Hmm...saya bukan ahli investasi. Tapi setahu saya investasi bisa
dikategorikan menjadi investasi yang resikonya rendah, menengah, dan
tinggi. Investasi emas termasuk yang resikonya rendah tapi
keuntungannya juga rendah kalo istilah para ahli low risk low return,
high risk high return.

Logikanya, kenapa banyak orang lebih suka investasi di reksadana atau
saham atau pasar uang daripada investasi di emas? Apakah mereka tidak
bijak, kurang bijak, atau jauh lebih bijak?

2009/2/26 Arif Muljadi <[email protected]>:
> Cara memerangi inflasi adalah sangat mudah untuk dikatakan, tapi
> mungkin sangat susah untuk dilakukan. Caranya adalah dengan membuat
> produk melimpah!
>
> Walaupun sistem ekonomi yang menggunakan uang penuh (seperti uang
> emas, perak, dsb.), juga bisa mengalami inflasi, yakni ketika
> barangnya langka, tapi bagaimanapun juga ada karakteristik sistem
> ekonomi uang penuh yang berbeda mencolok dari sistem uang tanda
> (seperti uang kertas). Seperti telah digambarkan oleh pak Nizami, dulu
> semangkok bakso berharga Rp 500, sekarang Rp 7000. Mungkinkah harga
> bakso bisa lagi menjadi Rp 500 lagi? Pemegang uang kertas, secara
> teratur, kehilangan kekayaannya, karena nilai/harga uang kertas SELALU
> menurun, bahkan di Amerika Serikat sekalipun. Sekarang saya tanya.
> Misal anda masih berumur 30 tahun, katakanlah masih bisa hidup 60
> tahun lagi. Tabungan hari tua anda yang akan dipakai dalam masa
> pensiun, yakni katakanlah 35 tahun ke depan, diinginkan ditanam
> sebagai emas atau uang kertas (USD atau euro sekalipun)? Orang bijak
> pasti memilih emas!
>
> --- In [email protected], Bango Samparan
>
> <bsampa...@...> wrote:
>>
>> Lho mas kalau pakai uang emas dan perak, apa tidak bisa terjadi inflasi?
>>
>> Salam hangat
>>
>> B. Samparan
>>
>
> 



-- 
It is not the strongest of the species that survives, nor the most
intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to
change. (Charles Darwin)

Kirim email ke