Saya tidak paham ujung dari skenario ini. Kalau "lingkaran kredit ke pengusaha dan pengusaha balik menabungkan" ini diteruskan, maka tidak ada uang beredar. Lalu?
Sementara itu di lain pihak, apa mungkin terjadi lingkaran seperti itu? Bukankah biasanya bank tahu ke mana uang pinjaman akan digunakan?. Kalau bank X tahu pengusaha A cuma bermaksud menyimpan semua 900 dinar itu ke sebuah bank lain, apakah bank X akan memberi kredit itu? Atau, misal pengusaha A terkait pembagian hasil dengan bank X 50:50. Kalau lingakran itu terjadi, tentu pada akhirnya "usaha" pengusaha A tidak akan menghasilkan apa2. Tentu saja bank X akan menghentikan kredit kepada A. Lalu? Wah, gimana ini mas Bango. --- In [email protected], Bango Samparan <bsampa...@...> wrote: > > Otoritas moneter membuat uang dinar 1000. Oleh pemerintah dipakai untuk membayar gaji PNS. > > Sama PNS ditabung semuanya ke bank X. Sama bank X ditahan 100 sebagai cadangan, dikreditkan 900 ke pengusaha A. Setelah terima 900, oleh pengusaha A dimasukkan ke bank Y. Oleh bank Y ditahan 90 sebagai cadangan, 810 dikreditkan ke pengusaha B. dst > > Berapa jumlah uang beredar yang akan terjadi? Kalau mas Arif bisa melogika hal ini, baru mas Arif tahu apa itu yang dimaksudkan dengan JUB, dan permasalahan ketidakseimbangan yang mungkin muncul antara pasar uang dan pasar riil. > > Contoh di atas memang disederhanakan mas. Selamat mencerna:-) > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Mon, 3/2/09, Arif Muljadi <mari...@...> wrote: > > > From: Arif Muljadi <mari...@...> > > Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar > > To: [email protected] > > Date: Monday, March 2, 2009, 10:13 PM > > Kalau yang dipakai atau yang beredar adalah uang emas (atau > > uang penuh > > lainnya), ... justru agak susah saya bayangkan/pikirkan, > > mengapa > > sampai perlu mengurangi peredaran uang... Gimana yaa... > > apakah orang > > mau menukar (sementara) uang emasnya dengan sekian lembar > > kertas > > bernama SBI? Ya, mau aja mungkin, karena itu nggak beda > > dari menabung. > > Kalau negara/pemerintah menjual SBI seperti ini (yakni > > dibeli dengan > > uang emas), dari mana dana untuk membayar bunganya? Intuisi > > saya > > mengatakan, agak aneh kalau negara/pemerintah (yang > > sebenarnya, yang > > kena akhirnya ya rakyat juga), kalau harus membayar bunga > > untuk uang > > emas yang ditarik dari peredaran demi mengurangi inflasi. > > Lha, uang > > emas 'kan uang yang riil, bukan cuma uang > > "percaya" saja (yakni uang > > kertas). Dan untuk uang emas, tidak ada yang namanya > > devaluasi, 'kan? > > Mau devaluasi gimana? Karena, 5gr emas di Indonesia, > > beratnya juga 5gr > > di Amerika. Walau, bisa saja, sekeping uang emas seberat X > > gram yang > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam Amerika dihargai 1000 > > kg beras > > jenis tertentu, sedang sekeping uang emas seberat X gram > > juga yang > > dicetak oleh sebuah perusahaan logam di Indonesia > > "cuma" dihargai > > 999.5 kg beras yang sama. > > > > Saya pikir bisa saja, uang emas ditabung di bank. Kalau > > menurut sistem > > Islam, uang tabungan ini bisa dikreditkan untuk dijadikan > > modal usaha > > dengan sistem bagi hasil. Yang dibagikan is real there, > > memang ada > > gitu, karena memang hasil usaha. Setelah uang emas > > keuntungan hasil > > usaha diterima oleh penerima kredit, lalu dibagi2. > > > > -Arif- > > >
