Asw wr wb, pak Nizami dan pak Hario. Hati nurani saya sih sebenarnya mengakui kebenaran dan sekaligus juga 100% menyepakati pendapat bapak2 bahwa Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negri. Tentunya ‘embargo’ itu harus kompak, belanja pemerintahnya (APBN dan APBD) juga belanja masyarakatnya (belanja perusahaan swasta dan belanja rumah tangga masing2 pribadi anggota masyarakatnya). Dan saya juga yakin kalau itu bisa dijalankan pasti akibatnya akan baik bagi perekonomian nasional Indonesia dan eksesnya akan sangat terasa memukul bagi kepentingan usahanya Zionis Yahudi Laknatullah beserta antek-anteknya.
Cuma saya kok gak yakin ya bahwa hal itu bisa dilakukan. Mengapa ?. Pertama-tama, kita (bangsa Indonesia) paling tidak pada saat ini, boleh dibilang sebagai lagi paceklik (tidak mempunyai) pemimpin nasional yang mampu menjadi solidarity maker bagi gerakan tersebut. Tanpa adanya figur pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi untuk menggalakkan gerakan embargo mengkonsumsi produk luar negeri maka tak mungkin akan dapat dilaksanakan program Indonesia yang harus mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negri. Jangankan soal komitmen, soal nawaitu menuju kesana pun rasanya nihil. Apakah ada aturan yang mengatur alokasi belanja di APBN dan APBD yang mendukung pelaksanaa program pengasurtamaan sekaligus affirmative action bagi produk dalam negeri ?. Nol besar. Lha, kalau formal pemerintahnya saja tak ada niatan kesitu, bagaimana mungkin akan mengajak masyarakatnya untuk melakukan gerakan mencintai dan mengutamakan serta mengkonsumsi produk dalam negeri ?. IPTN, PAL, Industri-industri strategis kita yang lainnya malahan dibiarkan merana ‘rindu order’, sementara budget ABPN / APBD digelontorkan untuk memborong produk impor. Kedua, psikologi kita (masyarakat Indonesia) paling tidak untuk saat ini, boleh dibilang lagi mengalami kecanduan produk luar negeri. Kecanduan itu terjadi di semua strata masyarakatnya, dari golongan paling jet set sampai.yang paling gembel sekalipun, pokok luar negeri minded. Rasanya belum bisa disebut pekerja kantoran yang sukses dan bergengsi serta prestige, jika baju kerjanya bukan bermerk Marks & Spencer dengan di sakunya terselip ballpoint mountblanc misalnya, atau tali ikat yang melingkari pinggang celananya bukan dari dupont atau etienne aigner misalnya. Minumnya pun Coca Cola, makan siang di McDonald’s, pulang kerja ngopi dulu di Starbuck. Dan seabreg lainnya, termasuk belanja rumah tangga tentu Carefour dong, yang pajangan barangnya pun banyak impornya. Belum lagi jika mengingat bahwa hampir semua pabrik yang memproduksi barang di dalam negeri kita sendiri pun pada dasarnya adalah miliki oleh perusahaan luar negeri. Notabene groupnya para Yahudi itu. Lha dengan sikon yang seperti itu pak, gimana bisa pak kok kita disuruh mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negeri ?. Mana tahan... Wass wr wb. *** [email protected] menulis : Wa'alaikum salam, Iya. APBN sekitar Rp 1.000 trilyun. Nah daripada uang tsb dipakai untuk membeli produk2 asing, lebih baik dipakai untuk memperkaya bangsa sendiri. Indonesia harus buat produk sendiri seperti sepatu, baju, motor, mobil, dsb. Sudah saatinya bangsa ini mandiri. Wassalam *** hari...@yahoo. com menulis: Assalaamu alaikum, Pak Taufik dan milisers, Boleh memberi pendapat dari sudut yang berbeda, ya, Pak. Mau memberi komentar dari sudut perekonomian Indonesia. Terus terang pemikiran saya diilhami oleh email sebelumnya yang masuk ke milis kita ini, dari Pak Firdaus Ibrahim tanggal 5 November 2008. Di email itu, diceritakan ada seorang pengusaha asal Singapura, yang terkagum-kagum akan kekayaan Indonesia (Indonesia doesn't need the world, the world needs Indonesia), dan menyarankan kalau bangsa kita ingin maju, maka semestinya orang Indonesia mengkonsumsi produk Indonesia sendiri, dan menghentikan konsumsi produk luar. Ekstrimnya, Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negri. Untuk lebih jelasnya, bisa dibuka kembali email tersebut, terarsip di webpage milis kita ini. Kalau saja orang-orang tergerak untuk menghentikan konsumsi barang-barang dari luar negeri, dan mengkonsumsi barang-barang kita sendiri, seperti yang sering dikemukakan oleh para suhu milis ini (Pak Imam, Pak Agus, dan Bapak-Bapak yang lain), sepertinya perekonomian Indonesia akan lebih cepat pulih dari krisis ekonomi ini. Dan efek sampingnya, karena kebanyakan produk yang masuk di Indonesia lebih banyak dari barat, terutama dari Amerika Serikat yang menurut beberapa pihak membela kepentingan Israel, maka penurunan konsumsi barang-barang mereka oleh bangsa Indonesia akan berdampak negatif terhadap pendapatan mereka. Mungkin jawaban ini terlalu menyederhanakan masalah, karena mungkin nalar saya hanya sampai segini saja. Silahkan rekan-rekan milis yang lain untuk urun rembug terhadap masalah ini. wassalaam, hario --------------------------------- Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org --------------------------------- Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di Yahoo! Indonesia Top Searches 2008. http://id.promo.yahoo.com/topsearches2008
