--- On Fri, 2/27/09, A Nizami <[email protected]> wrote:

> Keserakahan bisa terjadi di mana saja mas Bango.
> Tapi kalau dengan mata uang dinar emas dan dinar perak anda
> hanya bisa mengeluarkan uang sejumlah emas dan perak yang
> anda miliki.
> 
> Misalnya anda hanya upnya 1000 kg emas, ya 1000 kg mata
> uang emas itu yang bisa anda keluarkan. Anda tidak bisa
> memanipulasi mata uang emas karena keserakahan anda.

Moga-moga ini sudah tidak ngalor-ngidul ya mas Nizami:-) Misalnya, produksi 
emas bisa saja dimonopoli tho mas. Konon, banyak tambang kita yang formalnya 
bukan tambang emas, tetapi ternyata hasil sampingannya emas banyak sekali. 
Kemana larinya emas ini?

Contoh riilnya, minyak timur tengah, siapa yang banyak menguasainya? Atau, 
sudahlah minyak kita sendiri? Emas, bagaimana?

> Sebaliknya dengan mata uang kertas.
> Anda bisa mencetak uang kertas tidak terhingga. Anda bisa
> mencetak misalnya sampai Rp 1000 milyar trilyun lebih. Kalau
> kertas dan tinta habis beli saja pakai uang yang anda cetak.
> Jadi tidak ada kontrol di sini.

Kalau saya jelas nggak bisa mencetak uang, yang bisa mencetak adalah otoritas 
moneter. Kalau nyetaknya ngawur, ya akan terjadi hiperinflation. Ingat kasus 
Indonesia pra orba. Nah, sebetulnya ada self correction-nya kok, hanya otoritas 
moneter mau enggak merespon. 

Harusnya JUB (jumlah uang beredar) itu hanya merupakan tudung (veil) yang 
proporsional bagi nilai produksi suatu bangsa. Kalau ini bisa didekati, maka 
problem inflasi bisa ditangani secara baik. Inflasi hanya akan berada di 
natural rate-nya saja.

Saya tidak menafikkan keunggulan dari double standar dengan uang benar-benar 
dibuat dari emas dan perak kok mas Nizami, tapi kalau disajikan sebagai obat 
general dari segala permasalahan ekonomi ya nanti dulu. Lagi pula masalah bad 
money drive out good money juga harus diatasi, demikian masalah kesenjangan 
antara harga emas dan perak sebagai komoditi dan harga emas dan perak sebagai 
barang moneter.

Mohon diperhatikan juga, bila kita menawarkan double standar, dalam menganalis 
banyak masalah ya jangan lagi memakai dikotomi uang emas dan uang kertas. 
Misalnya untuk menganalisis masalah inflasi, upah, dll, ya harus diasumsikan 
semuanya telah memakai dirham dan dinar. Dalam hal ini harga-harga kan sudah 
dalam dinar semua.

Salam hangat
B. Samparan


      

Kirim email ke