Wa alaikumussalaam warrahmatullaahi wabarakaatuh. Pak Taufik,
Mohon maaf baru sempat membalasnya sekarang. Memang sulit dan nyaris tidak mungkin untuk melakukan embargo pada diri sendiri. Tapi saya teringat dengan slogan `think globally, act locally`. Jadi saya berusaha mulai dari diri sendiri, dan mulai dengan hal yang mudah. Yang sudah saya lakukan, saya tidak lagi nongkrong di starbucks, tapi di kedai kopi lokal. Saya tidak lagi maan di restoran franchise yang terhubung dengan perusahaan di US, tapi makan di restoran yang franchisenya lokal. Sebagai gambaran, daripada makan di kfc, bisa ke texas fried chicken, yang sudah tidak mempunyai hubungan dengan texas church chicken di US, tidak makan di pizza hut, tapi di beberapa restoran pizza lokal, seperti papa ron, canadian pizza, etc. Atau lebih baik lagi, bisa makan di resto masakan Indonesia! Jadi, itu yang sudah saya lakukan, Pak. Dan saya akan berusaha menambah usaha saya tersebut. Mohon doa dari semua rekan milis agar kita bersama-sama bisa mengurangi ketergantungan mengkonsumsi barang luar negeri. wassalaam, hario --- On Thu, 1/15/09, Taufik Dwidjowinarto <[email protected]> wrote: From: Taufik Dwidjowinarto <[email protected]> Subject: [ekonomi-nasional] Re; Mandiri (was: Boycott Israel Company List) . To: "Milis : ekonomi nasional" <[email protected]> Date: Thursday, January 15, 2009, 10:23 PM Asw wr wb, pak Nizami dan pak Hario. Hati nurani saya sih sebenarnya mengakui kebenaran dan sekaligus juga 100% menyepakati pendapat bapak2 bahwa Indonesia harus mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negri. Tentunya ¡embargo¢ itu harus kompak, belanja pemerintahnya (APBN dan APBD) juga belanja masyarakatnya (belanja perusahaan swasta dan belanja rumah tangga masing2 pribadi anggota masyarakatnya). Dan saya juga yakin kalau itu bisa dijalankan pasti akibatnya akan baik bagi perekonomian nasional Indonesia dan eksesnya akan sangat terasa memukul bagi kepentingan usahanya Zionis Yahudi Laknatullah beserta antek-anteknya. Cuma saya kok gak yakin ya bahwa hal itu bisa dilakukan. Mengapa ?. Pertama-tama, kita (bangsa Indonesia) paling tidak pada saat ini, boleh dibilang sebagai lagi paceklik (tidak mempunyai) pemimpin nasional yang mampu menjadi solidarity maker bagi gerakan tersebut. Tanpa adanya figur pemimpin yang mempunyai komitmen tinggi untuk menggalakkan gerakan embargo mengkonsumsi produk luar negeri maka tak mungkin akan dapat dilaksanakan program Indonesia yang harus mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negri. Jangankan soal komitmen, soal nawaitu menuju kesana pun rasanya nihil. Apakah ada aturan yang mengatur alokasi belanja di APBN dan APBD yang mendukung pelaksanaa program pengasurtamaan sekaligus affirmative action bagi produk dalam negeri ?. Nol besar. Lha, kalau formal pemerintahnya saja tak ada niatan kesitu, bagaimana mungkin akan mengajak masyarakatnya untuk melakukan gerakan mencintai dan mengutamakan serta mengkonsumsi produk dalam negeri ?. IPTN, PAL, Industri-industri strategis kita yang lainnya malahan dibiarkan merana ¡rindu order¢, sementara budget ABPN / APBD digelontorkan untuk memborong produk impor. Kedua, psikologi kita (masyarakat Indonesia) paling tidak untuk saat ini, boleh dibilang lagi mengalami kecanduan produk luar negeri. Kecanduan itu terjadi di semua strata masyarakatnya, dari golongan paling jet set sampai.yang paling gembel sekalipun, pokok luar negeri minded. Rasanya belum bisa disebut pekerja kantoran yang sukses dan bergengsi serta prestige, jika baju kerjanya bukan bermerk Marks & Spencer dengan di sakunya terselip ballpoint mountblanc misalnya, atau tali ikat yang melingkari pinggang celananya bukan dari dupont atau etienne aigner misalnya. Minumnya pun Coca Cola, makan siang di McDonald¢s, pulang kerja ngopi dulu di Starbuck. Dan seabreg lainnya, termasuk belanja rumah tangga tentu Carefour dong, yang pajangan barangnya pun banyak impornya. Belum lagi jika mengingat bahwa hampir semua pabrik yang memproduksi barang di dalam negeri kita sendiri pun pada dasarnya adalah miliki oleh perusahaan luar negeri. Notabene groupnya para Yahudi itu. Lha dengan sikon yang seperti itu pak, gimana bisa pak kok kita disuruh mengembargo dirinya sendiri dari produk luar negeri ?. Mana tahan... Wass wr wb. *** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [email protected] http://capresindonesia.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
