Misalkan pabrik mobil BMW membuat sebuah mobil dengan model XYZ yang sangat aduhai. Pokoknya model ini model yang paling ngetop yang pernah dibuat BMW. Dan untuk model ini, hanya dibuat SATU unit saja dan dijual dengan harga USD 100 juta. Saya beli mobil ini. Saya mampu beli mobil ini dari kekayaan saya hasil investasi dalam emas, bukan investasi dalam USD, apalagi Rp! :-) Kemudian, mobil ini saya pinjamkan ke perusahaan sewa mobil W untuk dijadikan barang usaha. Kemudian, seseorang berinitial B, menyewa mobil ini dari perusahaan W. B lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan sewa mobil V untuk dijadikan barang usaha. Kemudian, seseorang berinitial C, menyewa mobil ini dari perusahaan V. C lantas meminjamkan mobil ini ke perusahaan sewa mobil U untuk dijadikan barang usaha. Demikian seterusnya. Apakah, dengan "lingkaran" demikian diartikan bahwa Indonesia punya sekian puluh mobil BMW model XYZ yang sebenarnya oleh BMW cuma pernah dibuat SATU unit saja?
Bagaimana dengan M0, M1, dst? Apakah "bermain2 kata" seperti begini juga? -Arif- --- In [email protected], Bango Samparan <bsampa...@...> wrote: > > Mas, dari yang 1000 itu, melalui proses perbankan - menabung dan kredit - > akan tercipta - bila diidealkan - JUB sebanyak 10.000; 1000 uang inti dan > 9000 uang giral. > > Dalam praktek memang tidak akan mencapai 10.000, setengahnya aja mungkin > tidak, ya tergantung multiplier uang intinya. > > Jadi, jangan dikira kalau otoritas moneter mencetak uang 1000 dinar, jub-nya > hanya 1000 dinar. Nah disinilah kemudian persoalan memanage JUB yang tepat > itu tetap tetap muncul meskipun standar moneter yang dipakai adalah standar > emas. > > Masalah inflasi dan unemployment sangat tergantung pada managemen JUB > tersebut. Dengan demikian, standar emas, tidak terus menyelesaikan semua > persoalan secara instant. > > Salam hangat > B. Samparan > >
