Sampai dengan saat ini masih sekitar 85% pemilih yang belum mengenal secara 
detail tentang caleg yang akan mereka pilih. Begitulah fakta yang didapatkan 
dari hasil sebuah survai yang dilakukan di Jawa Tengah. 

Disisi lain, konon kata pakar ilmu politik mengatakan bahwa perilaku pemilih 
dalam menentukan siapa kandidat yang akan dipilihnya atau siapa kandidat yang 
akan didukungnya itu bukanlah ditentukan oleh kualitas maupun kuantitas 
informasi yang mereka terima tentang kandidat pilihannya tersebut, tetapi 
dipengaruhi oleh kemampuan pemilih itu dalam mengolah dan mencerna informasi 
itu.

Dengan kata lain, para kandidat para Caleg  -maupun juga kandidat para Capres 
dan Cawapres-  tak perlu mengutarakan program dan visi serta misi yang 
muluk-muluk, cukup sekedar jargon sederhana saja yang diutarakan dalam bahasa 
yang gampang dicerna dan mudah difahami. 

Mungkin begitulah karakteristik para pemilih yang sesungguhnya mereka tak 
perduli bahkan tak mau perduli dengan detail informasi berkaitan dengan 
pilihannya terhadap kandidat Caleg/Capres/Cawapres. Bekalnya dalam memasuki 
bilik suara cukuplah ‘feeling’ bahwa si kandidat yang akan dipilihnya itu 
terlihat ‘baik’. Bahkan mungkin pilihannya itu ditentukan sedetik dua detik 
sebelum mencontreng. Jika demikian maka pantes sajalah jika berulang-ulang 
pemilu tetap saja selalu salah pilih. 

Celakanya, walau sesederhana itu dasar pertimbangan dalam menentukan 
pilihannya, namun memilih untuk tak memilih itu haram, jadi ya sangat bisa jadi 
jika ngawur saja pilihannya. Dalam arti kata, memilih Caleg/Capres/Cawapres ya 
digampangkan dan dianggep enteng-enteng saja, disamakannya seperti memencet 
tombol handphone mengirimkan sms dukungan terhadap para kandidat di acara-acara 
kontes idol-idolan.

Padahal pemilu itu bukanlah sekedar sebuah acara kontes idol-idolan, namun 
pemilu adalah hal yang sangat serius, dimana pilihan kita itu akan menentukan 
arah kehidupan bangsa ini, yang didalamnya itu termasuk anda, keluarga anda, 
dan yang terpenting juga 250 jutaan orang lain diluar diri kita.

Masihkah kita tetap tak ingin mengetahui informasi secara detail tentang para 
Caleg/Capres/Cawapres yang akan kita pilih itu ?. 

Wallahua’lambishshawab.    

***

Masyarakat ternyata masih bingung dalam menentukan calon anggota legislatif 
pada Pemilihan Umum 2009 meskipun sosialisasi dan kampanye terselubung gencar 
terjadi di Jawa Tengah.

Hasil survei menunjukkan, sekitar 85 persen masyarakat masih belum tahu caleg 
secara detail dan 15 persen saja masyarakat yang tahu tentang caleg yang akan 
dipilih. Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pembangunan Daerah (LPPD) 
Semarang Teguh Yuwono, Selasa (3/2), memaparkan hasil survei yang dilakukan di 
10 daerah pemilihan Jateng dengan responden 1.000 pemilih potensial.. Survei 
juga menunjukkan tingginya angka pemilih yang belum mengetahui caleg yang akan 
dipilih akibat buntunya komunikasi. ”Caleg yang gencar memasang poster atau 
spanduk itu ternyata fungsinya hanya sebatas perkenalan diri. Pemilih masih 
belum mengenal atau mengetahui langsung calonnya,” kata Teguh Yuwono, yang 
melakukan survei selama Desember 2008.

Teguh Yuwono menyatakan, ada tiga faktor yang mendorong pemilih menetapkan 
calegnya, yaitu sudah kenal, suka dengan program, lalu mendukung dan memilihnya 
pada Pemilu 2009. ”Tetapi, kenyataannya, pemilih sebagian besar masih belum 
mengenal atau mengetahui caleg yang akan dipilihnya,” katanya. 

Besarnya jumlah pemilih yang belum mengenal caleg ini merupakan tantangan bagi 
Komisi Pemilihan Umum untuk terus melakukan sosialisasi lebih gencar. 

Sejak Mahkamah Konstitusi menetapkan caleg terpilih adalah caleg yang 
memperoleh suara terbanyak, hal itu menggeser paradigma peran parpol ke peran 
individu caleg di masyarakat. Selain itu, banyaknya pemilih yang tidak mengenal 
caleg ternyata juga akibat caleg yang tidak melakukan kontak langsung dengan 
konstituen. Pemilih juga tidak memiliki akses langsung ke caleg. Caleg banyak 
menggunakan pihak ketiga untuk berkomunikasi dengan pemilih.

Teguh Yuwono mengemukakan, survei juga menunjukkan bahwa pemilih sebagian besar 
menentukan caleg pilihannya berdasarkan kemampuan ekonomi caleg. Caleg yang 
mampu dari segi ekonomi dan akademi dipilih sekitar 36,6 persen, sedangkan 
caleg yang punya program kerja baik dipilih oleh 31,1 persen dan sisanya caleg 
paduan keduanya. ”Pemilih juga menyukai caleg yang tampil percaya diri 
berdasarkan kemampuannya. Pemilih tidak suka terhadap caleg yang terlalu 
mengandalkan tokoh-tokoh lain, seperti Bung Karno, atau figur-figur lokal. 
Caleg yang memajang foto dirinya dengan latar belakang tokoh nasional atau 
figur lokal atau foto ayahnya menunjukkan, caleg itu tak percaya diri dengan 
kemampuannya,” kata Teguh Yuwono, yang juga dosen FISIP Universitas Diponegoro, 
Semarang.

Mengenai peran orang ketiga dalam memengaruhi pilihan caleg, Teguh Yuwono 
memaparkan bahwa peran tokoh masyarakat dipercaya 28 persen pemilih. Disusul 22 
persen pemilih menentukan caleg pilihannya sendiri dan 21 persen atas dasar 
panutan tokoh agama di lingkungannya. Pemilih yang mencontreng caleg karena 
masih ada hubungan famili hanya 7,5 persen dan caleg memilih pasangan 
suami-istri hanya 9 persen. 

Survey Politik : Sebanyak 85 Persen Pemilih Belum Kenal Caleg.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/0024528/sebanyak.85.persen.pemilih.belum.kenal.caleg

***











      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke