Jumat, 27 Februari 2009 | 00:56 WIB Jakarta, Kompas - Perbankan nasional berupaya meningkatkan hubungan dan memperluas korespondensi dengan perbankan di luar negeri. Salah satu tujuannya, memperlancar penerbitan letter of credit ekspor Indonesia ke negara-negara bank koresponden.
"Seiring terjadinya pelambatan ekonomi global, ekspor Indonesia dipastikan turun. Namun, jangan sampai penurunannya diperparah soal administrasi, seperti L/C dan perizinan," kata Direktur BNI Bien Soebiantoro saat dihubungi di Rusia, Kamis (26/2). Di Rusia, BNI merundingkan kerja sama mengenai fasilitas letter of credit (L/C) dengan sejumlah bank di sana. Ekspor Indonesia ke Rusia antara lain produk pertanian dan industri kreatif. Menurut Bien, gejolak pasar keuangan global membuat anjloknya kepercayaan antarbank lintas negara. Situasi ini juga berdampak pada kelancaran penerbitan L/C. "Kami lalu berinisiatif menemui bank koresponden. Mereka kini meningkatkan komitmen guna mendukung perdagangan negaranya dengan Indonesia," kata Bien. Fasilitas L/C merupakan pembiayaan bank untuk ekspor-impor. Transaksi ini melibatkan bank di dalam negeri dan bank koresponden di luar negeri. Dalam sosialisasi UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang lembaga pembiayaan ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany mengharapkan Indonesia Eximbank dapat beroperasi pada 1 Juli 2009. Lembaga ini merupakan transformasi bentuk dari PT Bank Ekspor Indonesia. Dirut PT Bank Ekspor Indonesia Arifin Indra mengatakan, Indonesia Eximbank punya wewenang menetapkan skema pembiayaan ekspor nasional dan melakukan restrukturisasi pembiayaan ekspor nasional. (FAJ) Kira-kira efek terjelek yang akan terjadi apa ya??kalau dilihat dari sejarah, apakah perbankan di Indonesia pernah mengalami kegagalan dari kebijakan ini?
