--- On Wed, 3/4/09, A Nizami <[email protected]> wrote:
> From: A Nizami <[email protected]>
> Iya mas Arif.
> Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di seluruh dunia
> relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram. Meski ada
> turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke titik
> kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa mempelajari
> kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih Bukhari yang
> menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor kambing hanya 1
> dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang ternyata
> harganya sama sekitar 1 dinar juga.
Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca buku Ekonomi Moneter enggak?
Terus terang cara panjenengan berdua memahami fenomena JUB (jumlah uang
beredar) itu terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi dalam
standar emas dan perak tidak sampai-sampai.
Standar emas dan perak, seperti pernah saya utarakan, memang akan menyelesaikan
masalah instabilitas nilai tukar, tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan
masalah inflasi. Masalah inflasi nantinya tetap harus dimanage lewat kebijakan
moneter dan fiskal yang piawai. Mengapa hayo? Ya, salah satunya karena masalah
JUB itu lho:-)
Bayangkan sekarang perekonomian sudah pakai standar emas dan perak, nah mungkin
tidak terjadi inflasi? Ya mungkin saja, kan harga komoditas bisa naik tho dari
sekian dinar menjadi sekian dinar. (Jangan berpikir lagi dalam kontradiksi
dinar dan kertas, komoditas kan tidak hanya kambing saja.)
Mas Nizami pernah enggak baca-baca kisah mengenai para sahabat mengeluh karena
harga-harga barang naik, dan mereka meminta Rasulullah melakukan intervensi
harga? Kemudian Rasulullah menolak. Semoga pernah ya:-) Nah, di buku-buku
ekonomi Islam nantinya akan menarik sekali diskusi mengenai intervensi harga
ini: boleh atau tidak? kapan? bagaimana?
Kok bisa ya harga-harga naik, kok bisa ya sampai masyarakat mengeluh, padahal
itu di zaman Rasulullah lho, pakai Dinar dan Dirham.
Moga-moga panjenengan berdua bisa memahami di mana kita sama di mana kita
berbeda:-)
Salam hangat
B. Samparan