Kompas, Rabu, 15 November 2006 Kemiskinan akibat Beras Daerah Harus Dilibatkan dalam Memberantas Kemiskinan
Jakarta, Kompas - Bank Dunia memperkirakan sebanyak 3,1 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan akibat kenaikan harga beras 33 persen selama periode Februari 2005 sampai Maret 2006. Dasar perhitungannya, tiga perempat dari kaum miskin adalah konsumen bersih (net consumer) beras. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan meningkat dari 15,97 persen pada Februari 2005 menjadi 17,75 persen pada Maret atau meningkat sebanyak 3,95 juta orang menjadi 39,05 juta orang miskin. Dari total kenaikan 3,95 juta orang miskin tersebut, tiga perempatnya atau sekitar 3 juta orang adalah kaum miskin sebagai konsumen bersih beras. Demikian ujar Lead Economist World Bank Indonesia William Wallace, dalam peluncuran World Bank East Asia Up Date November 2006, Selasa (14/11) di Jakarta. Dia mengatakan, kenaikan harga beras merupakan faktor utama penyebab peningkatan kemiskinan di Indonesia. Kenaikan harga beras tersebut sebagian besar karena kekurangan pasokan akibat larangan impor beras. Namun, kemudian, untuk menstabilkan harga beras, pemerintah sebelum Idul Fitri telah membuka keran impor sebesar 210.000 ton beras. "Orang miskin membelanjakan 25 persen pendapatannya untuk membeli beras. Dengan demikian, kenaikan harga beras cukup memengaruhi pengeluaran orang miskin," kata Wallace. Dia menambahkan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada April dan Oktober 2005, yang secara kumulatif mencapai 143 persen, sepertinya bukan penyebab utama bertambahnya masyarakat miskin. "Dengan kenaikan harga BBM tersebut, memang akan menurunkan kesejahteraan masyarakat miskin dan yang mendekati garis kemiskinan sebanyak 5 persen. Namun, itu bisa diimbangi dengan program bantuan langsung tunai (BLT) untuk sekitar 19,2 juta rumah tangga," tutur Wallace. Dia mengatakan, BLT merupakan program subsidi tunai terbesar di dunia karena setiap keluarga penerima mendapatkan sekitar 11 dollar AS per bulan. Bahkan dengan asumsi adanya kesalahan dalam menetapkan penerima bantuan, rumah tangga miskin pada umumnya mendapatkan kompensasi lebih besar daripada kenaikan harga BBM. Menurut Wallace, berakhirnya program BLT harus diwaspadai karena angka kemiskinan dapat kembali meningkat tahun depan. "Program BLT Bersyarat yang dimulai tahun depan akan terlalu kecil untuk meredam dampak berakhirnya BLT. Dampak langsung dari rencana untuk meningkatkan program pembangunan yang dimotori masyakarat juga akan terbatas," kata Wallace. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah orang miskin, yang hidup dengan 1 dollar AS per hari pada tahun 2006 diperkirakan 19,5 juta orang, akan turun menjadi 17,5 juta orang pada 2007. Adapun orang miskin yang hidup dengan 2 dollar AS per hari juga diprediksi berkurang, dari 113,8 juta orang pada tahun 2006 menjadi 108,2 juta orang pada 2007. Asumsinya, ekonomi Indonesia bisa tumbuh dari 5,5 persen pada 2006 menjadi 6,2 persen pada 2007 dan jumlah penduduk bertambah dari 229,5 juta di 2006 menjadi 232,9 juta pada 2007. Dalam jangka pendek, menurut Wallace, dua langkah dapat ditempuh pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan. Pertama, melanjutkan program BLT tanpa syarat dalam skala yang lebih kecil. Kedua, mengadopsi kebijakan yang menstabilkan harga beras. Libatkan saerah Vice President Chief Economist PT CIMB-GK Securities Indonesia Kahlil Rowter mengatakan, sudah saatnya keterlibatan pemerintah daerah mengatasi kemiskinan. "Tanggung jawab harus dibagi. Anggaran pemerintah pusat terbatas dalam rangka pemberantasan kemiskinan. Sementara sepertiga APBN diteruskan ke daerah. Belanja pemda untuk pemberantasan kemiskinan harusnya lebih besar," kata Kahlil. (TAV) Community for Economic Enlightenment (COMMENT) email: [EMAIL PROTECTED] url: www.geocities.com/comment_indonesia ____________________________________________________________________________________ Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. http://new.mail.yahoo.com
