Dear friends, 

Sebenarnya lagi ‘males’ mengkritik pak SBY.
Karena itu dapat diartikan sebagai mendukung pak Sultan HBX.
Padahal kitorang masihlah belum sreg mendukungnya, sebab itu dapat berarti 
mendukung pula
kegemasan dan kegeraman istri permaisurinya terhadap telah disahkannya UU Anti 
Pornografinya, yg
kata beliau target perjuangannya adalah dicabutnya UU tersebut.
Wah, madep mantep tekadnya sama mantepnya seperti PKS dong, beliau madep mantep 
dalam demo Anti UU
tersebut, sdgkan PKS madep mantepnya dalam demo Anti Israel . 
He3x, asyik juga sih membaca ulasan2 di milis2 mengenai kegemasannya Calon Ibu 
Negara Republik
Indonesia ini saat melihat bulu dadanya bang Rhoma Irama. 
Jujur sih, kita orang juga masih seneng juga lihat yg porno-porno asyik tuh, 
termasuk menikmati
dari kejauhan betapa mulusnya paha wanita berbaju rok mini, juga masih demen 
memelototi belahan
dada yang menyembul dibalik kemben modern ala thank top, tontonan gratis sih, 
sayang dilewatkan,
ya nggak bro ?.

Sebenarnya juga lagi ‘sungkan’ ikutan mengkritik pak SBY.
Karena juga itu dapat diartikan mendukung ibu Megawati.
Padahal kita juga masih belum sembuh dari keterkejutan terhadap penjualan aset2 
negara secara
obral di zamannya berkuasa.
He3x, masih teringat betapa asyiknya membaca pula ulasan2 dimasa lalu di milis2 
mengenai ibu
mantan Presiden yang katanya sempat terpeleset ‘minyak/gas’ sewaktu melantai di 
lantai dansa
saat kunjungan ke Beijing dahulu. 

Tapi, nyuwun sewu ya, bahwa benar juga ya zaman pak SBY mulai berkuasa harga 
premium Rp.
1.800/liter,
Dinaikan 3x  Rp. 6.000/liter, dan saat ini setelah diturunkan 3x jadi Rp 
4.500/liter.

Jadi kalau mau jujur iklan soal prestasi di bidang BBM itu sih harusnya 
menyebutkan bahwa harga
premium dari Rp. 1.800/liter menjadi Rp 4.500/liter. 
Dan, kurs USD dari Rp 9.000/1 US$ jadi Rp 11.500/1 US$ .
Lha itu baru fair.
Begitu friends ?

Oklah, yang penting happy2 aja siapapun presidennya, ya nggak friend ?. peace 
man !!!.

(He3x, judul postingannya buagus banget lho : Alhamdulillah BBM 3 x Turun dan 3 
x Naik ! .
So, harusnya harganya balik ke semula dong ?  ).



A Nizami  menulis :

Di iklan2 TV digambarkan masyarakat Indonesia sangat bersyukur karena BBM 3 x 
turun hingga BBM
jadi murah. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah !.

Buat kampanye sih sah-sah saja hal yang positif dikemukakan.
Tapi kalau cuma satu sisi saja, rasanya kurang baik. Nanti akhirnya SBY dan 
Partai Demokrat jadi
cepat puas sehingga malas membuat perubahan yang lebih baik untuk rakyat.

BBM (Premium) memang turun dari Rp 6.000/liter
 jadi Rp. 5.500, Rp 5.000,
kemudian Rp 4.500/liter.
BBM turun 3x.

Harap diingat pula, di zaman SBY pula BBM naik sampai 3 kali !.
Kalau turun besarnya hanya 10% atau kurang,
ketika naik justru sampai 125%  !.

Silahkan baca di sini:
http://capresindonesia.wordpress.com/category/bbm/pendukung-kenaikan-harga-bbm/

BBM ketika SBY baru berkuasa premium Rp. 1.800/liter.
Kemudian naik jadi Rp. 2.400/liter.
Lalu naik jadi Rp. 4.500/liter.
Kemudian jadi Rp. 6.000/liter.
Itu pun BBM dan gas sering langka dan masyarakat sering antri.

Kalau pun harganya sekarang kembali jadi Rp. 4.500/liter, tetap saja itu harga 
tertinggi karena
zaman presiden sebelumnya harga premium tidak setinggi itu.

Selain itu dengan harga minyak dunia US$ 40/barrel
(harga nymex.com saat ini hanya US$ 34/barrel)
dan kurs rupiah= Rp. 11.000/1 US$,
harusnya dengan harga "PASAR" premium cukup Rp. 3.800/liter
(1 barrel=159 liter).
Jadi harga premium saat ini masih di atas harga pasar.

Jika harga minyak ditetapkan sekedar di atas HPP (pemerintah untung ala 
kadarnya) di mana 1 juta
bph diproduksi sendiri serta hanya 0,2 juta bph diimpor dari luar, maka dengan 
harga Rp.
2.400/liter saja pemerintah sudah untung !.

Oleh karena itu jika pemerintah SBY-JK benar2 peduli rakyat, turunkan BBM 
hingga Rp 3.000/liter.
Meski ini tetap lebih tinggi dari harga Rp 1.800/liter ketika SBY baru berkuasa,
namun ini akan meringankan rakyat.

Dengan anjloknya nilai rupiah dari Rp 9.000/1 US$ jadi Rp 11.500/1 US$ juga 
menunjukkan
kemunduran.
Zaman Habibie rupiah=Rp 7.000/1 US$
Zaman Gus Dur dan Mega rupiah = Rp 8.000/1 US$
Zaman SBY rupiah = Rp 11.500/1 US$

Ini adalah satu kemunduran.
Tak heran jika supir angkutan umum menolak turun dari Rp 2.500 ke Rp 2.000,
karena harga makanan warteg sudah naik dan suku cadang kendaraan juga naik 
akibat anjloknya nilai
rupiah.

Semoga ini bisa jadi bahan evaluasi bagi tim SBY.
Jangan ABS (Asal Bapak Senang).
Tapi lakukan yang terbaik bagi rakyat.

***






  
---------------------------------
  
  Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
  klik
  http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org
    
---------------------------------
  



      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke