Iya betul, konteksnya adalah pengedaran uang kartal. 

Ada tiga hal yang sebenarnya ingin saya bidik, yaitu:
[H1] nilai atau "kekayaan" yang dimiliki atau "dibawa" oleh setiap
lembar uang, termasuk asal muasalnya.
[H2] beban bunga yang diakibatkan karena memiliki/memegang selembar uang.
[H3] sebuah lingkaran "setan" akibat beban bunga ini.


Jadi, rangkumannya sejauh ini adalah:
[L10] Kertas dicetak menjadi uang oleh perusahaan cetak uang.
[L20] Uang yang baru dicetak ini dikirim ke BI (secara fisik atau
mungkin secara "administratif"/pencatatan saja).
[L30] Uang diambil oleh bank-bank kemudian diedarkan kepada
masyarakat, melalui teller atau ATM.

L30 ini sangat mengherankan. Dalam konteks H1, selembar kertas yang
berharga mungkin beberapa rupiah dengan proses cetak yang menelan
ongkos beberapa rupiah juga, yakni nilai intrinsik uang kertas ini
sebenarnya cuma katakanlah 10 rupiah, lalu dicetak angka 100000
(100R), lantas "tiba2" berharga 100R rupiah? Yakni selembar kertas
yang semula berharga 10 rp, tiba2 nilainya disamakan dengan sepasang
sepatu misalnya. Yakni, usaha untuk membuat selembar uang itu yang
biaya totalnya cuma 10 rp, tiba2 disamakan dengan usaha menghasilkan
sepasang sepatu ber"nilai" 10R kalinya. Ini tentu tidak adil.

Kita selangkah demi selangkah saja ya. Setahu saya, masalah uang
kertas dan nilainya ini berbelit-belit, sehingga kalau tidak selangkah
demi selangkah saya takut diskusi juga menjadi berbelit-belit tidak
berujung pangkal. Sementara itu saya percaya, atau secara intuisi
berpendapat, berbelit-belit ini tidak akan terjadi dengan jenis uang
penuh (emas, perak, dst).

Terima kasih.


--- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko"
<agungpurw...@...> wrote:
>
> 
> Kalo berbicara konteks ini sebenarnya dalam kerangka pengedaran uang
kartal ya, tidak termasuk uang giral. Pengambilan uang oleh bank untuk
operasional bank seperti transaksi harian melalui teller atau mengisi
ATM. 
> Sebenarnya pertanyaannya dalam konteks apa ya? Yang saya tangkap
dari awal adalah pengedaran uang secara kartal (setelah BI cetak
uang), tidak termasuk pengedaran uang secara total (m1, m2, m3).
> Sent from my CurveBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> -----Original Message-----
> From: "Arif Muljadi" <mari...@...>
> 
> Date: Tue, 24 Feb 2009 06:28:51 
> To: <[email protected]>
> Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
> 
> 
> (Sebenarnya saya sudah balas posting pak Agung ini, rupanya ke jaring
> filter, karena salah format penulisan).
> 
> Apa yang mengontrol pengambilan uang dari BI oleh bank-bank? Apakah
> kriteria "sesuai kebutuhan" ini?
> 
> 
> --- In [email protected], "Agung Bayu Purwoko"
> <agungpurwoko@> wrote:
> >
> > Pengedaran uang oleh BI gak dikenakan bunga Pak. Bank-bank melakukan
> pengambilan uang atau penyetoran uang ke BI sesuai kebutuhan. 
> > 
> > Sent from my CurveBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "Arif Muljadi" <marifok@>
> > 
> > Date: Mon, 23 Feb 2009 17:24:20 
> > To: <[email protected]>
> > Subject: [ekonomi-nasional] Uang yang beredar
> > 
> > 
> > Salam,
> > 
> > Saya ingin bertanya kepada para ahli ekonomi, mengenai uang yang
> > beredar. Pertanyaan ini karena agak rumit untuk diungkapkan dalam
> > kalimat yang singkat (tidak berarti persoalannya itu sendiri rumit),
> > maka akan saya tanyakan secara bertahap, di samping untuk menghindari
> > sebanyak mungkin kesalahpahaman.
> > Setelah uang dicetak, lalu dikirim ke BI, oleh BI uang ini diedarkan.
> > Pengedaran uang oleh BI ini bukankah selalu disertai bunga?
> > 
> > Demikian pertanyaan pertama saya. Terima kasih sebelumnya.
> > 
> > Arif
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke