Setuju Pak Bango,hubungan uang beredar dan inflasi itu sebenarnya hubungan jangka panjang. Sementara untuk jangka pendek, faktor non moneter seperti struktur pasar dan infrastruktur sangat mempengaruhi pembentukan harga yang pada ujungnya mempengaruhi inflasi. Dan kembali pada faktor perilaku konsumsi masyarakat yang impor minded mengakibatkan ketidakseimbangan pasokan valas yang akhirnya berujung pada inflasi yang bersumber dari impor (imported inflation).
2009/2/25 Bango Samparan <[email protected]> > --- On Wed, 2/25/09, A Nizami <[email protected] <nizaminz%40yahoo.com>> > wrote: > > > Mas Irwan, > > Menurut saya para kapitalis lebih senang memakai uang > > kertas karena mereka bisa menikmati bunga yang diberikan > > Bank Sentral untuk menjaga nilai uang kertas yang sebenarnya > > tidak bernilai itu. > > Maaf lho mas Nizami, bukan saya hendak mengajak diskusi ngalor ngidul. Soal > bunga itu tidak hanya terjadi pada kasus uang kertas. Jika sistem monoternya > memakai gold standar-pun tetap bisa terjadi bunga (riba). > > Sekali lagi mohon maaf, kalau solusi Islam itu ditawarkan secara kurang > komprehensif, malahan akan membuat yang mendengar skeptis. > > Uang kertas, merujuk kepada perkataan Umar, mungkin (boleh) dipakai juga > kok. Saya bisa merujukkan buku yang menyebutkan hal ini. > > Seperti persoalan inflasi, misalnya, akar penyakitnya sebenarnya bukan pada > fiat standar, tapi justru terletak pada ketidaksempurnaan pasar, pasar > cenderung menuju ke monopoli atau sudah monopoli. Akar masalah yang lain > adalah motif ribawi yang banyak melahirkan ketidakseimbangan antara sektor > riil dan sektor moneter (ketidakseimbangan antara permintaan agregat dan > penawaran agregat.) > > Soal inflasi sendiri, tidak selalu ditembak dengan solusi gold standar, > bisa juga melalui indeksasi (lihat Capra, Toward a Just Monetery System). > > Salam hangat > B. Samparan > > > -- Agung Bayu Purwoko Economic Research Group Bank Indonesia Padang [Non-text portions of this message have been removed]
