Sip, kalau begitu point bahwa standar emas dan perak tak langsung menyelesaikan 
udah diterima tho? Begitu lho maksud saya! Jadi jangan nekad, sekarang tugas 
kita jadinya adalah mempelajari kebijakan moneter ala Islam:-)

Leres mas, inflasi memang jadi penyakit, oleh karena itu di dalam ekonomi makro 
cara melihat pertumbuhan ekonomi-nya adalah memakai pendapatan nasional riil - 
pendapatan nasional yang sudah dideflasikan dengan inflasi.

Nah, realitasnya di banyak negara pendapatan nasional riil tetep tumbuh 
meskipun tidak selaju pendapatan nasional nominal. Jadi, kemakmuran yang tetep 
bertambah lah.

Baiknya diamati pula pertumbuhan upah riil, biar kita tahu seberapa besar 
dampak inflasi terhadap upah. Nah, di sinilah Umar Capra mengemukakan indeksasi 
upah sebagai salah satu solusi terhadap masalah inflasi. Jadi upah harus dijaga 
nilai riilnya agar tidak digerus inflasi. Tapi hutangpun nantinya juga harus 
diperlakukan sama, biar yang penghutang tidak mendholimi yang memberi hutang:-)

Cobalah baca Toward a Just Monetary System, kelihatan udah diterjemahkan nih. 
Dulu saya coba menerjemahkan, tapi keduluan:-)

Salam sayang selalu
B. Samparan


--- On Wed, 3/4/09, Arif Muljadi <[email protected]> wrote:

> From: Arif Muljadi <[email protected]>
> Subject: [ekonomi-nasional] Re: Uang yang beredar
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, March 4, 2009, 11:55 AM
> Mari kita tengok negara yang katanya ekonominya,
> stabilitasnya, militernya, kapitalisnya, pertaniannya,
> industrinya paling jagoan. Lihat inflasi di sana melalui
> website menarik
> http://www.westegg.com/inflation/ .
> 
> Ini yang saya lakukan di situ:
> ------------------------------
> The following form adjusts any given amount of money for
> inflation, according to the Consumer Price Index, from 1800
> to 2007. Enjoy!
> Enter the amount of money: 100
> Enter the initial year (1800-2007): 1800
> Enter the final year (1800-2007): 2007
> 
> Hasilnya:
> ---------
> What cost $100 in 1800 would cost $1204.60 in 2007.
> Also, if you were to buy exactly the same products in 2007
> and 1800,
> they would cost you $100 and $8.53 respectively. 
> 
> 
> Memang, dalam sistem moneter menggunakan uang emas, bisa
> ada inflasi. Seperti sudah aaya bilang, tidak ada yang
> sempurna di dunia ini. Tapi, apakah di dalam sistem moneter
> dengan uang emas akan ada inflasi yang seperti di atas yang
> bahkan terjadi di negara yang konon paling jagoan?
> 
> -Arif-
> 
> --- In [email protected], Bango Samparan
> <bsampa...@...> wrote:
> >
> > --- On Wed, 3/4/09, A Nizami <nizam...@...>
> wrote:
> > 
> > > From: A Nizami <nizam...@...>
> > 
> > > Iya mas Arif.
> > > Kalau uang emas, tanpa dijaga pun nilainya di
> seluruh dunia
> > > relatif sama. Saat ini sekitar Rp 300 ribu/gram.
> Meski ada
> > > turun/naik tidak akan drastis. Selalu kembali ke
> titik
> > > kesetimbangan. Harusnya mas Bango bisa
> mempelajari
> > > kestabilan nilai dinar emas dari Buku Sahih
> Bukhari yang
> > > menceritakan 1.400 tahun lalu harga seekor
> kambing hanya 1
> > > dinar (4,25 gram emas 22 karat), eh sekarang
> ternyata
> > > harganya sama sekitar 1 dinar juga.
> > 
> > Mohon maaf lho, panjenengan berdua ini pernah baca
> buku Ekonomi Moneter enggak? Terus terang cara panjenengan
> berdua memahami fenomena JUB (jumlah uang beredar) itu
> terlalu sederhana, makanya membayangkan masalah inflasi
> dalam standar emas dan perak tidak sampai-sampai.
> > 
> > Standar emas dan perak, seperti pernah saya utarakan,
> memang akan menyelesaikan masalah instabilitas nilai tukar,
> tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan masalah inflasi.
> Masalah inflasi nantinya tetap harus dimanage lewat
> kebijakan moneter dan fiskal yang piawai. Mengapa hayo? Ya,
> salah satunya karena masalah JUB itu lho:-)
> > 
> > Bayangkan sekarang perekonomian sudah pakai standar
> emas dan perak, nah mungkin tidak terjadi inflasi? Ya
> mungkin saja, kan harga komoditas bisa naik tho dari sekian
> dinar menjadi sekian dinar. (Jangan berpikir lagi dalam
> kontradiksi dinar dan kertas, komoditas kan tidak hanya
> kambing saja.)
> > 
> > Mas Nizami pernah enggak baca-baca kisah mengenai para
> sahabat mengeluh karena harga-harga barang naik, dan mereka
> meminta Rasulullah melakukan intervensi harga? Kemudian
> Rasulullah menolak. Semoga pernah ya:-) Nah, di buku-buku
> ekonomi Islam nantinya akan menarik sekali diskusi mengenai
> intervensi harga ini: boleh atau tidak? kapan? bagaimana?
> > 
> > Kok bisa ya harga-harga naik, kok bisa ya sampai
> masyarakat mengeluh, padahal itu di zaman Rasulullah lho,
> pakai Dinar dan Dirham.
> > 
> > Moga-moga panjenengan berdua bisa memahami di mana
> kita sama di mana kita berbeda:-)
> > 
> > Salam hangat
> > B. Samparan
> >


      

Kirim email ke