Mendorong petani menjadi mandiri, sudah lama kita tak mendengar hal ini. Sudah 
terlalu lama para
petani dibuat bergantung kepada industri pertanian sehingga petani kehilangan 
kemandiriannya.
Selain bergantung pada pupuk kimia, petani juga bergantung pada bibit unggul 
yang tak bisa mereka
bibitkan sendiri sehingga harus membelinya dengan harga mahal. 

Kebergantungan itu telah membuat adanya mekanisasi penyedotan ‘surplus’ secara 
sistematis dan
berkelanjutan dari pihak petani ke pihak industriawan. Mekanisme model ini 
menjadikan petani tak
ubahnya hanya sebagai ‘buruh tanam’ diatas lahannya sendiri dengan modal tanam 
ditanggung oleh
pihak petani dan menempatkan resiko di pundak petani. Ujung akhir dari semuanya 
itu adalah
pelanggengan kemiskinan petani. 

Tak hanya itu, kemandirian dan ketahanan pangan -dilihat dari sudut pandang 
kedaulatan pangan
serta ketahanan nasional pun- pada giliran akhirnya juga akan terancam. 
Swasembada beras menjadi
tak akan berarti jika causa primanya di sektor inputnya tetap saja dibiarkan 
tergantung kepada
pihak luar. Sebuah bangunan nasional yang rapuh dan rentan. 

 Seyogyanya, para ilmuwan tak hanya mengadakan penelitian yang menemukan padi 
varietas unggul
namun bibitnya harus dibeli oleh petani disetiap kali musim tanam, karena tak 
bisa dibibitkan oleh
petani sendiri. Para ilmuwan perlu menjadi lokomotif penggerak untuk program 
pengakselerasian
sebuah penelitian yang dapat mewujudkan suatu jenis padi varietas unggul yang 
bibit unggulnya
dapat dibibitkan sendiri oleh petani dari hasil panenannya.

Ditengah zaman neoliberalisme ini masih adakah segelintir ilmuwan yang peduli 
dengan kemandirian
petani ?.

Wallahu’alambishshawab. 

*****

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia siap meluncurkan padi transgenik tahan hama 
mulai tahun depan.
Varietas padi yang belum bernama ini telah lolos uji lapangan dan analisis 
mengenai dampak
lingkungan.  Ketua LIPI Umar Anggara Jenie mengatakan, padi tahan hama 
penggerek batang dan wereng
ini sebenarnya telah siap diaplikasikan. Namun, padi ini masih harus melalui 
tahap uji keamanan
pangan (biosafety) sebelum didistribusikan kepada petani. Tahap terakhir ini 
diperkirakan memakan
waktu setahun. ”Setelah itu baru varietas padi baru ini akan memperoleh 
sertifikat dan bisa
dilepas”, katanya seusai Seminar Nasional Perkembangan Bioteknologi Indonesia 
di Universitas
Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (30/1).

Menurut dia, padi hasil rekayasa genetika ini telah melalui uji lapangan selama 
empat tahun.
Varietas ini juga telah dinyatakan aman terhadap lingkungan melalui uji amdal. 
Mengingat tanaman
transgenik masih jadi kontroversi, LIPI akan mengadakan sosialisasi ke 
masyarakat. Umar
menerangkan, varietas padi ini dikembangkan dengan menggunakan padi varietas 
asli Indonesia,
antara lain Rojolele dan Cisadane. Dengan memanfaatkan bakteri tanah jenis 
Bacillus thuringiensis,
penelitian bertujuan merekayasa sifat gen padi sehingga tahan hama. 
Pengembangan padi tahan hama
dipilih karena hama merupakan ancaman besar bagi keberhasilan pertanian padi di 
Indonesia.
”Kondisi alam dan iklim di Indonesia sangat memungkinkan hama berkembang biak 
cepat dan
banyak”, ujar Umar.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI juga berupaya mengembangkan 
padi tahan
kekeringan, banjir, dan gulma. ”Pertanian padi di Indonesia menghadapi empat 
ancaman terbesar,
yaitu kekeringan, banjir, hama, dan gulma. Karena itu, padi yang bisa mengatasi 
empat ancaman itu
menjadi prioritas penelitian di LIPI,” kata Umar.

Ketergantungan.

Pemerhati pertanian dari UGM, Mochammad Maksum, mengatakan, guna menjaga 
ketahanan pangan di
Indonesia, peluncuran padi transgenik jangan sampai menjadi ketergantungan baru 
pada petani.
Pasalnya, ketergantungan petani akan mengancam ketahanan pangan. ”Varietas ini 
harus bisa
ditangkarkan sendiri oleh petani, seperti varietas lokal”, katanya. 

Menurut Maksum, selama ini petani Indonesia sudah terlalu bergantung pada 
industri pertanian
sehingga kehilangan kemandirian. Selain bergantung pada pupuk kimia, petani 
juga bergantung pada
bibit unggul yang tak bisa mereka bibitkan sendiri sehingga harus membeli 
dengan harga relatif
mahal. ”Padahal, dulu petani Indonesia bisa bertahan karena mampu memelihara 
dan mengembangkan
sendiri padi lokal”, katanya.

Pertanian : LIPI Siap Luncurkan Padi Transgenik.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04201488/lipi.siap.luncurkan.padi.transgenik

*****




  
---------------------------------
  
  Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
  klik
  http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org
    
---------------------------------
  



      
___________________________________________________________________________
Coba emoticon dan skin keren baru, dan area teman yang luas.
Coba Y! Messenger 9 Indonesia sekarang.
http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke