Pak RR yth.
Terima kasih atas tambahan datanya. Studi empirik menunjukkan bahwa "divestasi" 
aset2 pemilik saham berpaspor NKRI (berhati siapa tahu lah macam eddy tanzil 
dan sebangsanya) kepada pemilik2 yg diatas kertas "asing" melaju kencang  
dengan lag 2-3 bulan percepatan "semakin berkuasanya" kaisar2 
narkoba-judi-produk2 palsu (termasuk BAP palsu etc) yang "bisa membeli hampir 
semua" yg ada di dalam sistem perekonomian NKRI. 

Jadi sesuai dengan prinsip neo-darwin bahwa hanya "AYAM BERTELUR" dan bukan 
"TELUR2 BERAYAM" .. "Predatory Capitalism" yg marak di NKRI adalah "produk2 
nyata" bahwa secara kolektif dunia usaha NKRI PRO-Narkoba-Judi-Pemalsuan CS ..

Mengenai independensi terhadap penguasaan asing, mayoritas2 pejuang2 anti 
neo-lib masih lebih suka menggunakan laptop TOSHIBA, ACER, LENOVO CS yg buatan 
RRC dibandingkan dengan ZYREX yg rakitan NKRI!

Jadi memang gak ada yg berani memulai dengan SAY NO to "buatan/asal asing" dan 
konsisten dengan menggunakan produk "buatan/rakitan NKRI" .. 

Bahkan untuk "jasa2 khusus" mayoritas pengusaha2 kaya yg haus hiburan selalu 
memprioritaskan "jasa asal/buatan RRC" yg ironisnya jauh lebih mahal dari "jasa 
asal/asli NKRI" .. 

Salam E-NKRI!

HM

[rr] contoh predatory capitalims... adalah jatuhnya perusahaan PMDN kepada PMA 
seperti laporan bisnis indonesia 26 agustus 2009 bahwa 42 bank besar indonesia 
jatuh ketangan asing... majoritas dimiliki oleh ingris dan singapura... negara 
lain yang memiliki bank besar di indonesia antara lain AS, skotland, perancis, 
timur tengah, cina jepang, malaysia  dll...

jatuhnya saham BUMN ketangan asing juga merupakan predatory capitalism... 
termasuk go publik dimana infrastruktur dan publik service yang menjadi harkat 
hidup bangsa indonesia menjadi komoditas diperdagangkan di bursa meskipun itu 
bursa indonesia...

itu pandangan kami... salam, rr - apwkomitel

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: [email protected]
Date: Wed, 11 Nov 2009 00:28:41 
To: egov-indonesia<[email protected]>
Cc: Telematika<[email protected]>; 
APWKomitel<[email protected]>; Idtugboard<[email protected]>
Subject: "Predatory Capitalism" atau "Humanistic Capitalism"?????  Fw: 
[eGovIndonesia] www.tenaga.com.my sebagai contoh solusi neo-libPLN (persero) 
Tbk nanti?! bumn semestinya andalan bangsa: publik 
service/infrastruktur[APWKomitel]

Pak Hari yth.

Terima kasih banyak atas ulasan anda yg komprehensif.

Memang pilihan de facto yg kita miliki saat ini bukanlah neo-lib atau anti 
neo-lib tetapi lebih kepada (dua2nya adalah 2 sisi yg berbeda dari neo-lib 
economy) : "Predatory Capitalism" atau "Humanistic Capitalism" ....

"Predatory Capitalism" di NKRI  contohnya adalah pengusaha2 bandar narkoba, 
judi, obat2 palsu, produk2 palsu, KTP palsu, SIM palsu, BAP palsu etc.

---
[rr] contoh predatory capitalims... adalah jatuhnya perusahaan PMDN kepada PMA 
seperti laporan bisnis indonesia 26 agustus 2009 bahwa 42 bank besar indonesia 
jatuh ketangan asing... majoritas dimiliki oleh ingris dan singapura... negara 
lain yang memiliki bank besar di indonesia antara lain AS, skotland, perancis, 
timur tengah, cina jepang, malaysia  dll...

jatuhnya saham BUMN ketangan asing juga merupakan predatory capitalism... 
termasuk go publik dimana infrastruktur dan publik service yang menjadi harkat 
hidup bangsa indonesia menjadi komoditas diperdagangkan di bursa meskipun itu 
bursa indonesia...

itu pandangan kami... salam, rr - apwkomitel
---
"Humanistic Capitalism" di NKRI contohnya adalah penggunaan Open Source yg 
berkualitas dan gratis dan ????? (Mari kita rumuskan bersama) ..  :)

Saya jadi teringat beberapa paragraf tulisan John Perkins di Hookwinked di 
bawah ini:

* Countries and presidents have lost power. Corporations have the power. World 
geopolitics may be represented by huge clouds (the multinational companies) 
drifting around the planet; they know no borders and obey no specific sets of 
laws.

* The good news: we control corporations. The market place is democratic. The 
way out is for us the people to support companies that are committed to a 
sustainable, just, peaceful world; to institute regulations that codify this; 
to recognize as heroes men and women who are dedicated to creating a world our 
children and their brothers and sisters around the planet will want to inherit 
-- in essence to rid ourselves of the mutant virus and create a new type of 
capitalism.

* We are all in this together and we are all communicating with each other. The 
Internet and cell phones offer opportunities to unite us like never before in 
the human experience.

Salam E-NKRI!

HM

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "hnoe...@indonet" <[email protected]>
Date: Wed, 11 Nov 2009 06:52:07 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [eGovIndonesia] www.tenaga.com.my sebagai contoh solusi neo-lib
 PLN (persero) Tbk nanti?! bumn semestinya andalan bangsa: publik 
service/infrastruktur
 [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir?

Selamat pagi pak Henk dan rekan2.
MY merupakan contoh liberalisasi terkendali yang saya tahu.
Secara image mereka melepas kepada mekanisme pasar,
namun de Facto, untuk kedaulatan negara dan kepentingan masyarakat 
banyak justru lembaga keuangan milik negara menjadi jalur pengendali 
kepemilikan untuk tetap dapat dilakukan kendali oleh negara, termasuk 
penetrasi untuk mengendalikan pasar bagi produk negaranya di negara lain 
(tetangga) yang peluang penguasaan pasar sangat mudah dan juga 
mengendalikan perusahaan negara tetangga untuk menambang rejeki dari 
kesempatan pasar yang sangat terbuka.
Yang menarik, semua perusahaan swasta murni yang kiprahnya semakin 
mempengaruhi hajat hidup masyarakat di negaranya justru secara perlahan 
namun pasti saham perusahaan yang berawal dari perusahaan publik tanpa 
kepemilikan negara menjadi perusahaan yang bisa dikendalikan negara 
meski tetap berstatus publik bukan BUMN, mereka secara perlahan namun 
pasti berupaya menguasai penentuan kepengurusan dan kebijakan perusahaan 
dengan banyak cara tanpa merubah image bahwa perusahaan tersebut adalah 
perusahaan swasta.
Demikian pula dengan beberapa perusahaan Indonesia yang kepemilikannya 
dibeli oleh perusahaan MY, ternyata meski status investor swasta, namun 
kendali tetap dibawah pemerintah, sehingga tidak heran teman saya mantan 
dutabesar MY di eropa di MPP kan ada yang ditempatkan menjadi Komisaris 
perusahaan besar yang mereka beli di Jakarta. Mereka sangat cerdik 
meniru cara Orde baru untuk mempersiapkan tenaga pemerintah menjadi 
pengendali bisnis, karena teman saya tersebut pernah di tempatkan di 
Jakarta cukup lama dengan pola dwifungsi PNS ketika masuh dalam status 
pegawai menengah. setelah MPP dijadikan komisaris yang sudah tahu bisnisnya.
Sementara info yang pernah saya peroleh, di beberapa Bank mereka 
komisaris dan beberapa jabatan penting di Bank tersebut di isi oleh 
tenaga mereka yang sebenarnya masih berstatus PNS.
Dari kasus ini, kita perlu belajar bagaimana liberalisasi bisa di tata 
sedemikian rupa untuk bisa memberikan hasil optimal dan memperbesar 
kelompok usaha tanpa harus kehilangan kendali kedaulatan perekonomian 
bangsa.

Terkadang kita terlalu polos melaksanakan komitmen internasional , 
sehingga kita terperosok kepada kehilangan kedaulatan. sebagai contoh 
ketentuan untuk menerapkan keterbukaan pasar dan persaingan bebas, yang 
bila dikaji secara manajemen sebenarnya merupakan solusi Lose-lose yang 
dipastikan hasilnya menghancurkan semua pihak yang terlibat. namun 
beberapa negara tertentu dapat mengamankan terapan sistem tersebut agar 
tidak menyebabkan kehancuran potensi bangsa. Mereka membentuk komunitas 
yang membuat standar dan melakukan kerjasama pembagian pasar yang de 
facto sebenarnya secara nasional mereka telah melakukan Kartel, namun 
secara hukum mereka tetap memenuhi standar persaingan bebas dengan 
menjalankan Tender terbuka dll, Dengan standar Nasional yang disepakati 
Komunitas mereka bisa membatasi penetrasi usaha asing tanpa bantuan 
langsun dari negara sehingga tidak bisa di protes WTO, dan hasilnya 
menjadi optimal karena semua peserta pasar bekerja sama untuk 
optimalisasi potensi bangsa secara Win-Win, termasuk ada upaya nyata 
kebersamaan antar SME mendukung pembesaran konglomerasi di negaranya, 
dengan tujuan agar mereka punya Media Usaha untuk bisa ikut tender 
Internasional yang umumnya dibatasi dengan syarat keuntungan per tahun 
yang sangat besar.

Semoga bermanfaat.
Wass.
Hari..


[email protected] wrote:
>
> Pak RR yth.
>
> Silahkan click www.tenaga.com.my dimana akan tampil bahwa Tenaga 
> Nasional Berhad merupakan salah satu dari sepuluh besar perusahaan 
> masuk bursa malaysia.
>
> http://www.tnb.com.my/tnb/highlights.php?Id=280
>
> Jadi tanpa mengurangi rasa hormat kepada kaum "anti neo-lib" .. Sudah 
> saatnya bagi warga NKRI untuk mendorong agar saham2 PLN bisa 
> diperjualbelikan di bursa efek indonesoa .. Yang akan memberikan 
> kesempatan bagi seluruh "pelanggan PLN" menjadi "pemilik PLN" sehingga 
> "manajemen PLN" akan bisa "lebih cepat tanggap" terhadap "keluhan 
> pelanggan2 sekaligus pemilik2 PLN" ..
>
> Di dunia modern mau itu yg neo-lib atau bukan perusahaan pemasok 
> listrik dan air yang tidak beroperasi via "mekanisme pasar rasional" 
> tidak akan pernah optimal kinerjanya ..
>
> Sudah waktunya bagi PLN untuk belajar dari TELKOM bagaimana menjadi 
> BUMN raksasa yang menguntungkan sekali dan akhirnya masuk bursa efek 
> indonesia.
>
> Lebih Cepat Lebih Baik!
> Bersama Kita Bisa Lanjutkan!
>
> PT PLN (Persero) Tbk. dengan persentase saham yang diperdagangkan di 
> bursa minimal 40% .. Mau?!
>
> Salam Keadilan Distribusi Listrik dan Akses Informasi NKRI!
>
> HM
>
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> ------------------------------------------------------------------------
> *From: * <[email protected]>
> *Date: *Tue, 10 Nov 2009 04:54:27 -0800 (PST)
> *To: *<[email protected]>
> *Subject: *bumn semestinya andalan bangsa:publik service/infrastruktur 
> [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir?
>
> dear all:
>
> ada kalanya memang liberalisasi perusahaan BuMN dan ada listrik swasta 
> misalnya...
>
> namun semestinya seperti dinegara lain singapura, malaysia dll... 
> biasanya public service adalah monopoli dan dipegang oleh negara...
>
> semestinya negara punya kedaulatan dan rakyat sebagai pembayar pajak 
> punya suara dan punya hak untuk minta pertanggung jawab pada 
> PLN..bukan sebaliknya dimana rakyat harus mengemis dan hanya jadi 
> mainan oknum saat tagihan listriknya telat bayar misalnya...
>
> disini sebetulnya peran leadership dari pemerintah kita...semestinya 
> bisa menegur PLN agar membrikan servis yang baik kepada yang sudah 
> bayar melalui pajak dan melalui abonemen listrik.
>
> itulah tugas BUMN dan itulah hasil dari UUD 1945 pasal 33 mengenai hak 
> masyarakat atas public services and public goods dan SDA semuanya 
> harus untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat bukan sebaliknya.
>
> jadi semestinya memang publik infrastruktur tetap dikelolah oleh 
> negara , namun rakyat, DPR dan pemerintah harus bisa mengontrol BUMN 
> yang bergerak dibidang publik infrastruktur... seperti halnya PT 
> Telkom dll... yang sudah lebih profesional.
>
> semestinya ini prioritas utama pada national summit 2009 dan program 
> 30 hari atau 100 hari pemerintah SBY.
>
> salam, rr - apwkomitel
> ---
> ------------------------------------------------------------------------
> *From:* Adhytia Wisnu Sasmita <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Tue, November 10, 2009 7:41:59 PM
> *Subject:* Re: [APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa 
> lagi menggilir?
>
> Untung nya Telkom punya kompetitor ya bu :)
>
> Adhytia Wisnu Sasmita
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> ------------------------------------------------------------------------
> *From: * "Sri Safitri" <safi...@telkom. co.id>
> *Date: *Tue, 10 Nov 2009 09:58:34 +0700
> *To: *<dpr...@yahoogroups. com>; <apwkomi...@yahoogro ups.com>
> *Subject: *[APWKomitel] RE: [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi 
> menggilir?
>
> Setuju Papa Fariz. Ini juga diskusi pagi ini dengan suami di 
> perjalanan menuju kantor. Karena tanpa adanya kompetisi, PLN cuek 
> bebek listrik byar pet, hotline gak angkat, lampu penerang jalan mati 
> padahal tiap pelanggan ditagih 3% atas total tagihan untuk membiayai 
> lampu jalan…
>
> ------------------------------------------------------------------------
>
> *From:* dpr...@yahoogroups. com [mailto: dpr...@yahoogroups. com ] *On 
> Behalf Of *Papa Fariz
> *Sent:* Tuesday, November 10, 2009 9:49 AM
> *To:* undisclosed- recipients:
> *Subject:* [dpr-ri] Perlu saingan biar gak bisa lagi menggilir?
>
>
>
>
> Assalaamu 'alaikum,
>
> 7 tahun tinggal di Singapore , baru sekali saja saya ngalamin mati 
> lampu. Waktu itu tahun 2002, dimana pasokan gas LNG dari Natuna yang 
> jadi sumber listrik di sini tersendat. Dan ketika alirannya coba 
> dipindahkan ke pipa cadangan, ternyata valve-nya macet. Alhasil, 
> selama 2 jam, setengah dari Singapore mati lampu total. Wew, surprise, 
> saya keluar rumah dan lihat-lihat, ternyata memang gelap total. 
> Besoknya ihak PLN sini minta maaf. Orang pun banyak yang komplain, 
> karena dengan 2 jam saja, pengauh secara ekonomis ada. Gimana dengan 
> industri yang lagi bikin adonan, trus tiba-tiba mati listrik? Hancur 
> dong tuh adonan. Lalu tempat maknan yang menyediakan makanan semacam 
> sushi begitu, bisa busuk dong ikannya. Yang punya es krim, kalo gak 
> siap es cadangan, bisa meleleh dong. Bla bla bla, yang pasti ada 
> kerugian ekonominya. Saya sendiri lupa berapa taksiran kerugian saat itu.
>
> Baru 2 jam Black Out saja, orang-orang sini sudah rame dan komplain. 
> Gimana kalo mereka tinggal di Jakarta yah? Akhir-akhir ini di Jakarta 
> sedang diadakan pemadaman bergilir setiap malam. Apa, pemadaman kok 
> digilir? Emangnya istri muda, pakai acara digilir-gilir segala? Ck ck 
> ck. Emang gendeng PLN kita, tiap hari mati lampu. Jakarta Selatan yang 
> katanya kemarin gak mati lampu, ee tiba-tiba mati juga. Kok 
> bisa-bisanya PLN dengan seenak udelnya melakukan pemadaman bergilir, 
> apalagi tanpa jadwal yang jelas, yakni jam berapa sampai jam berapa. 
> Ini IBUKOTA brur, bukan daerah terpencil. Andaikan ibukota saja sudah 
> kondisinya kayak gini, jangan tanya gimana dengan daerah terpencil? 
> Apakah PLN gak menghitung besar kerugian akibat pemadaman listrik itu? 
> Apakah mereka mau mengganti kerugian kalau ada kerusakan di peralatan 
> elektronik kita? Tapi di satu sisi, mereka langsung memutuskan aliran 
> listrik ketika kita telat bayar, begitu komplain di sana-sini.
>
> Sebenarnya capek juga teriak-teriak, karena percuma tidak akan 
> didengarkan oleh mereka. Alasan mereka banyak banget, yang trafo ini 
> rusak lah, besok trafo yang satu lagi rusak. Besoknya PLT yang ini 
> rusak bla bla bla. Sampe capek dengernya. Kata orang Jepun, "ii wake 
> ikura demo tsukureru" alias alasan, berapa banyak pun bisa di buat. 
> Kita sebagai pelanggan gak mau tau alasan mereka, yang penting mereka 
> kudu menjalankan kewajibannya memasok listrik kitsa sesuai kebutuhan. 
> Mereka minta supaya kita berhemat saat beban puncak. Ya susah dong, 
> kalau kita mau hemat, tapi yang lain gak hemat, percuma dong? Masak 
> kita yang kudu berkorban. Itu kan tugas PLN menyediakan pasokan 
> listrik. Kalau memang alasan tarif yang ada terlalu murah, bukankah 
> kini tarif sudah mulai naik? PLN kan punya PR yang bisa menjelaskan 
> secara gamblang sebab-sebab kenaikan andaikan mereka ingin menaikkan 
> tarifnya. Dengan tarif yang tinggi, orang pun akan dipaksa berhemat, 
> dan itu terjadi dengan sendirinya. Tinggal pinter-pinternya mereka 
> menjelaskan kepada masyarakat.
>
> Tentang alasan banyak pencurian listrik, kenapa hal itu gak diurus dan 
> dibahas denga pihak kepolisian, karena hal itu sudah menyangkut 
> kriminal? Gak bisa dong dengan alasan banyak listrik bocor, lalu 
> mereka pengen mengadakan pemadaman bergilir. Dan di masyarakat juga 
> ada cibiran, bahwa justru petugas PLN sendiri yang main mata untuk 
> membantu pencurian listrik. Ini urusan internal mereka juga dan dengan 
> sub-con mereka. Bener-bener gak habis pikir, kenapa semua ini bisa 
> terjadi dan di ibukota negara pula. Trafo yang tiba-tiba meletus, itu 
> karena maintenance- nya gak bener. Jangan ngeles dengan bilang takdir 
> yah? Kasian yang punya nama takdir, dijadikan kambing hitam melulu. 
> PLN sendiri seperti amatiran saja, menunggu sampai terjadi sesuatu, 
> semisal trafo bermasalah dll, baru menanganinya. Kenapa mereka gak 
> berpikir tindakan preventifnya dulu. Mereka bisa bikin list masalah 
> yang ada trus merumuskan pencegahannya. Siapkan pula spare parts 
> cadangan dll, jadi begitu ada kejadian bisa langsung dibetulkan tanpa 
> perlu banyak waktu. Yang beginian mah, gak seharusnya diajarkan lagi.
>
> Tentang listrik mati, ada kejadian memalukan bulan lalu, saat saya 
> bersama rekan Japanese saya berkunjung ke Cibitung. Di satu perusahaan 
> manufatkturing besar, ternyata sedang mati listrik, terkena pemadaman 
> oleh PLN, sehingga meeting kami pun terpaksa dibatalkan. Sialnya, ini 
> pabrik gede gak punya genset pula. Manufakturing pun tiba-tiba 
> berhenti di tengah jalan. Sang Presdir, ngamuk bukan kepalang, dan 
> mengumpulkan seluruh manajer. Dia tanya, apakah memang PLN yang salah 
> karena gak ngasih tau ada pemadaman bergilir, ataukah ada stafnya yang 
> lalai dengan tidak menyampaikan informasi dari PLN tentang pemadaman 
> bergilir. Ini kaitannya dengan manufakturing, shipping, upah karyawan, 
> hari pengganti dll. Kalau diduitin ya gak sedikit. Bulan sebelumnya di 
> Cibitung juga, saat saya sedang rapat dengan seorang Japanese, 
> tiba-tiba mati lampu. Rapat pun bubar karena sama sekali gelap dan 
> panas banget karena AC mati. Orang Jepun pun pasrah dan cuma bisa 
> geleng-geleng kepala.
>
> Memang seharusnya PLN dikasih kompetitor. Di salah satu kawasan 
> industri di Batam, ada perusahaan swasta yang menangani pasokan 
> listrik ke situ. Mereka men-charge lebih mahal, tapi mereka punya 
> gareement dengan para perusahaan bahwa mereka akan dituntut ganti rugi 
> dengan hitungan sekian-sekian, kalau ada mati lampu dan menyebabkan 
> kerugian di industri manufakturing. Di Cikarang saya dengar juga 
> begitu. Dengan kondisi seperti ini, akhirnya perusahaan swasta itu 
> mati-matian untuk mensuplai listrik sebaik-baiknya dan bersikap 
> profesional. Beda banget sama PLN yang gak mau tau kerugian akibat 
> pemadaman bergilir. Mereka punya hotline, tapi saya pernah coba 
> menelpon hotline mereka, gak ada tuh yang ngangkat. Busyet dehh, kalau 
> gitu ngapain ada nomor hotline, bila ada ada yang mau ngangkat. 
> Mungkin petugas resepsionisnya tau bahwa mereka cuma jadi bemper PLN 
> yang bakal dimaki-maki oleh para pelanggang. Kasian petugas yang orang 
> kecil itu karena kena semprot melulu.
>
> Solusinya tak lain dan tak bukan, PLN harus di"Swastanisasi". Bukan 
> dalam artian didivestasi, melainkan kinerjanya diperbaiki seperti 
> swasta, sehingga benar-benar bagus dan profesional. Lihat deh PLN 
> Singapore, bener-bener bagus kerjanya dan profesional, padahal mereka 
> itu BUMN milik Pemerintah juga. Alternatif lain, PLN harus dikasih 
> kompetitor. Tapi saya gak yakin ini solusi yang baik. Malah justru ini 
> akan mematikan PLN karena mereka belum siap ke sana dan orang-orang, 
> terutama petingginya boleh jadi belum punya konsep yang jelas untuk 
> bersaing, apalagi selama ini enak-enakan saja. Liat tuh kasus TVRI dan 
> RRI. Begitu TV swasta dibolehkan jadi kompetitor mereka, habislah TVRI 
> dan RRI. Di Singapore, kadang saya masih liat TVRI, di TV cable 
> channel 160. Jauhhh banget kualitas, pemilihan dan pengelolaan 
> acaranya dibandingkan RCTI dan SCTV. Wajarlah kalau kini TVRI 
> tertinggal jauh oleh TV-TV swasta kita. PLN paling kayak begitu 
> nantinya. Aye yakin banget. Karenanya kasih chance mereka dulu dengan 
> men-swastanisasikan kinerjanya. Kalau memang masih ndableg, barulah 
> dibuka pintu untuk listrik swasta masuk. Biar tau rasa mereka 
> nantinya. Biar mereka gak seenaknya menggilir, karena sudah punya saingan.
>
> Wassalaam,
>
> Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet
> Web Blog: http://papafariz. blogspot. com <http://papafariz.blogspot.com>
> Face Book: boedoe...@gmail. com <mailto:[email protected]>
>
>
> ============ ========= ========= ===
> Mau GRATIS TELPON LOKAL, DISCOUNT 50% SMS,
> DISCOUNT 20% SLJJ, dan DISCOUNT FLEXI MILIS?
> Ikuti Dahsyatnya FLEXI KOMUNITAS.
> Ketik CREATE<spasi>[NAMA GRUP], sms ke 345.
> Contoh: CREATE SMU2, sms ke 345.
> Informasi selanjutnya :
> - hubungi 147
> - http://www.telkomfl exi.com
> - ketik INFO, sms ke 345
>
>
> ============ ========= ========= ===
> This Email has been scanned : Anti Virus
> ============ ========= ========= ===
>   
> ============ ========= ========= ======
> Mau GRATIS TELPON LOKAL, DISCOUNT 50% SMS, 
> DISCOUNT 20% SLJJ, dan DISCOUNT FLEXI MILIS? 
> Ikuti Dahsyatnya FLEXI KOMUNITAS. 
> Ketik CREATE [NAMA GRUP], sms ke 345. 
> Contoh: CREATE SMU2, sms ke 345. 
> Informasi selanjutnya:
> - hubungi 147
> - http://www.telkomfl exi.com
> - ketik INFO, sms ke 345.
>
>
> 
> ------------------------------------------------------------------------
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG - www.avg.com 
> Version: 9.0.704 / Virus Database: 270.14.58/2493 - Release Date: 11/10/09 
> 02:40:00
>
>   


------------------------------------

http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links





------------------------------------

--
Sponsor: www.apwkomitel.org www.java-cafe.net   www.micronics.info
Info Disti Ncomputing(1PC Many/ 30Users) http://www.indoasiateknologi.com 
Yahoo! Groups Links





------------------------------------

http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/egov-indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke