Membandingkan Eva  Morales dengan  Pemerintahan SBY-JK  
              Oleh: Ari Kristianawati
          Sinar Harapan, 12/01/06
  Eva Morales,  mantan aktifis pembela hak-hak suku Indian dan komunitas petani 
Koka,  mengemukakan tekad akan memotong gajinya dan gaji para anggota kongres 
serta  aparatur birokrasi sampai 50%. Tekad itu jarang dijumpai di kalangan 
pemimpin  negara-negara dunia ketiga.
      Pemotongan gaji  ini didasari beberapa alasan. Pertama, untuk mewujudkan 
kepedulian sosial  terhadap penduduk Bolivia yang rata-rata berpenghasilan 
rendah. Kedua, sebagai  langkah penghematan anggaran negara agar bisa surplus 
untuk membiayai program  jaminan sosial. Ketiga, untuk menunjukkan prinsip 
kepemimpinan yang equal dan  populis.
      Morales yang  memenangkan lebih dari 52,4% suara, mengikuti tren 
negara-negara Amerika  Selatan seperti Brazilia, Argentina, Uruguay, yang 
pemimpinnya kini berhaluan  sosialis-demokrat, yang berpandangan 
anti-globalisasi neo-liberal dan  anti-dominasi Amerika Serikat. Dalam masa 
kampanye ia mengumbar janji di  antaranya melindungi eksistensi masyarakat adat 
Indian dan petani Koka, yang  menghasilkan kokain yang di Bolivia menjadi 
sumber obat-obatan tradisional.
      Ia pun akan  menjadikan negara sebagai alat untuk memakmurkan seluruh 
rakyat dan bukannya  sebagai alat untuk melindungi kepentingan modal serta 
sistem ekonomi  kapitalisme.
      Kemenangan  Morales dalam pemilu Bolivia awal Desember 2005 identik 
dengan kemenangan  Susilo Bambang Yudhoyono –Jusuf Kalla (SBY-JK) dalam pemilu 
Presiden Indonesia  pada September 2004, yakni keduanya memiliki popularitas 
tinggi.
      Namun bedanya,  popularitas Eva Morales dibangun dari perjuangan 
mengadvokasi penindasan  komunitas adat dan masyarakat miskin di Bolivia, 
sedangkan SBY-JK dari produk  pembentukan citra media. Morales dalam masa 
kampanye mengungkapkan janji-janji  yang idealis sama dengan SBY-JK. Bedanya, 
Morales melancarkan argumentasi  alternatif terhadap sistem kapitalisme dan 
ekonomi pasar. Sedangkan janji-janji  SBY-JK tidak dilandasi alternatif atas 
sistem ekonomi kapitalisme  crony-birokrasi yang telah mengakar semenjak Orde 
Baru.
       
      Tidak Tulus
      Menjelang  kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, SBY-JK dan para menteri 
tak  henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk menghemat BBM karena stoknya di  
Indonesia semakin menipis. Untuk awalnya, pemerintahan SBY-JK dan para menteri  
memberi contoh dengan tidak lagi menggunakan jas dengan asumsi akan mengurangi  
beroperasinya AC di Istana. Beberapa gubernur dan bupati serta anggota DPRD  
naik kuda atau sepeda ke kantor.
      Namun  contoh-contoh itu hanya lips service karena di tengah beban 
kenaikan BBM per 1  Oktober, mereka menaikkan anggaran kepresidenan dan 
berbagai lembaga  pemerintahan rata-rata 40%. Demikian pula para wakil rakyat 
di DPR mengajukan  kenaikan tunjangan Rp 10 juta per bulan. Pemerintahan SBY-JK 
juga semakin  melukai rasa ketidakadilan publik manakala akhir Desember 
menyatakan akan  menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) yang jumlahnya 3,5 
juta rata-rata  15-30% dan tunjangan struktural pejabat 50%.
      Kesemuanya itu  akan menghabiskan anggaran Rp 17 triliun. Padahal 
pemerintah SBY-JK  berulang-ulang menyatakan akan menghemat dengan beragam 
cara, termasuk memotong  subsidi BBM secara bertahap sebesar Rp 20 triliun per 
tahun hingga untuk  beberapa tahun ke depan subsidi BBM di nol persen. 
Sebaliknya, alokasi belanja  pegawai negara dinaikkan terus menerus setiap 
tahunnya, yang akhirnya akan  menyedot anggaran negara baik di pusat maupun 
daerah.
      Apa yang bisa  dipetik dari perbedaan di atas adalah: Morales memimpin 
dengan contoh  keteladanan penuh, sedangkan pemerintahan SBY-JK dengan contoh 
keteladanan yang  tidak tulus. Antara Eva Morales dan SBY-JK juga ada perbedaan 
dalam memahami  desain makro ekonomi nasional. Eva Morales tidak mempercayai 
sistem ekonomi  pasar (baca: neoliberalisme/kapitalisme), sedangkan SBY-JK 
sangat mempercayai  mazhab teori ekonomi pasar beserta dalil-dalil dan turunan 
kebijakan  mikro-ekonominya.
       
      Ala Orde Baru
      Tidak  mengherankan Eva Morales merumuskan tiga program ekonomi mendesak 
yangakan  dilakukan pada 2 tahun pertama awal pemerintahannya, yakni: Program 
penjaminan  sosial bagi masyarakat miskin yang produktif di bidang 
pendidikan-kesehatan,  program nasionalisasi migas dan nasionalisasi perusahaan 
asing untuk kemakmuran  masyarakat, dan program penguatan hak-hak 
sosial-ekonomi-budaya masyarakat.
      Sedangkan  pemerintahan SBY-JK, program-program ekonominya masih sewatak 
dengan  pemerintahan Orde Baru, Orde Transisi Habibie, dan Megawati yang gemar  
melakukan privatisasi (baca: menjual) perusahaan negara ke pemodal asing,  
program penghapusan subsidi masyarakat karena dianggap beban bagi anggaran  
negara, serta program tetap pembayaran utang LN untuk meraih kepercayaan asing. 
 Serta pula program liberalisasi ekonomi (pasar) sehingga terjadi proses  
pemiskinan struktural bagi petani dan buruh di Indonesia.
      Apakah Indonesia  akan semakin terpuruk oleh kemiskinan massal, jeratan 
utang luar negeri,  munculnya kesenjangan ekonomi yang dibumbuhi korupsi yang 
merajalela? Ataukah  Bolivia yang akan terpuruk dalam kemiskinan dan 
keterbelakangan sosial? Masa 1  tahun pemerintahan SBY-JK memang secara 
periodisasi politik tidak bisa  dibandingkan dengan 1 bulan pemerintahan Eva 
Morales.
      Namun andaikata  pemerintahan SBY-JK dibandingkan dengan pemerintahan 
pemimpin berideologi  kerakyatan di Argentina, Brazil, Uruguay yang berusia 
lebih dari 3 tahun, jelas  Indonesia bisa dikatakan “lebih buruk” dibanding 
kinerja pemerintahan sosial-demokrat  di Brazilia dan Argentina yang negaranya 
tidak pernah masuk 10 besar negara  terkorup di dunia.
       
      Penulis adalah aktifis perhimpunan CITRA KASIH, Jawa Tengah
     
  

                
---------------------------------
Yahoo! Photos – Showcase holiday pictures in hardcover
 Photo Books. You design it and we’ll bind it!

[Non-text portions of this message have been removed]



Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke