sejak saat itu, tiap hari Senin, Pastor Caruana
> >>> merupakan pengunjung toko
> >>> kami yang paling pagi. Beliau senantiasa membawa sebuah
> >>> dompet kulit, dan
> >>> membayar sebagian demi sebagian. Uang tersebut adalah
> >>> hasil kolekte
> >>> jemaatnya. Persahabatan kami meningkat. Kemudian
> >>> seluruh hutangnya
> >>> terbayar lunas....
> >>> BERKAT MELIMPAH
> >>> Cincin kawin saya telah berhasil ditebus, dan semua
> >>> barang-barang yang
> >>> kami gadaikan kembali dengan selamat. Keberuntungan
> >>> senantiasa mewarnai
> >>> toko kami, dan berkat bagaikan luber tercurah. Tak lama
> >>> sesudah itu kami
> >>> mengganti nama toko menjadi TOKO SERBA ADA UEBERALL.
> >>> Demikianpun dengan jemaat Pastor Caruana. Dengan pelan
> >>> namun pasti, jemaat
> >>> itu makin kuat dan makin besar. Mereka bahkan bisa
> >>> membangun gereja yang
> >>> lebih kokoh dan bagus, dengan nama Santa Lucia. Tahun
> >>> 1919 Pastor Caruana
> >>> dipanggil pulang ke Roma, dan perpisahannya dengan
> >>> Solomon lebih merupakan
> >>> perpisahan dua saudara kandung.
> >>> TAHUN - TAHUN KEMUDIAN
> >>> Solomon secara tiba tiba dipanggil Allah pulang,
> >>> meninggalkan saya dan dua
> >>> anak anak. Pukulan keras ini berdampak dua tahun. Saya
> >>> kemudian bekerja
> >>> sendiri, dan melatih putera saya mengambil alih usaha.
> >>> Secara pelan-pelan,
> >>> ingatan akan Pastor Caruana menghilang dari pikiran
> >>> saya.
> >>> Perang dunia II meletus, dan Hitler menderap masuk
> >>> Austria. Kesulitan
> >>> besar terjadi di sana, dan kami menerima surat-surat
> >>> permohonan dari
> >>> saudara serta kerabat Solomon, yang ingin disponsori
> >>> untuk pindah ke
> >>> Amerika. Tanpa kepindahan ini, kamp-kamp konsentrasi
> >>> dan maut menanti
> >>> mereka.
> >>> Saya berusaha keras menolong.Namun pemerintah Amerika
> >>> kemudian menutup
> >>> kemungkinan migrasi dengan memberlakukan sebuah kuota.
> >>> Surat-surat
> >>> permintaan terus masuk. Tiap menerima sebuah, terasa
> >>> satu tikaman di ulu
> >>> hati saya. Saya akan bersandar di dinding dan menangis:
> >>> "Oh Solomon, kalau
> >>> saja engkau masih hidup...."
> >>> Akhirnya saya menghubungi Departemen Perburuhan di
> >>> Washington, dan mereka
> >>> menyarankan agar saya membiayai para pelarian masuk
> >>> Cuba. (Saat itu Cuba
> >>> masih bersahabat dgn Amerika Serikat). Syaratnya, harus
> >>> ada tokoh kuat di
> >>> Cuba yang bisa mensponsori, dan menjamin akan
> >>> kelangsungan hidup di sana.
> >>> Siapa? Saya tak kenal seorang pun di Cuba. Terbersit
> >>> sebuah ilham. Cuba
> >>> negara Katholik, mungkin gereja Santa Lucia bisa
> >>> menolong. Seorang Pastor
> >>> muda langsung mengirim kawat (telex) kepada pimpinan
> >>> Gereja Katholik di
> >>> Havana memberi kabar kedatangan saya.
> >>> HAVANA INTERNATIONAL AIRPORT CUBA, 2 HARI KEMUDIAN...
> >>> Turun dari pesawat terbang, udara hangat menerpa wajah.
> >>> Seorang anak
> >>> laki-laki kecil berlari-lari menemui saya di tangga
> >>> pesawat dengan sebuah
> >>> buket kembang mawar. Saya mencium pipi anak kecil ini,
> >>> terheran heran akan
> >>> penyambutan VIP macam ini.
> >>> Pelan pelan saya melihat sepasang sepatu coklat di sisi
> >>> anak itu. Mata
> >>> saya naik ke atas, terpandang sebuah gaun beludru
> >>> berwarna merah darah
> >>> dengan rumbai-rumbai kuning. Mata saya terangkat lagi
> >>> ke atas, dan melihat
> >>> langsung kepada sepasang mata ramah, berkeriput, yang
> >>> memandang
> >>> dalam-dalam, dengan riak-riak gelombang hangat di
> >>> dalamnya.
> >>> Orang itu tersenyum kepada saya. Saya memusatkan
> >>> perhatian. Tangannya
> >>> terulur kepada saya,dan berkata pelan:
> >>> "Esther Ueberall... tidak ingatkah kau pada
> >>> saya?" Pastor Caruana!! Saya
> >>> berenang dalam air mata....
> >>> Di dalam mobil menuju pusat kota, Pastor Caruana
> >>> bercerita bagaimana
> >>> Beliau kemudian ditugaskan Roma di Cuba, dan menjadi
> >>> Bishop Kepala (Uskup
> >>> Agung?) di sana. Dengan pertolongannya, dua lusin
> >>> keluarga kami melarikan
> >>> diri dari cengkeraman Hitler, dan tiba di Cuba. Mereka
> >>> menantikan
> >>> dibukanya kuota imigrasi Amerika, dan tidak
> >>> diperkenankan bekerja. Namun,
> >>> Gereja Katolik Cuba melindungi mereka, memberi makanan,
> >>> pakaian, sayur
> >>> mayur segar dari kebun-kebun sendiri, daging, dan enam
> >>> bulan kemudian
> >>> mereka telah aman di Amerika.
> >>> KEMBALI KE AMERIKA SERIKAT
> >>> Sejak saat itu, saya dan Pastor Caruana
> >>> berkirim-kiriman surat. Beliau
> >>> kemudian jatuh sakit dan dirawat di kota Philadelphia,
> >>> Amerika Serikat.
> >>> Beberapa kali saya menyempatkan diri menengok, dan
> >>> dalam tiap doa.... saya
> >>> selalu ingat keadaan Beliau.
> >>> Suatu hari, sebuah surat tiba di meja kerja saya, dari
> >>> pimpinan Gereja
> >>> Katolik Philadelphia, dan isinya mengatakan bahwa
> >>> keadaan Pastor Caruana
> >>> sangat gawat. Beliau tidak ingin ditemui oleh siapapun,
> >>> namun terus
> >>> menerus memanggil-manggil nama saya. 3 jam kemudian
> >>> saya telah tiba di
> >>> sana, dan duduk dengan diam di sisi tempat tidurnya.
> >>> Beliau tampak kurus, lemah, dan tidak
> >>> berdaya..."Esther. ...", katanya
> >>> memegang tangan saya. Kami berdiam diri disana, saling
> >>> memandang. Saya
> >>> tahu, bahwa Beliau sebentar lagi akan
> >>> "berangkat".
> >>> Kemudian Beliau berkata: "Esther, jaga diri baik
> >>> baik, saya selalu berdoa
> >>> untukmu dan untuk keluargamu." Kemudian,dengan
> >>> banyak kesulitan, Beliau
> >>> mengeluarkan dari bawah bantalnya sesuatu yang
> >>> diletakkan dalam genggaman
> >>> tangan saya.
> >>> Beliau memberikan kepada saya sebuah bros perak yang
> >>> selalu dikenakannya.
> >>> Air mata yang panas membanjiri saya, dan sambil
> >>> memegang tangannya
> >>> erat-erat. Pergilah dengan tenang Bapa, KENANGAN akan
> >>> engkau sangat MANIS
> >>> di dalam hati saya.Lambang dari suatu hubungan yang
> >>> manis, dari sekian
> >>> banyak perbedaan-perbedaan umat manusia, namun...saling
> >>> berbuat baik,
> >>> karena kenal DIA !!
> >>> El C.
> >>> Marilah kita singkirkan semua perbedaan kita dan saling
> >>> membantu satu sama
> >>> lain sebagai umat yang mengenal TUHAN
> >>
> >> 

________________________________
Share your beautiful moments with Photo Gallery. Windows Live Photo Gallery 


      
__________________________________________________________________________________
Yahoo!7: Catch-up on your favourite Channel 7 TV shows easily, legally, and for 
free at PLUS7. www.tv.yahoo.com.au/plus7

Kirim email ke