Bila dijaga dan dirawat dengan benar, perpaduan antara kepercayaan, perempuan, dan uang, ternyata bisa menjadi senyawa ampuh untuk resep umur panjang sebuah perusahaan keluarga. Itulah yang dibuktikan Les Hénokiens, suatu perkumpulan perusahaan keluarga di mana perusahaan para anggotanya telah berusia paling sedikit 200 tahun.
Oleh Rusdi Mathari PULUHAN orang yang mengendalikan perusahaan-perusahaan paling tua di dunia, 19 Oktober lalu berkumpul di Brussels, Belgia. Mereka memenuhi undangan dari D'Ieteren pemilik firma D'Ieteren yang mengelola museum pribadi bernama Galeri D'Ieteren untuk menghadiri pertemuan tahunan yang ke-26 dari Les Hénokiens. Nama yang disebut terakhir adalah sebuah wadah perkumpulan dari perusahaan-perusahaan keluarga yang telah beroperasi paling sedikit sejak 200 tahun yang lalu. Tak ada agenda khusus dalam pertemuan itu. Acara mereka antara lain hanya diisi pertemuan dengan Günther Verheugen dari Komisi Eropa dan Patrick Adenauer dari Asosiasi Perusahaan Keluarga Jerman. Mereka kemudian sepakat untuk menjadikan masa depan ekonomi di Eropa menjadi lebih baik dan memutuskan untuk menerima keanggotan baru dari perusahaan Belanda dan Perancis. Hanya itu. Selebihnya hanyalah bersenang-senang dan berbagi pengalaman tentang perusahaan- perusahaan yang mereka urus. Anggota baru dari Belanda adalah De Kuyper, perusahaan keluarga yang berdiri sejak 1695 yang memperoduksi minuman keras. Dan dari Perancis adalah Bank Jean-Philippe Hottinguer yang berdiri sejak 1786. Dengan demikian jumlah anggota Hénokiens menjadi 40 perusahaan pada tahun ini, setelah sejak 1981 hanya berjumlah 30 perusahaan. Semua perusahaan itu bisa bertahan sampai sekarang disebabkan oleh tradisi kuat untuk menjaga kepercayaan, bangga dengan perusahaan, dan tentu saja berlimpah uang. Hénokiens yang diambil dari nama panjang Nabi Nuh di Kitab Genesis, didirikan di Perancis pada 1981. Nama Nuh diambil karena cerita tentang perjalanannya di muka bumi selama 365 tahun tanpa henti dan kemudian dia naik ke surga (lihat the Economist, 16 Desember 2004). Anggotanya ketika itu meliputi tujuh negara di dunia yang sebagian besar berasal dari Eropa. Setiap tahun pada setiap menjelang musim dingin, anggota Hénokiens sejak itu mengadakan pertemuan dan nyaris tanpa agenda apapun kecuali hanya bersenang-senang. Oktober tahun lalu mereka bertemu di Italia dan bertindak selaku tuan rumah adalah Franco Torrini's pemilik Florentine yang berdagang berlian dan permata sejak 1369 dan Oktober tahun depan mereka akan berkumpul di Jepang. Perusahaan tertua anggota Hénokiens adalah Hoshi sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di bisnis penginapan (losmen) di Komatsu, Jepang sejak 718. Dengan prinsip "Berhati-hatilah dengan api, belajarlah dari air, dan bekerjalah secara alami", Hoshi sampai sekarang masih bertahan dan dikelolah oleh ahli waris pendiri Hoshi yaitu Zengoro Hoshi generasi ke-46 dari Keluarga Hoshi. Tapi di Jepang, Hoshi bukanlah perusahaan keluarga tertua karena menurut William O'Hara dalam buku Sukses Berabad-Abad, Kongo Gumi yang bergerak di bisnis bangunan dan pondokan adalah perusahaan keluarga yang usianya jauh lebih tua dari Hoshi. Perusahaan itu berdiri sejak 578. Kecuali Hoshi, anggota Hénokiens yang lain adalah perusahaan- perusahaan yang berdiri pada tahun seribuan. Misalnya Yohanes Brooke & Son dari Inggris, perusahaan keluarga yang ditemukan oleh Huddersfield pada 1541. Perusahaan ini bergerak di bisnis tekstil dan pernah memasok pakaian tentara pada perang Trafalgar dan Perang Dunia II. Sekarang, perusahaan ini telah meninggalkan pabrikasi dan menjadikan pabriknya menjadi semacam taman bisnis yang bisa dikunjungi para turis. Ada juga Canang Zildjian dari Massachusetts perusahaan keluarga tertua dari Amerika Serikat. Ziljian sampai sekarang dikenal sebagai produsen drum dan alat-alat perkusi ternama dan telah berdiri sejak 1623. Dari sejarahnya, Ziljian sebenarnya tak benar-benar berdiri di Amerika karena keluarga pendirinya baru pindah ke Amerika pada 1909. Perusahaan yang mungkin lebih asli Amerika adalah Perkebunan Tuttle di New Hampshire yang juga menjadi anggota Hénokiens. Sampai sekarang Tuttle telah melewati 11 generasi keluarga. Tak mudah untuk mengatakan mengapa perusahaan-perusahaan keluarga berusia tua itu hingga kini sanggup bertahan. Sangat sulit juga untuk menduga, apakah perusahaan-perusahaan itu benar-benar berusia tua, sungguh-sungguh perusahaan keluarga atau hanya semacam asoasi perdagangan dari komunitas religius kala itu. Sebagai contoh adalah Château de Goulaine. Perusahaan ini bergerak di bidang produkis minuman anggur, mempertontonkan kupu-kupu dan menggunakan benteng Château de Goulaine sebagai kantonya. Tapi apakah Château de Goulaine adalah benar-benar bisnis keluarga berusia seribu tahun atau hanya sekadar benteng tua yang bagus lalu dimanfaatkan baru-baru ini untuk menjual anggur dan mempertontonkan kupu-kupu? Itu yang tak terjawab, tidak juga di situs Le Hénokiens (www.henokiens.com). Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan kepada Shore Porters' Society yang berdiri sejak 1498 dan sekarang dikenal sebagai perusahaan transportasi. Perusahaan ini sebenarnya adalah badan semi publik yang baru mandiri setelah 1850. Sementara pada masa itu, bisnis pengangkutan semacam Shore Porters' sudah bisa dijumpai di mana-mana di Eropa. Lalu sejak kapan bisnis asli mereka dimulai? Jika diteruskan, perdebatan tentang hitungan umur perusahaan- perusahaan tua itu, barangkali lebih panjang dibanding usia perusahaan-perusahaan tersebut. Namun Hénokiens memang unik dan mungkin juga menarik mengingat di dalamnya berkumpul perusahaan-perusahaan berusia panjang (tua), dikelola oleh keluarga dan terus bertahan hingga sekarang. Sejak dibentuk pada 1981 atas prakarsa Marie Brizard, sebanyak 174 perusahaan di dunia tertarik untuk bergabung dengan Hénokiens tapi hanya 30 perusahaan keluarga yang kemudian benar-benar dinyatakan bisa masuk sebagai anggota perkumpulan. Mereka dipilih setelah memenuhi sejumlah syarat sebagai anggota Hénokiens. Selain harus berusia minimal 200 tahun, syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota Hénokiens cukup banyak dan relatif susah. Syarat-syarat itu antara lain perusahaan masih tetap beroperasi dan dikelola oleh keluarga. Kepemilikan modal dalam perusahaan juga ditentukan, yaitu masih sebesar 50 persen dari keseluruhan modal yang ditanam. Syarat lainnya, kinerja keuangan perusahaan harus dinamis yang ditunjukkan dalam laporan keuangan tahunan dan tetap berpengaruh pada pasar di negara masing-masing (lihat www.family-business-succession.com). Dengan syarat semacam itu, Hénokiens seolah hendak mematahkan banyak analisis ekonomi atau mungkin juga spekulasi tentang daya tahan sebuah perusahaan keluarga. Pada 1970 misalnya, majalah Fortune pernah menulis, sepertiga dari 500 perusahaan besar dunia akan terpaksa melakukan merger, akuisisi, bangkrut atau dipisah hingga paling lama pada 1983. Leslie Hannah, sejarawan bisnis di Universitas Tokyo juga pernah mengungkapkan bahwa rata-rata "daya hidup" dari 100 perusahaan raksasa dunia hanya mampu ditopang dengan kapitalisasi selama 75 tahun dalam abad 20. Namun Hénokiens membuktikan bisa bertahan dari semua perkiraan ahli ekonomi tentang usia perusahaan keluarga. Apa yang menyebabkan perusahaan-perusahaan itu bisa bertahan hingga ratusan tahun? Menurut O'Hara, unsur keberuntungan memainkan peranan penting di perusahaan-perusahaan tua yang tergabung dalam Hénokiens selain faktor kepercayaan di dalam keluarga. Faktor lainnya adalah karena peranan perempuan dan penerimaan manajer baru, ketika generasi yang lebih tua telah terserang usia yang tandus. *Artikel lain bisa dibaca di http://www.rusdimathari.wordpress.com
