Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang emas (atau uang penuh lainnya), ... justru agak susah saya bayangkan/pikirkan, mengapa sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana yaa... apakah orang mau menukar (sementara) uang emasnya dengan sekian lembar kertas bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu nggak beda dari menabung. Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini (yakni dibeli dengan uang emas), dari mana dana untuk membayar bunganya? Intuisi saya mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah (yang sebenarnya, yang kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus membayar bunga untuk uang emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi inflasi. Lha, uang emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang "percaya" saja (yakni uang kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang namanya devaluasi, 'kan? Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di Indonesia, beratnya juga 5gr di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas seberat X gram yang dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika dihargai 1000 kg beras jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat X gram juga yang dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia "cuma" dihargai 999.5 kg beras yang sama.
Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. Kalau menurut sistem Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk dijadikan modal usaha dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real there, memang ada gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang emas keuntungan hasil usaha diterima oleh penerima kredit, lalu dibagi2. -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan <bsampa...@...> wrote: > > Apa iya tho mas? Bagaimana logikanya? > > Saya bukan tidak setuju kalau uang diganti dinar dan dirham, tapi kalau terus simplifikasi, ya nanti dulu. > > Kalau uang diganti dinar dan dirham. Saya masih boleh nggak menabung di bank? Boleh enggak ada rekening giro di bank? Boleh enggak bank menciptakan kredit? > > Lha kalau masih, uang giral kan masih eksis juga:-) Masalah multipier uang inti juga masih eksis. Jadi masalah Jumlah Uang Beredar yang tepat masih harus diperhatikan:-) Inflasi juga masih mungkin terjadi, hanya sekarang kenaikkan atau penurunan harganya sudah pakai dinar dan dirham. Intinya sekali lagi adalah kebijakan untuk menyeimbangkan sektor riil dan sektor moneter. > > > Salam hangat > B. Samparan >
