Kesalahan ucap pada waktu mengucapkan ijab dan kabul dapat mengakibatkan tidak 
sahnya akad nikah.
Begitu juga rupanya dengan pengucapan sumpah pada pelantikan Presiden Amerika 
Serikat. Obama, pada
hari Kamis tanggal 22 Januari 2009  di Gedung Putih terpaksa disumpah lagi, 
akibat  Ketua MA John
Roberts yang memimpin jalannya penyumpahan pada waktu yang lalu, tak berurutan 
mengucapkan sumpah.

Terlepas dari pengulangan sumpah itu, ternyata pelantikan Obama tak memberikan 
reaksi positif pada
pada saham. Harga saham di berbagai bursa global masih terus merosot, eforia 
pelantikan Presiden
Barack Obama tak membawa sentimen positif ke pasar modal. Memang, ekspetasi 
yang terlalu
berlebihan itu hanyalah akan menuai kekecewaan yang dalam pula. 

Umat Islam pun tak boleh terbuai, karena dilihat dari kacamata kepentingannya 
umat Islam, Obama
itu tak akan memberikan perubahan yang berarti. Sesungguhnya, persahabatan 
Obama dengan Rashid
Khalidi, warga Palestina-Amerika di Chicago, tentunya telah membuat Obama 
banyak mengetahui persis
anatomi masalah konflik di kawasan Palestina.  Namun itu saja tak akan cukup, 
tetap saja arah
keberpihakannya akan tetap kepada Israel. Hal itu telah diperlihatkan Obama 
mulai masa kampanye
Pemilihan Presiden AS. Wajarlah jika pada saat mesin-mesin perang IsrHell mulai 
membunuh secara
membabi buta tanpa mempedulikan sasaran anak-anak ataupun perempuan, Obama 
malah berlibur ke
Hawaii. Padahal, ketika Mumbai diserang, mantan senator dari negara bagian 
Illinois ini
menyampaikan pernyataan yang sangat detail.

Maka umat Islam haruslah sadar, tak mungkin umat Islam dapat menggantungkan 
harapannya kepada
seorang Presiden Amerika Serikat yang mengucapkan sumpah jabatannya di bawah 
naungan Masonic Bible
yang merupakan salah satu versi Injil yang selain memuat ilustrasi fragment 
‘sejarah kaum
Yahudi’ juga keseluruhan catatan kakinya berpandangan mendukung klaim 
Zionis-Yahudi atas Tanah
Palestina. 

Jadi ?.  Ya, Obama itu tak lebih dari seorang politikus, dan Amerika Serikat 
dibawah kepemimpinan
Presiden Obama akanlah tetap menjadi Amerika Serikat yang Zionistik.  Belive it 
or not !. 

Wallahu’alambishshawab.

*****

Jika Anda menyaksikan pidato pengukuhan Obama sebagai Presiden AS ke-44, 
terdapat insiden unik.
Ketua Mahkamah Agung (MA) John Roberts yang memimpin jalannya penyumpahan, tak 
berurutan
mengucapkan sumpah. 

Akibatnya, Obama disumpah lagi. Reuters melaporkan, pembacaan sumpah kedua itu 
dilakukan di Gedung
Putih pada Rabu waktu setempat atau Kamis (22/1/2009) waktu Indonesia. 
Penyumpahan kedua bagi
Obama ini dilakukan di depan para wartawan oleh Roberts.  

Saat disumpah pada hari Selasa waktu setempat dan disaksikan lebih jutaan orang 
di tengah cuaca
dingin, Obama sempat terdiam sejenak setelah menirukan sumpah yang diucapkan 
Roberts. Dia
sepertinya merasa ada yang tidak beres pada sumpah yang hanya 35 kata itu. 
Akhirnya John Roberts
mengulang lagi bacaan sumpahnya namun tetap tidak benar. Akhirnya Obama tetap 
menirukan sumpah
yang diucapkan Roberts itu.

Gedung Putih menyatakan, sumpah kedua ini dilakukan karena banyaknya keluhan 
yang ditujukan pada
Gedung Putih.

Ketua MA Salah Ucap : Obama Disumpah Lagi. 
http://www.detiknews.com/read/2009/01/22/083042/1072552/10/obama-disumpah-lagi

*****

Harga saham di berbagai bursa global masih terus merosot menyusul tingginya 
sentimen negatif
investor terhadap laporan keuangan perbankan di berbagai negara. Eforia 
pelantikan Presiden Barack
Obama tak membawa sentimen positif ke pasar modal.

Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Rabu (21/1), indeks harga saham 
gabungan ditutup
melemah 22,69 poin atau turun 1,69 persen menjadi 1.321,45. Penurunan lebih 
tajam dialami
saham-saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ-45 dan Indeks Kompas100, 
yang masing-masing
anjlok 2,71 persen dan 1,97 persen.

Sama seperti beberapa hari sebelumnya, nilai perdagangan saham kemarin masih 
rendah, yaitu Rp 1,31
triliun. Dari 173 saham yang diperdagangkan, sebanyak 32 saham naik, 95 saham 
turun, dan 46 saham
tetap. Saham-saham yang tergabung di sektor keuangan mengalami penurunan yang 
paling tajam, dengan
rata-rata sebesar 4,14 persen.

Kinerja bank-bank asing.

Saham Bank Danamon tercatat mengalami penurunan paling parah, yaitu 14,56 
persen menjadi Rp 2.200,
disusul saham Bank BNI turun 7,79 persen menjadi Rp 710. Pelemahan indeks bursa 
dalam negeri ini
seiring dengan penurunan indeks bursa regional dan global.

Direktur Utama PT Financorpindo Nusa Edwin Sinaga mengatakan, di mata investor, 
pelantikan Obama
sebenarnya tidak lebih dari sekadar seremoni saja. ”Bagi investor, yang paling 
penting adalah
kinerja kabinet Obama ke depan”, katanya.  Menanggapi semakin tergerusnya harga 
saham-saham
perbankan di Indonesia, pengamat pasar modal dan perbankan, Mirza Adityaswara, 
mengatakan, hal itu
akibat pengaruh sentimen investor terhadap buruknya kinerja perbankan global, 
seperti Bank of
Amerika, Citibank, dan Royal Bank of Scotland (RBS).

”Jika perbankan global masih rugi besar, maka sektor riil dunia tidak bisa 
bergerak”, katanya.
Menurut Mirza, kondisi fundamental perbankan nasional sebenarnya cukup baik 
karena bank-bank besar
dan menengah memiliki likuiditas yang kuat serta pencadangan kredit dan rasio 
kecukupan modal yang
tinggi.

Saham Perbankan Semakin Tergerus : Obama Tidak Berikan Sentimen Positif.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/22/01192359/saham.perbankan.semakin.tergerus

*****

Kawasan yang diharu biru perang itu mendadak sepi. Israel yang selama tiga 
pekan mempertontonkan
kebiadabannya di harapan miliaran manusia di Planet Bumi 'mendadak cuti'. 
Padahal, perjanjian
gencatan senjata Israel-Hamas yang diupayakan Mesir belum berhasil. 

Benarkah karena Barack Hussein Obama segera menempati Gedung Putih ?. Bagaimana 
sebenarnya posisi
Obama dalam isu Israel-Palestina ?.

Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak (unilateral cease fire) pada Sabtu 
(17/1), bertepatan
dengan dimulainya empat hari pesta pelantikan Obama. Saat Obama naik kereta 
dari Philadelphia
menuju Washington DC, menapaktilasi perjalanan Abraham Lincoln; mesin-mesin 
perang Israel sebagian
buatan AS, seperti jet tempur F-15, F-16, dan helikopter Apache--tiba-tiba 
berhenti meraung. 
Pasukan Israel di Gaza dikabarkan mulai ditarik. Para pejabat militer Israel 
menyatakan pasukan
ditarik ketika Barack Obama dilantik. Situs milik harian Israel, Haaretz, 
memasang gambar serdadu
Israel yang mengenakan kaus, memanggul ransel besar, dan menuju tempat 
pemberhentian bus untuk
pulang ke rumah. Sejak Sabtu sampai kemarin, yang terlihat hanya warga Gaza 
yang termangu di depan
puing.

Hamas, pihak yang sejatinya sah sebagai penguasa Palestina karena memenangkan 
pemilu yang
demokratis, tapi diingkari termasuk oleh AS-  juga mengumumkan gencatan senjata 
pada Ahad (18/1).
Sejak itu, roket Al-Qassam tak lagi diterbangkan ke selatan Israel. Meski 
demikian, Hamas tetap
siaga. 

Belum adanya perjanjian perdamaian yang mengikat, membuat suasana Gaza masih 
rapuh. Seperti api
dalam sekam. Gaza yang hampir sebulan menjadi pusat perhatian dunia, sejak 
Sabtu lalu, mulai
digeser isu baru : pelantikan Obama. Dia akan menjadi presiden kulit hitam 
pertama di Gedung
Putih. Dia diharapkan lebih banyak melakukan perubahan dibanding pendahulunya, 
George Walker Bush,
yang mewariskan dua perang (Irak dan Afghanistan), krisis ekonomi yang terparah 
sejak 1930, serta
berbagai soal lainnya.

Tidak Bias.

Berharap Obama menyelesaikan masalah Palestina sesungguhnya tidaklah 
berlebihan. Persahabatannya
dengan Rashid Khalidi, warga Palestina-Amerika di Chicago, membuat Obama banyak 
mengetahui anatomi
konflik di kawasan itu. 

Dari persahabatan itu, juga pembicaraan di meja makan yang dikerap dilakukan 
Obama dengan Rashid
dan istrinya, Mona; Obama menyatakan pandangannya soal Palestina tak lagi bias. 
Dalam sebuah acara
yang digelar Rashid pada tahun 2003 lalu, Obama menyatakan, pembicaraannya 
dengan Khalidi itu
mestinya dibawa ke forum yang lebih besar. ''Kita akan melanjutkan percakapan 
yang diperlukan,
tidak hanya seputar meja makan Mona dan Rashid, tapi (percakapan yang 
melibatkan) seluruh dunia'',
kata Obama. 

Obama berharap 'pembicaraan besar' itu akan terealisasi beberapa tahun 
mendatang. Rashid sendiri
memang pendukung Obama sejak awal. Rashid pernah menyelenggarakan acara 
pengumpulan dana pada
tahun 2000 lalu. Saat itu, Obama sedang mengincar kursi Kongres. Saat itu, 
Obama gagal ke Capitol
Hill. Pidato-pidato Obama saat itu masih memperlihatkan kejernihan pandangan 
dalam menyikapi
konflik Israel Palestina. Dia menyatakan, AS perlu lebih banyak turun tangan 
dalam menanganinya.
Pada tahun 2007 lalu, kehebohan sempat muncul ketika Obama menyatakan, ''Tidak 
ada yang lebih
menderita lebih dari warga Palestina''. 

Saat kontroversi mulai muncul, Obama meredamnya dengan membuat penegasan bahwa 
maksud
pernyataannya itu, penderitaan disebabkan kekeliruan kepemimpinan di Palestina 
untuk mengenal
Israel, mengurangi kekerasan, dan membuat negosiasi perdamaian serius di 
kawasan.

Obama mulai memperlihatkan perubahan sikap dalam masa kampanye Pemilihan 
Presiden AS. Awal Juni,
Obama menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat mengalahkan Hillary 
Clinton.  Akhir Juni,
Obama melakukan pertemuan dengan lobi Israel yang berpengaruh di Capitol Hill, 
yaitu The American
Israel Public Affairs Committee (AIPAC). 

Setelah pertemuan itu, sikap Obama berubah drastis.  The Guardian menyatakan, 
Obama berkata kepada
AIPAC apa yang ingin mereka dengarkan. Obama antara lain menyatakan, ''Kita 
tahu bahwa kita tidak
bisa lunak, tidak bisa menyerah, dan sebagai presiden saya tidak akan pernah 
berkompromi jika itu
berhubungan dengan masalah keamanan Israel''. Bahkan, Obama menyatakan bahwa 
Yerusalem akan tetap
menjadi ibu kota Israel dan tetap tidak akan dibagi.

Pernyataan Obama yang lebih mencolok dikemukakannya saat mengunjungi 
Sderot--kota di kawasan
selatan Israel yang dalam tiga pekan agresi Israel sering diserang roket 
Hamas--pada 23 Juli 2008.


Saat itu, musim kampanye sedang berlangsung dan Obama sedang berhadapan dengan 
kandidat Partai
Republik, John McCain. Saat itu, gencatan senjata Israel-Gaza baru berumur 
sebulan karena diteken
pada 19 Juni. ''Jika seseorang mengirimkan roket ke rumah saya ketika dua putri 
saya tidur di
waktu malam, saya akan mengerahkan semua kekuatan yang saya miliki untuk 
menghentikannya'', kata
Obama di Sderot. Dalam pidato yang antara lain didengarkan langsung oleh 
Menteri Luar Negeri
Israel, Tzipi Livni dan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, itu Obama 
menegaskan, ''Saya
berharap Israel melakukan hal yang sama''.

Wartawan The Guardian, Niall Stanage, dalam tulisannya 'Obama breaks his 
silence on Gaza' pada 7
Januari lalu, mengkritik sikap Obama tentang isu Israel-Palestina, ''Sayangnya, 
pada saat di
Sderot itu, Obama tidak menyampaikan bagaimana sikapnya jika sebuah negara 
asing mengokupasi
wilayah AS, menembakkan misil ke sekolah-sekolah anaknya, dan membunuh (warga 
AS) di daerah
pendudukan itu.''

Pernyataan Obama itu, menurut Ehud Barak, merupakan justifikasi untuk 
melancarkan serangan.
''Obama mengatakan bahwa jika roket ditembakkan ke rumahnya ketika dua putrinya 
sedang tidur, dia
akan melakukan apa saja yang mungkin untuk mencegahnya'', katanya. 

Lima bulan kemudian atau 27 Desember 2008, Israel mengerahkan pasukannya untuk 
menyerang Jalur
Gaza, membunuh 1.300 orang Palestina, dan melukai 5.300 orang lainnya.

Prihatin.

Saat mesin-mesin perang Israel membunuh secara membabi buta, tak peduli 
anak-anak ataupun
perempuan, Obama malah berlibur ke Hawaii. 

Padahal, ketika Mumbai diserang, mantan senator dari negara bagian Illinois ini 
menyampaikan
pernyataan yang sangat detail. Begitu pun ketika dia membicarakan penanganan 
krisis ekonomi di AS.
 Hingga hari ke-10 serangan Israel ke Gaza dan jumlah korban tewas sudah 
mencapai 566 orang dan
2.400 terluka, Obama tak kunjung mengeluarkan pernyataan. Baru pada hari ke-11 
atau 7
Januari--ketika Israel menyerang dua sekolah PBB dan menewaskan 43 orang--Obama 
angkat bicara.
''Hilangnya nyawa warga sipil di Gaza dan Israel merupakan sumber keprihatinan 
mendalam bagi
saya'', kata Obama.

Sebelas hari serangan Israel, Obama mengaku diam karena tak ingin ada 'matahari 
kembar'. Sebab,
meski telah menjadi presiden terpilih, Bush masih menjabat. ''Setelah 20 
Januari, saya akan
menyampaikan banyak hal tentang isu (peperangan di Gaza)''. 

Diamnya Obama dinilai Mark Perry, direktur Forum Konflik Washington, sebagai 
sesuatu yang
kompleks. ''  Obama telah mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk 
mempertahankan dirinya dari
roket (Hamas). Tapi, pernyataan saya kepada dia, 'Apakah dia percaya bahwa 
warga Palestina juga
memiliki hak untuk mempertahankan diri ?’  '', katanya.

Banyak orang Arab yang relatif optimistis terhadap kemenangan Obama. Ada 
keyakinan bahwa wajah
baru di Gedung Putih itu akan menghadirkan sesuatu yang lebih baik dibanding 
Bush -yang menginvasi
Irak dan memberi dukungan teramat besar kepada Israel. Tapi, setelah Obama 
memilih Hillary Clinton
sebagai menteri luar negeri dan Rahm Emanuel sebagai pimpinan Gedung Putih, 
perubahan itu kian
diragukan. Banyak memang yang memberi pembenaran terhadap sikap diam Obama itu. 
Ahli politik Mesir
yang juga Sekjen Forum Pemikiran Arab yang bermarkas di Amman, Hassan Nafaa, 
misalnya, menyatakan
sikap diam Obama itu memperlihatkan Obama ingin berhati-hati. ''Saya pikir, dia 
akan tetap
berhati-hati sebab konflik Arab-Israel bukan prioritas utamanya'' .  ''Posisi 
Obama sangatlah
genting. Lobi Yahudi telah memperingatkannya... jadi dia harus tetap diam 
(dalam masalah Gaza)'',
kata Hilal Khashan, profesor politik di American University of Beirut.

Penulis AS yang berasal dari Palestina, Ali Abunimah, menyatakan, sejak primary 
Partai Demokrat
tahun 2004, yang antara lain membuat Obama terpilih menjadi anggota senat, 
Obama telah meminta
maaf kepadanya karena tidak bisa terlalu vokal lagi menyuarakan isu Israel 
Palestina. Ali
mengatakan, Obama menyebut adanya pertimbangan politik di balik 
sikapnya.Mengutip Obama, Ali
menyatakan,  '' Saya berharap, ketika semua (persoalan politik--Red) ini reda, 
saya akan berdiri
paling depan (dalam masalah isu Palestina-Israel) ''.

Lantas, apa kata sahabat Palestina Obama, Rashid Khalidi,  Kepada The New York 
Times ?, 

Dia tidak terlalu gembira dengan posisi yang telah diraih Obama. ''Tapi, saya 
tidak bisa
mengatakan kecewa. Orang mengira dia adalah seorang santo. Tidak. Dia adalah 
seorang politikus.'' 

Obama, Israel, dan Palestina.
http://www.republika.co.id/koran/0/27199.html

*****





  
---------------------------------
  
  Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
  klik
  http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org
    
---------------------------------
  



      
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke