Buat saya berbagai angka "kemajuan" ekonomi tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah kesejahteraan mayoritas rakyat Indonesia.
Buat apa statement BPS misalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat hingga 500%, tapi kenyataan puluhan balita meninggal karena busung lapar/kelaparan? Atau jutaan anak putus sekolah karena tak mampu membayar biaya pendidikan (bahkan sebagian sampai bunuh diri)? Atau puluhan balita lumpuh layu akibat orang tuanya tak mampu membayar vaksin polio? Buat apa angka pertumbuhan ekonomi tinggi, jika yang makmur hanya segelintir orang, sementara yang lain justru mati kelaparan? --- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Refleksi : Apa yang belum atau tidak dimanipulasi di > Indonesia? > > > > http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=110649 > > > > Angka Pertumbuhan Ekonomi Dimanipulasi > > > Kamis, 2 Juni 2005 > JAKARTA (Suara Karya): Para ekonom yang tergabung > dalam Tim Indonesia Bangkit menilai klaim pemerintah > tentang peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional > sangat manipulatif. Ini terkait data Badan Pusat > Statistik (BPS) yang ternyata tidak tercermin di > masyarakat, dan karena itu diragukan akurasinya. > Bahkan angka pertumbuhan BPS ini berbeda dengan > versi Departemen Keuangan. > > Demikian disampaikan Tim Indonesia Bangkit yang > terdiri dari Dradjad Wibowo, Hendri Saparini, M > Fadhil Hassan, dan Ichsanuddin Noorsy kepada > wartawan di Jakarta, Rabu kemarin. > > Data BPS menyatakan, pertumbuhan ekonomi nasional > pada kuartal I/2005 adalah 6,35 persen (year on > year). Itu menunjukkan bahwa kinerja ekonomi > mengalami perbaikan. Padahal menurut hasil kajian > Tim Indonesia Bangkit, selama pemerintahan Yudhoyono > kinerja ekonomi justru mengalami pelambatan. > > Fadhil menyatakan, klaim perbaikan ekonomi itu > manipulatif dan tidak berdasarkan kenyataan di > masyarakat. "Bila memang pertumbuhan ekonomi > meningkat, mengapa perbaikan ekonomi dan > kesejahteraan masyarakat justru turun. Ini terlihat > dengan tidak adanya pertumbuhan konsumsi rumah > tangga," ujar Fadhil. > > Menurut Fadhil, konsumsi rumah tangga merupakan > salah satu sumber pertumbuhan utama ekonomi dengan > kontribusi 60 persen. Tetapi konsumsi rumah tangga > justru mengalami penurunan tajam dari tumbuh 5,05 > persen pada kuartal III/2004 menjadi 3,75 persen > pada kuartal IV/2004. Bahkan pada kuartal I/2005 > turun lagi menjadi 3,22 persen. > > "Ini adalah kecerobohan pemerintah yang tidak pernah > mendengar masukan-masukan para ahli ekonomi. Jika > angka pertumbuhan ekonomi dibuat dengan cara > amatiran seperti ini, bagaimana bisa diharapkan > pasar mempercayai kebijakan pemerintah," tutur > Fadhil. > > Kecerobohan itu sendiri terlihat jelas ketika > pemerintah menyampaikan data pertumbuhan ekonomi > berbeda dengan data BPS. "Ketika BPS menyampaikan > angka pertumbuhan 6,35 persen, di saat bersamaan > Departemen Keuangan memperkirakan pertumbuhan hanya > sekitar 5,5 persen. Ini menunjukkan > ketidakhati-hatian dalam perhitungan ekonomi," ujar > Ichsanuddin Noorsy. (Yuliana) > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Bacalah artikel tentang Islam di: http://www.nizami.org __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/Tcy2bD/SOnJAA/cosFAA/GEEolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Bantu Aceh! Klik: http://www.pusatkrisisaceh.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
