Semalam ada obrolan menarik sewaktu nongkrong begadang di warung kopi ujung gang. Topiknya menarik, tentang politik. Maklumlah, orang-orang kampung yang marjinal ini walau tak mencalegkan diri, namun kalau sudah ngomong poltik, waduh, gayanya sok melebihi para caleg itu. Maklumlah jika mereka-mereka itu tak dicalegkan oleh parpol, hal itu mungkin karena memang tak pantes penampilan serta gayanya, gak kelasnya gitu kata orang. Mungkin juga kurang modal uangnya sehingga tak mampu ongkosin bikin baliho dan spanduk. Mungkin pula karena alasana tak punya koneksi di kalangan Parpol yang berwenang mengurusi percaloan dan birokrasi pencalegan.
Obrolan politik kelas kampung yang ngalor ngidul gak karuan –tentu diselingi nyruput kopi jahe nasgitel- bermula dari seputar soal figur cawapres yang seyogyanya mendampingi mbak Megawati. Maklumlah, ibu mantan Presiden ini sampai sekarang masih tetap ngotot berkehendak maju lagi, ogah digantikan posisi capresnya oleh figur lain -Sultan HB X, misalnya- yang konon kata orang menurut analisa timsesnya mengatakan bahwa jika PDIP menempatkan pak Sultan sebagai capres PDIP menggantikan mbak Mega maka PDIP akan berpeluang mengungguli pak SBY. Sambil membuka lembaran koran, ada yang nyeletuk bahwa ada 5 orang Balon Cawapres yang katanya lagi ditimang-timang oleh PDIP, yaitu : pak Sultan, Hidayat Nurwahid, Akbar Tanjung, Prabowo, dan Surya Paloh. Ada yang kemudian angkat bicara sambil mulutnya ngunyah pisang goreng, katanya, “ Seyogyanya mbak Megawati jangan mengambil pak Sultan sebagai Cawapresnya ”. “ Lho mengapa, khan pak Sultan figur cawapres yang paling populer ? ”, sergah yang lainnya. “ Lha iya, tapi pak Sultan tidak akan menambah luas spektrum konstituennya mbak Mega ”, imbuhnya memberikan latarbelakang argumentasinya. Dahi orang-orang di warung kopi itu mulai berkernyit, wah ini seru, sangat bertolak belakang dari analisanya para pakar politik yang suka nongol di layar televisi itu. “ Basis dukungan yang dipunyai mbak Mega itu khan sudah solid dan fanatik, maka PDIP sebaiknya mencarikan cawapres bukan yang memperkuat, tapi yang memperluas segmentasi di kalangan pemilih diluar basis massanya PDIP“, katanya sambil penuh percaya diri selayaknya seorang doktor ilmu politik saja. “ Ideologi dan karakter politiknya pak Sultan itu mirip dengan mbak Mega, apalagi sama-sama dari suku Jawa, ya ndak nambah luas spektrum konstituen dong “, imbuhnya lagi. “ Lho maksudnya itu gimana, lha wong pak Sultan itu paling banyak didukung oleh pengurus PDIP je, ada 33 propinsi lho yang mencalonkannya “, sanggah yang lainnya. “ Lha iya, pak Sultan banyak didukung pengurus daerahnya PDIP, itu artinya internal PDIP, tapi yang dibutuhkan PDIP itu adalah Cawapres yang mempunyai dukungan kuat diluar PDIP, bukan yang didalam PDIP. Kalau soal populer di internal PDIP ya ndak akan nambah jumlah suara nantinya. Itu namanya 1 + 1 sama dengan 1, padahal PDIP butuh yang 1 + 1 sama dengan 2. Gimana supaya Cawapresnya itu mampu membuat yang tadinya tidak milih mbak Mega menjadi milih mbak Mega gitu lho “, katanya panjang lebar membela argumentasinya. “ Tapi khan pak Sultan punya pendukung di konstituennya Golkar, khan itu nambah jumlah suara buat mbak Mega “, yang lainnya lagi mulai angkat bicara. “ Jadi pak Sultan bisa mencuri suara Golkar, begitu ? “, pak tua yang duduk di pojok mulai ikutan nimbrung. “ Betul, dengan begitu khan suara pak MJK bisa sebagian terambil oleh pak Sultan sehingga mengurangi suaranya SBY-MJK dan dipindahkan untuk menambahi suara ke mbak Mega “, katanya menjelaskan potensi pak Sultan dalam memecah suaranya Golkar. “ Lha ya lebih berpeluang bang Akbar dong, kalau tujuannya untuk memecah dukungan ke pak Yusuf Kalla “, kata anak muda yang sedari tadi manggut-manggut terus. ‘ Lho kok gitu ? “, kata yang satunya tak mau kalah. “ Lha iya, di kalangan Golkar itu lebih mengakar mana antara pak Sultan dibandingkan dengan bang Akbar, mantan Ketum Golkar lho dia itu “, katanya yang mungkin sambil membayangkan dirinya bagai seorang dosen didepan ruang kuliah. Orang-orang manggut-manggut, seolah faham maksud si anak muda itu. Padahal, ndak tahu apakah sebenarnya mereka mengerti maksudnya, atau pura-pura tahu, karena takut ketahuan bodo dan telminya. “ Apalagi bang Akbar dari etnis suku luar Jawa, resistensinya di kalangan umat Islam relatif rendah, ini akan memperluas spektrum konstituen bagi mbak Mega”, katanya lagi. “ Sampeyan kok ngampayein Akbar Tanjung, sampeyan itu HMI ya ? “, celetuk seorang bapak berjambang lebat dengan sinis. “ Oh ndak pak, saya pengurus PMII “, jawab anak muda itu dengan bangganya. Orang-orang lagi-lagi hanya manggut-manggut, seolah telah puas dengan jawaban anak muda tadi. Padahal bisa jadi mereka ndak tahu apa itu HMI dan apa itu PMII. Pokoknya manggut-manggut saja, seolah faham dan sangat mengerti politik. “ Ya kalau mau begitu, lebih afdol kalau Cawapresnya itu pak Hidayat Nurwahid dong “, kata anak muda yang satunya lagi. “ Mengapa begitu ?, apa kelebihan pak Hidayat ? “, kata bapak berkumis tipis menyanggahnya. “ Lha iya tho, resistensi mbak Megawati di sebagaian kalangan umat Islam itu tidak akan tertutupi oleh figur pak Sultan, memang akan sedikit tertutupi oleh figur bang Akbar, tapi akan lebih tertutupi lagi oleh dukungan solidnya pak Hidayat Nurwahid di kalangan umat Islam “, kata anak muda itu dengan penuh semangat. “ Lha apa iya begitu ?, dulu pak Hasyim yang kental Nahdliyinnya saja gagal menambal resistensinya mbak Mega lho. Agak sulit mencarikan figur yang mampu meredam resistensi disebagian kalangan pemilih Islam, sayangnya mbak Mega tidak meyadari resistensinya, malah dulu di tahun 2004 pas masa kampanye malahan menandatangani kesepakatan dengan PDS untuk mencabut SKB 3 menteri soal pendirian rumah ibadah, ya jadi ndak ngaruh adanya faktor pak Hasyim Muzadi sebagai Cawapresnya “, sangkal anak muda yang lainnya lagi. “ Wah, kalau gitu mendingan PDIP mencapreskan saja pak Hidayat didampingi mbak Puan putrinya mbak Mega sebagai Cawapresnya, sip kuwi “, kata si Penjual kopi nimbrung sambil mesam mesem. “ Wah ora mutu idemu kuwi, wis kowe kuwi ngaladeni wae, menengo wae, ora usah melu saur manuk ngono “, kata bapak berjambang lebat. Semua terdiam, hening sementara waktu, tenggelam dalam perenungannya masing-masing. Gayanya melebihi para petinggi PDIP yang lagi berfikir keras dalam mencarikan duet buat mbak Mega agar mengungguli pasangan SBY-JK dalam duel head to head di putaran kedua nantinya. Hening, hanya suara radio yang terdengar, lagu dangdut si kucing garong dari trio macan yang terdengar jelas. “ Tapi sepertinya akan ada yang berusaha menampilkan Capres ketiga dari Golkar lho “, kata bapak berkumis tipis memecah keheningan itu. “ Siapa yang dicalonkan ? “, tanya bapak berjambang lebat. “ Ya, pak Sultan dari Golkar berdampingan dengan pak Hidayat dari PKS “, kata bapak itu. “ Ah, jenengan ngarang, spekulasi itu namanya “, kata anak muda yang tadi. “ Lha kalau Golkar dipaksa mencalonkan Capres, khan jadi berat situasinya buat pak MJK, dia khan bukan dari suku Jawa. Kalau bukan pak Sultan maka siapa lagi ? “, jelas bapak itu. “ Jadi sampeyan itu nuduh kalau pengguliran wacana agar Golkar mencalonkan Capresnya sendiri itu agar pak Sultan yang dicapreskan. Sampeyan itu keranjingan teori konspirasi tho rupanya ? “, kata bapak berjambang lebat itu. “ Lha ya ndak gitu pak, cuma kalau Golkar bisa diceraikan dari pak SBY maka Golkar khan harus milih Capresnya itu apa pak JK, pak Akbar, pak Surya Paloh, pak Sultan. Ya khan pak Sultan satu-satunya yang dari Jawa tho ?. Saya ndak nuduh, cuma mengandaikan jika Golkar bisa dipaksa mencalonkan Capres dari kalangannya sendiri. Logis tho ? “, kata bapak itu membela diri. “ Ah, jikalau begitu apa ya pak Hidayat itu mau mendampingi pak Sultan ? “, kata anak muda. “ Kenapa ndak mau ?, khan kuat di parlemen, kuat di kalangan pemilih tho ?”, kata bapak itu ndak mau kalah. “ Iya, kalau pun begitu, apa konstituen PKS akan bisa menerimanya ?”, kata anak muda itu. “ Kenapa ndak ?, ini pasangan yang kuat “, kata bapak itu memperkuat argumentasinya. “ Iya kuat, saling melengkapi, yang satunya punya istri yang aktif demo menentang UU Anti Pornografi dan diam seribu bahasa saja dalam soal Israel-Palestina, yang satunya punya pendukung yang aktif demo menentang Israel dan getol bicara mendukung UU Anti Pornografi “, kata anak muda itu dengan sinis. “ Mbok ya jangan sinis-sinis begitu, jadi umat beragama itu jangan fanatik-fanatik, biasa-biasa saja, sing Rahmatan Lil Alamin gitu lho “, kata bapak itu menasehati dengan penuh kearifan. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, dari arah gang para ibu berlari-lari memanggil suaminya yang nongkrong di warung kopi itu. “Banjir pakne, banjir kiriman, ojo mung nongkrong ora ono gunane, pikiren omah sing kebanjiran kae”, kata seorang ibu mengomeli suaminya sambil bergaya layaknya para istri di sinetron Suami-Suami Takut Istri. Buyar sudah kumpulan kongkow-kongkow orang-orang yang sok tahu itu, masing-masing pulang ke rumahnya menyelamatkan harta benda duniawinya masing-masing. Bantaran Kali Ciliwung, 29 Januari 2009. ***** --------------------------------- Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org --------------------------------- Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
