Dari milis sebelah :

---------- Forwarded message ----------
From: interfaithindonesia <[email protected]>
Date: 2009/1/19
Subject: [SurauNet] Ada Wall Street di balik acara pelantikan Obama
To: [email protected]


  Januari 2009, awal tahun dunia dihebohkan oleh Acara Inagurasi
pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Barack Obama.
Bahkan, sampai merambah hampir semua media di Indonesia yang
menyiapkan acara spesial, maupun Obama Fans Club di Indonesia yang
siap nonton bareng. Sebuah magis dari Industrialisasi Politik, yaitu
keriaan (marketing tools) menjadi ruh pembentukan persepsi yang
dimulai dari segmentasi acara berbasis ngepop.

(SurauNet): Bagi saya pribadi, momen ini mengingatkan saya ke dua
bulan Januari di rentang waktu tiga tahun yang lalu.

Pertama, Januari 2006 saat saya mempersiapkan makalah dengan judul
Working Rights, the Soul of Human Rights Economics: Global Union
Solidarity Action For Balancing the Implication of Flexible Labor
Market In Developing Country (Case Study Securicor Indonesia Trade
Union) [yang terdokumentasi di
http://www.elrizky.net/pembicara.php?opt=1&id=169]

Makalah tersebut saya persiapkan untuk memenuhi undangan ILR
(Industrial and Labor Relations), Cornell University (New York) yang
menggelar acara Global Companies - Global Unions, Global Research -
Global Campaigns di the Crowne Plaza Times Square New York City,
February 11, 2006. Makalah tersebut juga saya siapkan untuk acara
Lawyer Conference di Columbia Law School (New York) 12 Februari 2006.

Kenapa keriaan inagurasi Obama mengingatkan kunjungan saya ke New York
dengan First Class Singapore Airlines dan menginap di hotel tepat di
depan Broadway Theatre tempat orang kaya nonton teater.

Justru, yang mengingatkan saya adalah donatur yang membiayai saya ke
kota termahal dengan atribut akomodasi 'first class.'

Kebetulan donatur saya tersebut, SEIU (Service Employee International
Union).

Perkenalan tersebut difasilitasi Solidarity Center, ACILS Indonesia-,
juga merupakan donatur awal saat Obama mendedikasikan diri menuju
pemilu Presiden AS 2008.

Saya memperoleh data dari Center for Responsive Politic (CRP) bahwa
tahun 2004-2006, paska terpilih sebagai senator Obama telah
mempersiapkan pilpres.

Dimana, penopang awalnya adalah organisasi buruh di AS. Disitulah
interaksinya, dimana SEIU merupakan donatur bagi awal langkah Obama.
Setidaknya, saya dan Obama pernah memiliki persamaan, yaitu sama-sama
pernah merasakan alokasi 'solidarity union fund.'

Bicara soal donatur, saya jadi teringat kenangan bulan Januari
berikutnya. Yaitu, setahun lalu, Januari 2008. Saat itu, saya di Bali
berkesempatan berbicara di Public Forum Konvensi PBB tentang anti
korupsi (UNCAC).

Makalah saya berjudul 'The Role and Cotribution Private Sector in
Combating Coruption' [terdokumentasi di
http://www.elrizky.net/pembicara.php?opt=1&id=233].

Acara UNCAC di Bali ini adalah titik awal saya dapat memperoleh
data-data penyumbang kampanye di AS melalui lembaga riset CRP.

Di acara itu saya berkenalan dengan pembicara dari CRP, Larry
Makinson. Kami sempat makan sama-sama, dan menemukan kesamaan 'we must
follow the money to understanding political economy.' Ya, saya
menemukan apa yang saya cari 'data donatur.'

Sebuah perjumpaan yang menyenangkan dengan CRP, maupun kenangan saya
bisa datang ke pusat finansial dengan dana buruh. Saya merasakan dua
sisi mata uang sekaligus, dunia buruh dan kapital (finansial).

Sehingga, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah merasakan
dua dunia tersebut dalam karir maupun perjanalan hidup ini.

Dan, tergetar kembali kenangan tersebut di bulan Januari 2009, saat
Presiden Obama akan ber-inagurasi. Yaitu, donasi dibalik peristiwa
politik-ekonomi.

Bicara tentang donatur, SEIU sebagai penopang awal akhirnya dikalahkan
juga oleh stimulator pendanaan. Data CRP menunjukan Goldman Sach, yang
mulai melirik Obama di 2007, menjadi 'leader' dari masuk derasnya dana
kampanye Obama. Industri keuangan menjadi sektor yang tertinggi pula.

Berangkat dari 'citra awal' basis buruh yang dimiliki Obama. Seorang
aktivis buruh pernah bertanya ke saya, kenapa Obama memilih Timothy
Geither sebagai Menteri Keuangan. Untuk diketahui, Geither adalah
Gubernur New York Federal Reserve Bank. Wajar, kawan aktivis buruh di
Indonesia yang terfragmentasi 'gerakan anti neo liberal' terheran-heran.

Karena, fragmentasi tersebut telah melahirkan semacam konflik, bahwa
kapitalis keuangan adalah arsitek dari kegagalan sistem ekonomi di
sektor riil.

Geither adalah orang dengan atribut karir 'Wall Street' dengan
memimpin New York tempat pusat kapitalisme (keuangan) dunia.

Kalau dari sisi donatur, yang besar menentukan. Wajar saja, 'alumni
Wall Street' masih jadi pilihan.

Tapi, saya melihat alasan rasional lain dari Obama, yang justru
memikirkan dunia buruh sebagai akar penopangnya. Obama menjanjikan
banyak stimulus fiskal untuk menjamin rakyat AS bekerja (New Job for
All American, salah satu butir pidato kemenangannya).

Nah, belanja fiskal akan sangat membutuhkan banyak dana. Di penghujung
2008, struktur cadangan fiskal AS telah tersedot untuk mem-bail-out
industri keuangan yang bangkrut.

Dana talangan tersebut mengakibatkan aset perusahaan investasi menjadi
kantong kanan dari keluarnya uang negara di kantong kiri.

Nah, stimulus fiskal dari Obama membutuhkan uang di kantong kiri
keluar ke sektor riil.

Jurusnya ya butuh dana (cash flow) di kantong kanan. Posisi rekening
devisa AS (The Federal Reserve) menunjukan kantong kanan 99,1% berisi
kertas-kertas surat berharga (portopolio) di beragam pasar keuangan dunia.

Kalau kita bedah, bail out banyak dilakukan di New York. Jadi, Geither
pula lah yang mengetahui perubahan struktur aset AS itu sendiri. Itu
kenapa, saya pikir kenapa dia pula-lah yang terpilih menjadi Menkeu AS.

Karena dilihat dari keputusan politik dari Kongres dan Senat AS yang
menyetujui Bail Out, maka pihak eksekutif (The Fed dan Pemerintah AS)
diwajibkan menjamin proses pengembalian dana secara cepat. Itulah
kenapa, bursa dunia rontok.

Karena portopolio yang dimiliki perusahaan investasi dieksekusi 'jual'
oleh The Fed untuk segera menjadi Cash. Nah, stimulus fiskal yang
Obama janjikan kepada akar-nya (kaum buruh di sektor riil) jelas
membutuhkan realisasi tersedianya Cash, yang jalannya adalah eksekusi
portopolio.

Jadi, sejauh ini, saya belajar tentang 'kompromi' dari Obama. Yaitu,
bagaimana dia melakukan 'balancing' dari dua sisi mata uang yang
membesarkannya.

Kompromi akan menyenangkan semua pihak di AS. Wajar, karena Obama
adalah Presiden AS yang dipilih rakyat AS. Terlebih, data CRP
menunjukan inagurasi-nya pun dibiayai oleh 'wall street', yaitu:

1. Securities & Investment$3,603,000118
2. Lawyers/Law Firms $2,508,950175
3. Misc Business $2,191,127303
4. TV/Movies/Music $1,748,20049
5. Real Estate $1,570,80557
6. Business Services $1,307,45055
7. Misc Finance $1,176,75035
8. Homemakers/Non-income earners $1,132,440275
9. Retired $1,082,85035
10. Computers/Internet $1,029,75049

Semakin jelas bahwa 'wall street' tetap menanamkan kuku di setiap
pemerintahan AS. Presiden Obama, dengan Menkeu alumni 'wall street'
tetap akan memperhatikan kepentingan industri sekuritas. Lalu, kalau
monetaris akan abaikan sektor riil, apakah stimulus fiskal terganggu?.

Saya rasa tidak bagi AS, tapi 'belum tentu' bagi negara diluar AS yang
terkena episentrum krisis finansial AS.

Inilah, yang saya khawatirkan AS akan semakin memilih eksekusi
portopolio yang menggetarkan pasar keuangan negara lain.

Agar Dana fiskal diperoleh tanpa menganggu konsolidasi 'wall street'
itu sendiri. Kita (bangsa Indonesia) tak bisa banyak berharap ke
kekuatan eksternal akan membantu.

Terlebih ..

lanjut
http://www.surau.net/index.php?action=fullnews&id=156




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke