Pembangunan jalan tol Semarang-Solo seksi I, yang meliputi ruas Semarang-Ungaran, dimulai, Sabtu (31/1). Peresmian ditandai dengan pemasangan tiang pancang tol di Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Direktur Utama Trans Marga Jawa Tengah Agus Suharyanto mengatakan, pembangunan seksi I sepanjang 14,195 kilometer (km) akan dilakukan dalam tiga tahap konstruksi. Pertama, ruas Banyumanik-Gedawang sepanjang 3,52 km. Kedua, ruas Gedawang-Penggaron sepanjang 4,95 km. Ketiga, ruas Penggaron-Beji sepanjang 5,625 km.
”Pembangunan secara keseluruhan akan menggunakan 3.200 sumber daya manusia serta berbagai sumber daya material. Kami rencanakan pembangunan fisik selesai dalam waktu tiga tahun,” kata Agus seusai pemasangan tiang pancang tol Semarang-Solo. Pertumbuhan Ekonomi. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang secara simbolis memulai pemasangan tiang pancang mengatakan, pembangunan jalan tol semata-mata untuk kepentingan rakyat Jateng. ”Banyak keuntungan yang bisa kita peroleh dengan jalan tol ini, terutama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jateng”, katanya. Meski pembebasan lahan belum sepenuhnya selesai, Bibit memastikan, pembangunan tidak akan terhambat. Pembebasan lahan di Kota Semarang mencapai 95,49 persen, sedangkan di Kabupaten Semarang mencapai 92 persen. ”Masalahnya hanya soal besar ganti rugi yang belum final,” ujar Bibit. Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum Agus Wijanarko yang mewakili Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengungkapkan, untuk jalan tol Semarang-Solo ini pemerintah pusat menggelontorkan dana bantuan layanan umum sebesar Rp 247 miliar. http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/01/00200220/pembangunan.jalan.tol.semarang-solo.dimulai *** Pada setiap hari raya lebaran Idul Fitri di hari-hari puncak arus balik, nyaris dikesemua hotel dan penginapan di kota Yogyakarta selalu full. Para pemudik memanfaatkan disela-sela perjalanan baliknya dengan menyempatkan mampir menginap bermalam di kota Yogyakarta, sembari melepaskan penat sekaligus menikmat wisata kuliner serta rekreasi belanja batik di kota yang eksostik ini. Kebiasaan para wisatawan kuliner dan wisatawan belanja ini membuat mengalirnya uang segar masuk dari luar daerah ke perputaran ekonomi masyarakat yogya. Penggerak roda ekonomi yang adil dan merata bagi semua strata. Amatlah jarang para pemudik arus balik ini, menyempatkan mampir di kota Yogyakarta karena ingin jalan-jalan di mal serta menikmati hidangan fastfood ala McDonald. Lazimnya, mereka tertarik untuk menikmati tempat-tempat makanan yang khas Yogyakarta serta tempat-tempat belanja eksotiknya seperti pasar Beringharjo misalnya. Stempel sebagai kota pelajar sekaligus kota pariwisata serta kota budaya dengan ciri khasnya sebagai kota pedalaman yang menyimpan selaksa warisan ‘heritage’ nan unik ini tak pernah membuat jemu dan bosan para penikmatnya. Semoga di masa mendatang, menjamurnya bangunan modern mal dan plaza tak membuat tereduksi daya pikat kota ini. Namun sangat disayangkan, akhir dasawarsa terakhir ini pemerintah propinsi DIY kurang perhatian terhadap rencana strategis transportasi antar kota dengan kota diluar propinsinya yang akan menjadi booster bagi keunggulan kota Yogyakarta ini. Pemerintah propinsi DIY seperti tak perduli dengan rencana jalan tol Semarang-Solo yang merupakan bagian dari jaringan jalan tol Trans Jawa. Trace jalan tol Solo-Semarang yang tak melalui wilayah DIY akan mempengaruhi jumlah pemudik yang akan mampir di kota Yogyakarta disela-sela perjalanan baliknya. Teramat banyak contoh bagaimana sebuah kota karakteristiknya menjadi berubah karena beralihnya rute perjalanan antar kota dari para pelintasnya. Kota Purwakarta misalnya, berubah setelah terwujudnya jalan tol Cipularang . Sedikit banyak ini mempengaruhi jumlah pengunjung bagi warung makan eksostik seperti Cigenea misalnya. Andaikata trace jalan tolnya menjadi Solo-Yogyakarta-Semarang, tentunya akan berdampak baik buat kota Yogyakarta. Mengapa hal ini dapat lepas dari perhatian pemerintah propinsi DIY ?. Padahal, setidaknya sejak tahun 1998 sampai dengan hari ini di tahun 2009 –selama kurun waktu sekitar 10 tahun- pemerintahan propinsi DIY amatlah stabil dan berkesinambungan, dalam arti tak pernah ada pergantian pucuk pimpinannya selama 10 tahun berturut-turut. Memang katanya, setelah trace jalan tol ruas Solo-Semarang terbangun, maka akan segera dibangun pula jalan tol ruas Semarang-Yogya dan jalan tol ruas Yogya-Solo. Namun patut disangsikan ruas Semarang-Yogya dan ruas Yogya-Solo kapan dapat terbangun jika sudah ada ruas Semarang-Solo. Kesangsian ini berdasarkan pertimbangan keekonomisan dan kelayakan bisnisnya serta jumlah trafficnya.Demikian pula sebaliknya, jika ruas Solo-Yogya dan Yogya-Semarang sudah terbangun maka tentu kecil kemungkinan akan terwujudnya ruas Solo-Semarang. Sesungguhnya, pemerintah propinsi DIY mempunyai peluang ketika ruas Solo-Semarang belum ada investornya. Ketika itu, bisa saja pemerintah propinsi DIY membikin sebuah BUMD -bisa juga semi BUMD hasil perkawinan pemda propinsi dengan swasta, seperti PT. Pembangunan Jaya di DKI Jakarta dan PT. Jabar Saran Utama di Jawa Barat- untuk menjadi investor jalan tol ruas Solo-Yogya. Jika ruas Solo-Yogya terbangun, maka secara hitungan kelayakan bisnis para investor lain akan lebih tertarik menyegerakan membangun ruas Yogya-Semarang dibandingkan dengan ruas Solo-Semarang. Namun mungkin visi dan misi kebijakan pembangunan dan ekonomi dari jajaran pimpinan pemerintah DIY sudah sedemikian canggihnya, sehingga kontribusi dari mampirnya para pemudik arus balik ini dinilai sebagai sesuatu yang tidak berarti bagi perekonomian masyarakat kota Yogyakarta. Walaupun, kota Bandung dan kota Bogor disisi lain justru sangat merasakan manfaat dari adanya jalan tol Jagorawi dan Cipularang. Wallahu’alambishshawab. ***** Tampaknya sudah menjadi tekad yang kuat bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk maju menjadi calon presiden RI. Minimal sebagai cawapres. Tetapi sebenarnya apa yang ditawarkan Sultan untuk sukses sebagai capres atau cawapres RI ?. Ini sekadar catatan saya. Yang pertama adalah ketika seorang gubernur maju mencalonkan diri menjadi capres atau cawapres, tentu diharapkan gubernur tersebut mempunyai nilai lebih yang dapat ditawarkan oleh gubernur tersebut berkaitan dengan pengalamannya sebagai gubernur. Apa yang ditawarkan Sultan berkenaan dengan ini ?. Beberapa data yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 2005, WHO pernah mengadakan studi mengenai akses kesehatan di DI Yogyakarta dan menemukan bahwa provinsi DIY termasuk provinsi dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, yaitu 25%. Padahal Sultan telah menjabat sebagai gubernur sejak tahun 1998, sehingga peluang untuk mengentaskan kemiskinan di Yogya seharusnya telah dapat dilakukan. Kemudian, saya di LSM bersama mitra di Yogya pernah melakukan studi mengenai alokasi kesehatan di APBD Yogya yang ternyata amat minim, sehingga akses kesehatan untuk masyarakat di sini juga minim. Yang sukses di sini justru program pemerintah pusat berkaitan dengan Askeskin, sehingga banyak warga miskin yang terbantu pengobatannya. Kemudian berkaitan dengan pelayanan publik, pemerintah DI Yogyakarta juga menjadi catatan sendiri, karena belum mempunyai sistem pelayanan publik satu pintu dan satu atap, sehingga masih menyulitkan masyarakat dalam mengakses pelayanan publik. Padahal, indikator pemerintah daerah yang sehat adalah akses pelayanan publik yang semakin efisien dan efektif. Selain itu, DI Yogyakarta sesungguhnya menyimpan potensi yang luarbiasa untuk menjadi kota budaya, kota seni, kota wisata, dan sentra pengembangan industri kreatif. Tetapi sentuhan itu mengapa semakin pudar ?. Ketika saya ke Yogya pertengahan 2008 lalu dan berjalan di sepanjang jalan penghasil kaos dagadu, kesunyian yang terasa begitu mencekam. Begitu juga dengan potensi kerajinan perak di sentra industri perak yang begitu sepi. Dan ketika berjalan di sepanjang Malioboro, tidak ada satupun turis asing yang sedang berada di sini. Begitu juga dengan tiadanya pentas seni, teater, sendra tari yang ditawarkan di tempat-tempat umum, - yang menunjukkan bahwa kota ini kota budaya. Ini, misalnya berbeda sekali dengan kota Bandung- yang melesat menjadi kota seni anak muda,- karena memang menjadi tempat yang kondusif sekali bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan seninya. DI Yogyakarta… sesungguhnya menunggu seorang pemimpin visioner yang mampu mengubah provinsi ini unggul secara komparatif dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Karena potensinya yang luar biasa. Karena masyarakatnya yang luar biasa ; pekerja keras, kreatif, nrimo dan gampang diatur. Sultan, tidakkah Anda berjuang untuk Yogyakarta terlebih dahulu ?. Sejahterakan rakyatnya, dan majukan provinsi ini dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Mungkin setelah ini terwujud, langkah bagi Sultan untuk menjadi Presiden RI akan lebih mudah di tahun 2014, daripada maju sekarang sebagai capres ataupun cawapres. Layakkah Sultan Jadi Presiden Atau Wapres ?. http://pemilu.detiknews.com/read/2009/01/29/164018/1076354/704/layakkah-sultan-jadi-presiden-atau-wapres *** Tim pengadaan tanah wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah, telah menyelesaikan pembayaran untuk membebaskan 48 bidang lahan di Kantor Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Jumat (30/1). Pembebasan lahan untuk Tol Semarang-Solo masih tersisa 26 bidang atau seluas 23.608 meter persegi. Namun, pembangunan fisik pembangunan Tol Semarang-Solo akan dimulai pada Sabtu (31/1) ini, yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang pertama di Kelurahan Padangsari, Banyumanik, Kota Semarang. Pemasangan tiang pancang akan dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. ”Untuk lahan yang belum dibebaskan akan diberi tenggat hingga 10 Februari sebelum menempuh jalur konsinyasi”, ujar Ketua Tim Pengadaan Tanah Wilayah Kota Semarang Suyoto, Jumat (30/1) di sela-sela pembayaran 48 bidang lahan. Jalur konsinyasi ditempuh dengan menitipkan uang ganti rugi pembayaran ke pengadilan negeri. Suyoto memastikan, proses pembayaran ganti rugi lahan yang belum selesai tersebut tidak akan mengganggu pembangunan fisik yang telah dimulai. Pembangunan Tol Semarang-Solo mengenai 591 bidang lahan seluas 537.799 meter persegi, yang tersebar di tujuh kelurahan di Kota Semarang. Pembebasan lahan menghabiskan total biaya Rp 317,567 miliar. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, dalam acara selamatan pencanangan dimulainya pembangunan Tol Semarang-Solo, Jumat malam, berharap pembangunan itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. ”Dengan adanya jalan tol, Jateng akan memiliki nilai tambah sehingga orang-orang dari Jawa Timur atau Jawa Barat tidak hanya sekadar mampir di Jateng”, kata Bibit. http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04325725/pembangunan.ruas.semarang-solo.dimulai *** --------------------------------- Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah klik http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org --------------------------------- Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
