Dear Rekans,

1. Haruskah (di awal) tahun ini ditandatangani-nya perjanjian tersebut?
    Mengapa tidak menunggu setelah pemilu?

2. Berapa 'komisi' untuk pihak yang menandatangani/mengijinkan perjanjian
    tersebut? Takut (keburu) tidak kebagian komisi (untuk membiayai
kampanye)?

3. Siapa yang bertanggung jawab kalau ternyata perjanjian tersebut merugikan

     negara/rakyat? Seberapa besar kemungkinan merevisi-nya?

4. ... (silahkan tambahkan pertanyaan + jawaban atas pertanyaan" di atas)

CMIIW.

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com

Pada 23 Januari 2009 17:15, raniaadelina <[email protected]> menulis:

>   Kemarin telah ditandatangani 14 kontrak gas pada Konferensi Indo Gas
> keempat.
>
> Pemberiataan di media yang menulis harga jual beli salah satunya
> kontrak LNG Donggi Senoro yang berpotensi menghasilkan kerugian
> negara senilai USD 1,8 trilyun.
>
> Seharusnya setelah penandantanganan kontrak harga jual gas diumumkan
> ke publik namun pada pemberitaan hari ini tak ada satu pun media
> yang menulis harga jual tersebut karena pihak terkait tidak mau
> memberitahu harga jual tersebut.
>
> Ada apa dengan ini? Mengapa pihak-pihak terkait menutup-nutupi harga
> jual gas tersebut, terutama untuk LNG Senoro?
>
> Di bawah ini adalah artikel berita berkaitan dengan kasus tersebut.
>
> KOMPAS - Jumat, 23 Januari 2009 | 01:17 WIB
> Proyek LNG Donggi Senoro Beroperasi 2013
>
> Jakarta, Kompas - Konsorsium gas alam cair Donggi Senoro menargetkan
> bisa segera memfinalisasi perhitungan akhir investasi untuk
> pembangunan kilang. Proyek senilai 6,5 miliar dollar AS itu
> dijadwalkan mulai beroperasi awal 2013.
>
> Direktur Proyek PT Medco Energi Internasional Lukman Mahfoedz
> mengemukakan itu seusai penandatanganan kesepakatan jual beli gas
> antarpihak, yang tergabung dalam konsorsium, Kamis (22/1) di Jakarta.
>
> Konsorsium Donggi Senoro LNG terdiri atas Mitsubishi Corp dengan
> kepemilikan 51 persen, PT Pertamina 29 persen, dan Medco Energi 20
> persen. Proyek LNG Donggi Senoro di Luwuk, Sulawesi Tengah, itu
> dikembangkan dengan pola upstream. Pertamina dan Medco, masing-
> masing sebagai operator blok migas Matindok dan Senoro, memasok gas
> ke kilang yang dibangun bersama dengan Mitsubishi.
>
> Mitsubishi selanjutnya mencari konsumen di Jepang. Perusahaan yang
> menyatakan siap membeli gas dari Donggi adalah Chubu Electric dan
> Kansai Electric. Kilang Donggi Senoro punya kapasitas produksi 2
> juta ton.
>
> Lukman menjelaskan, konsorsium optimistis target pasokan gas bisa
> tercapai. "Kami akan terus meningkatkan cadangan terbukti," ujarnya.
>
> Saat ini cadangan terbukti di Blok Matindok dan Senoro 2,3 triliun
> kaki kubik. Apabila beroperasi sesuai jadwal, Donggi Senoro akan
> menjadi kilang LNG keempat yang beroperasi setelah Arun, Bontang,
> dan Tangguh.
>
> Selain Kilang Donggi Senoro, pemerintah memproyeksikan proyek LNG
> berikutnya dapat dibangun di lepas pantai Laut Arafura.
>
> Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro,
> pemerintah menyetujui pembangunan fasilitas kilang LNG terapung
> untuk mengembangkan gas di lapangan Abadi, Blok Masela. Saat ini
> Blok Masela 90 persen dimiliki oleh INPEX Corporation, perusahaan
> migas asal Jepang.
>
> Purnomo mengatakan, kapasitas kilang LNG terapung Masela bisa
> mencapai 4,5 juta ton. Proyek ini akan menjadi Kilang LNG terapung
> pertama dan terbesar di dunia. Masela ditargetkan bisa berproduksi
> 2016.
>
> Menurut Direktur INPEX untuk Proyek Masela Shunichiro Sugaya,
> pihaknya menyiapkan belanja modal 10 miliar dollar AS untuk
> mengembangkan proyek Masela. Penunjukan kontraktor untuk merancang
> dan membangun kapal kilang LNG itu dilakukan Februari 2009. (DOT)
>
> BISNIS INDONESIA - Jumat, 23/01/2009
>
> Kontrak gas Rp76 triliun diteken
> Industri pupuk dapat komitmen pasokan gas
>
> JAKARTA: Sebagai bagian komitmen pemenuhan kebutuhan gas domestik,
> 14 kontrak jual beli gas dan elpiji serta proyek infrastruktur
> elpiji senilai total US$6,76 miliar atau setara dengan Rp76 triliun
> ditandatangani.
>
> Dari ke-14 kontrak tersebut, tiga di antaranya merupakan alokasi gas
> untuk sektor kelistrikan dengan nilai total kontrak mencapai US$1,77
> miliar, yaitu kontrak untuk PLN untuk keperluan listrik di Jawa
> Timur, dan tiga perusda kelistrikan di Kota Tarakan, Kabupaten Musi
> Rawas, dan Sumatra Selatan.
>
> Tiga kontrak jual beli gas dengan skala relatif besar juga
> dialokasikan untuk kepentingan pabrik pupuk, yaitu Petro Kimia
> Gresik, Pupuk Kaltim 5, dan Pupuk Kujang Cikampek. Nilai total dari
> kontrak gas tersebut mencapai US$3,19 miliar.
>
> Adapun kontrak elpiji terdiri dari kontrak baru dan beberapa
> amendemen kontrak jual beli lama yang melibatkan Pertamina dan
> beberapa penyedia elpiji domestik, seperti ConocoPhilips Indonesia,
> Natuna, Petrochina International Jabung, Jambi, Chevron Indonesia
> Co., Kalimantan Timur, dan PetroChina (Bermuda), Papua.
>
> Nilai empat kontrak jual beli elpiji itu mencapai US$374,8 juta
> dengan durasi kontrak selama setahun.
>
> Dalam perjanjian itu, Pertamina menggunakan harga patokan elpiji
> sebesar US$380 per ton. Juga terkait dengan elpiji, melalui anak
> perusahaan Pertamina Gas, BUMN itu menggandeng Menara Mas Energi
> untuk membangun kilang elpiji di Pondok Tengah, Tambun, Bekasi
> senilai US$30 juta.
>
> Selain untuk keperluan domestik, terdapat dua kontrak jual beli gas
> untuk keperluan ekspor, yaitu GSA Donggi-Senoro LNG dan Pertamina EP
> senilai US$600 juta dan Donggi-Senoro LNG dan PHE Tomori dan PT
> Medco Tomori senilai US$800 juta per tahun.
>
> Namun, selain peruntukan pasokan gas yang masih belum jelas, nilai
> kedua kontrak tersebut juga masih simpang siur.
>
> Deputi Finansial, Ekonomi, dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono yang
> ditanya Bisnis, menyatakan dirinya belum mengetahui pasti nilai
> kontrak karena baru disepakati 6 menit sebelum penandatanganan
> kontrak.
>
> 15 Tahun
>
> "Setahu saya nilai kontrak GSA untuk Senoro mencapai US$9,8 miliar
> untuk 15 tahun. Kalau yang Donggi memang lebih kecil, tapi persisnya
> saya lupa karena itu baru disepakati last minute," tuturnya kemarin.
>
> "Nilai proyek hulunya sampai tuntas pada 2012 setahu saya US$1,4
> miliar. Tapi kalau nilai kontrak gasnya silakan hubungi BP Migas,"
> tambah Direktur Operasi Medco Energi Internasional Tbk. Lukman
> Mahfoedz.
>
> Sebelumnya, Lukman mengatakan formula harga gas dalam GSA Donggi-
> Senoro tidak berubah dari posisi ketika penandatanganan Head of
> Agreement (HoA) pada Agustus tahun lalu.
>
> Kendati sempat optimistis, GSA tersebut sempat dikabarkan batal
> karena mentoknya negosiasi terkait dengan volume cadangan gas yang
> bisa diproduksi yang berbeda antara perhitungan Lemigas yang menjadi
> pegangan BP Migas dan perhitungan GCA yang dipegang kontraktor.
>
> Terlepas dari perbedaan perhitungan itu, Menteri Energi dan
> Sumberdaya Mineral Purnomo Yusgiantoro meminta kontraktor
> menyediakan gas untuk pasar domestik dari Donggi-Senoro sebanyak 100
> MMscfd atau hampir setara dengan 1 juta ton LNG per tahun.
>
> Hal itu, tutur Menteri, merupakan bagian dari tanggung jawab dari
> kontraktor yang tanda tangan kontrak pasca-UU Migas No. 22/2001.
>
> Terkait dengan nilai kontrak, Purnomo mengatakan total komitmen
> kontrak jual beli gas sebesar Rp76 triliun merupakan pencapaian
> positif industri migas nasional.
>
> Bahkan, tuturnya, ditambah dengan kontrak migas yang ditanda tangani
> dalam konferensi Indonesia-China Energy Forum baru-baru ini, total
> komitmen kontrak mencapai Rp111 triliun dengan daya serap tenaga
> kerja 35.000 orang.
>
> "Tapi bagaimana realisasinya per tahun nanti tergantung pelaksanaan
> dari proyek," tuturnya. (Rudi Ariffianto)
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke