Pada setiap hari raya lebaran Idul Fitri di hari-hari puncak arus balik, nyaris dikesemua hotel dan penginapan di kota Yogyakarta selalu full. Para pemudik memanfaatkan disela-sela perjalanan baliknya dengan menyempatkan mampir menginap bermalam di kota Yogyakarta, sembari melepaskan penat sekaligus menikmat wisata kuliner serta rekreasi belanja batik di kota yang eksostik ini.
Kebiasaan para wisatawan kuliner dan wisatawan belanja ini membuat mengalirnya uang segar masuk dari luar daerah ke perputaran ekonomi masyarakat yogya. Penggerak roda ekonomi yang adil dan merata bagi semua strata. Amatlah jarang para pemudik arus balik ini, menyempatkan mampir di kota Yogyakarta karena ingin jalan-jalan di mal serta menikmati hidangan fastfood ala McDonald. Lazimnya, mereka tertarik untuk menikmati tempat-tempat makanan yang khas Yogyakarta serta tempat-tempat belanja eksotiknya seperti pasar Beringharjo misalnya. Stempel sebagai kota pelajar sekaligus kota pariwisata serta kota budaya dengan ciri khasnya sebagai kota pedalaman yang menyimpan selaksa warisan ‘heritage’ nan unik ini tak pernah membuat jemu dan bosan para penikmatnya. Semoga di masa mendatang, menjamurnya bangunan modern mal dan plaza tak membuat tereduksi daya pikat kota ini. Namun sangat disayangkan, akhir dasawarsa terakhir ini pemerintah propinsi DIY kurang perhatian terhadap rencana strategis transportasi antar kota dengan kota diluar propinsinya yang akan menjadi booster bagi keunggulan kota Yogyakarta ini. Pemerintah propinsi DIY seperti tak perduli dengan rencana jalan tol Semarang-Solo yang merupakan bagian dari jaringan jalan tol Trans Jawa. Trace jalan tol Solo-Semarang yang tak melalui wilayah DIY akan mempengaruhi jumlah pemudik yang akan mampir di kota Yogyakarta disela-sela perjalanan baliknya. Teramat banyak contoh bagaimana sebuah kota karakteristiknya menjadi berubah karena beralihnya rute perjalanan antar kota dari para pelintasnya. Kota Purwakarta misalnya, berubah setelah terwujudnya jalan tol Cipularang . Sedikit banyak ini mempengaruhi jumlah pengunjung bagi warung makan eksostik seperti Cigenea misalnya. Andaikata trace jalan tolnya menjadi Solo-Yogyakarta-Semarang, tentunya akan berdampak baik buat kota Yogyakarta. Mengapa hal ini dapat lepas dari perhatian pemerintah propinsi DIY ?. Memang katanya, setelah trace jalan tol ruas Solo-Semarang terbangun, maka akan segera dibangun pula jalan tol ruas Semarang-Yogya dan jalan tol ruas Yogya-Solo. Namun patut disangsikan ruas Semarang-Yogya dan ruas Yogya-Solo kapan dapat terbangun jika sudah ada ruas Semarang-Solo. Kesangsian ini berdasarkan pertimbangan keekonomisan dan kelayakan bisnisnya serta jumlah trafficnya.Demikian pula sebaliknya, jika ruas Solo-Yogya dan Yogya-Semarang sudah terbangun maka tentu kecil kemungkinan akan terwujudnya ruas Solo-Semarang. Sesungguhnya, pemerintah propinsi DIY mempunyai peluang ketika ruas Solo-Semarang belum ada investornya. Ketika itu, bisa saja pemerintah propinsi DIY membikin sebuah BUMD -bisa juga semi BUMD hasil perkawinan pemda propinsi dengan swasta, seperti PT. Pembangunan Jaya di DKI Jakarta dan PT. Jabar Saran Utama di Jawa Barat- untuk menjadi investor jalan tol ruas Solo-Yogya. Jika ruas Solo-Yogya terbangun, maka secara hitungan kelayakan bisnis para investor lain akan lebih tertarik menyegerakan membangun ruas Yogya-Semarang dibandingkan dengan ruas Solo-Semarang. Namun mungkin visi dan misi kebijakan pembangunan dan ekonomi dari jajaran pimpinan pemerintah DIY sudah sedemikian canggihnya, sehingga kontribusi dari mampirnya para pemudik arus balik ini dinilai sebagai sesuatu yang tidak berarti bagi perekonomian masyarakat kota Yogyakarta. Walaupun, kota Bandung dan kota Bogor disisi lain justru sangat merasakan manfaat dari adanya jalan tol Jagorawi dan Cipularang. Wallahu’alambishshawab. ***** Tim pengadaan tanah wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah, telah menyelesaikan pembayaran untuk membebaskan 48 bidang lahan di Kantor Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Jumat (30/1). Pembebasan lahan untuk Tol Semarang-Solo masih tersisa 26 bidang atau seluas 23.608 meter persegi. Namun, pembangunan fisik pembangunan Tol Semarang-Solo akan dimulai pada Sabtu (31/1) ini, yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang pertama di Kelurahan Padangsari, Banyumanik, Kota Semarang. Pemasangan tiang pancang akan dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. ”Untuk lahan yang belum dibebaskan akan diberi tenggat hingga 10 Februari sebelum menempuh jalur konsinyasi”, ujar Ketua Tim Pengadaan Tanah Wilayah Kota Semarang Suyoto, Jumat (30/1) di sela-sela pembayaran 48 bidang lahan. Jalur konsinyasi ditempuh dengan menitipkan uang ganti rugi pembayaran ke pengadilan negeri. Suyoto memastikan, proses pembayaran ganti rugi lahan yang belum selesai tersebut tidak akan mengganggu pembangunan fisik yang telah dimulai. Pembangunan Tol Semarang-Solo mengenai 591 bidang lahan seluas 537.799 meter persegi, yang tersebar di tujuh kelurahan di Kota Semarang. Pembebasan lahan menghabiskan total biaya Rp 317,567 miliar. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, dalam acara selamatan pencanangan dimulainya pembangunan Tol Semarang-Solo, Jumat malam, berharap pembangunan itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. ”Dengan adanya jalan tol, Jateng akan memiliki nilai tambah sehingga orang-orang dari Jawa Timur atau Jawa Barat tidak hanya sekadar mampir di Jateng”, kata Bibit. http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04325725/pembangunan.ruas.semarang-solo.dimulai ***** --------------------------------- Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org --------------------------------- ___________________________________________________________________________ Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
