"Bagaimana pun juga swasta prinsipnya mencari untung. Bukan memberi layanan 
masyarakat. "

BUMN dan Departemen2 di indonesia pun kenyataannya juga tidak "memberi layanan 
masyarakat" bahkan banyak dari mereka yang justru menggunakan uangnya untuk 
kepentingan pribadi, sebut saja kasus uang-uang tidak jelas yang beredar di 
departemen-departemen kita, bea dan cukai contohnya yang sempat digrebek dan 
banyak uang tidak jelas di sana. di imigrasi saya pernah menemukan pelayanan 
masih ada yang menggunakan mesin ketik manual, meskipun di depannya bercokol 
komputer dengan LCD monitor, yang bahkan di perusahaan swasta pun monitor 
komputernya masih banyak yang CRT. 






________________________________
Dari: A Nizami <[email protected]>
Kepada: [email protected]; ekonomisyariah 
<[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; lisi <[email protected]>
Terkirim: Rabu, 26 Agustus, 2009 08:43:45
Judul: [ekonomi-syariah] Siapa Bilang Swasta Tidak Rugi atau Bangkrut?

  
Banyak orang berkata bahwa jika BUMN diprivatisasi jadi perusahaan Swasta, maka 
akan lebih baik. Karena Swasta menggunakan dananya sendiri, maka mereka jadi 
lebih hati-hati. Begitu alasannya.

Namun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena kalau perusahaan 
tersebut menengah kecil, mungkin masih murni memakai uang sendiri. Tapi umumnya 
perusahaan swasta menengah atas, apalagi asetnya sudah sampai trilyunan rupiah 
lebih, hanya sebagian kecil yang menggunakan uang pribadi. Umumnya menggunakan 
dana pihak lain atau uang rakyat mulai dari sekedar pinjaman Bank, atau pun 
dengan menarik dana masyarakat dengan melempar saham di Bursa Saham.

Bahkan jika perusahaan tersebut berupa Bank Swasta atau pun Pialang Saham 
Swasta, mereka dengan mudah menarik dana masyarakat yang menjadi nasabahnya 
sampai ratusan trilyun lebih.

Apakah perusahaan Swasta tersebut jadi bagus dan tidak rugi?

Kita lihat betapa banyak perusahaan swasta yang merugi. BHS Bank bangkrut dan 
pemiliknya kabur dengan trilyunan uang nasabah. Lehman Brothers juga bangkrut 
dengan kerugian 300 milyar dollar AS. Sarijaya Securities bangkrut dengan 
menghilangkan Rp 245 milyar uang nasabahnya. Enron yang sudah Go Public dan 
Chrysler bangkrut, sementara AIG harus “dinasionalisasi” dengan dana US$ 85 
milyar dari uang rakyat AS.

Pada Krisis Moneter di tahun 1998, pemerintah harus menalangi Bank-bank Swasta 
seperti BCA, Danamon, Lippo, dan sebagainya dengan uang rakyat sebesar Rp 600 
trilyun melalui KLBI/BLBI. Itu adalah jumlah yang sangat besar karena melampaui 
jumlah APBN Indonesia saat itu. Bank-bank Swasta tersebut merugi dan 
diambil-alih pihak lain.

Banyak perusahaan swasta yang kreditnya macet. Meski perusahaan merugi, namun 
pemilik perusahaan tetap bebas menikmati kekayaannya yang mungkin berasal dari 
kredit tersebut (misalnya berupa deviden/gaji sebagai komisaris/direktur) 
karena sebagai PT, tanggung-jawabnya hanya sebatas PT (Perseroan Terbatas). 
Harta pribadinya tidak bisa diganggu-gugat.

Perusahaan yang Go Public pun yang katanya akan jadi bagus dan sulit bangkrut 
karena dimiliki publik sehingga lebih transparan dan terawasi, tetap saja 
bangkrut. Contohnya adalah Enron, Daya Guna Samudera (DGSA), Bintuni Minaraya 
(BMRA), Super Mitory (SUMI), dan sebagainya.

Perusahaan Inggris Thames yang mengambil alih PAM Jaya jadi TPJ (Thames Pam 
Jaya), ternyata merugi dan diambil-alih oleh AETRA. Padahal seluruh 
infrastruktur PAM dari jaringan pipa di Jakarta atau pun fasilitas penyaringan 
air sudah dibangun oleh BUMD PAM Jaya. Namun TPJ tetap merugi padahal perbaikan 
untuk meningkatkan mutu air PAM nyaris tidak ada.

Pada perusahaan swasta/terutama asing yang mengelola kekayaan alam Indonesia 
seperti minyak, gas, batubara, emas, perak, tembaga, dan sebagainya, kerugian 
negara/rakyat lebih parah lagi. Harta kekayaan alam yang seharusnya 
sebesar-besarnya dinikmati oleh rakyat menurut pasal 33 UUD 45, ternyata justru 
dinikmati oleh swasta/asing. Menurut PENA pada tahun 2008, sekitar Rp 2.000 
trilyun/tahun dari hasil kekayaan alam Indonesia justru dinikmati oleh asing.

Jadi banyak juga perusahaan swasta yang merugi dan merugikan rakyat Indonesia. 
Oleh karena itu menurut UUD 45 yang asli, meski swasta bebas beroperasi, namun 
untuk sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak atau pun kekayaan alam 
harus dikuasai oleh BUMN atau negara sehingga tidak merugikan rakyat dan 
kekayaan alam bisa dinikmati oleh rakyat. Bagaimana pun juga swasta prinsipnya 
mencari untung. Bukan memberi layanan masyarakat. Bahkan meski perusahaannya 
merugi, sebagian pemiliknya pasti berusaha agar pribadinya kaya meski harus 
memakai uang nasabah, pinjaman ke bank, atau pun menarik dana masyarakat dengan 
Go Public.

Sebaliknya, banyak juga BUMN yang untung dan berhasil memakmurkan negaranya 
seperti perusahaan migas Arab Saudi, ARAMCO. Sejak dinasionalisasi Raja Faisal 
tahun 1974, pendapatan migas Arab Saudi meningkat sehingga bisa memakmurkan 
rakyatnya. Begitu pula negara-negara Kuwait, Qatar, Venezuela, dan juga 
Malaysia menggunakan BUMN-nya sehingga mereka lebih makmur dari Indonesia. 
Bahkan negara dengan sistem ekonomi bebas seperti Norwegia pun tetap 
menggunakan BUMN untuk mengelola migasnya sehingga jadi satu negara termakmur 
di dunia karena kekayaan alamnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyatnya. Bukan 
segelintir pemilik perusahaan migas swasta!

Lehman Brothers Bangkrut Merusakkan 300 Milyar Dolar AS

BERLIN - Presiden Federal Financial Supervisory Authority Jerman, Jochen Sanio 
mengatakan bahwa Lehman Brothers bank investasi raksasa AS yang bangkrut 
membawa kerugian yang luas sehingga di luar AS kerusakan diperkirakan mencapai 
300 milyar dolar AS.

Lehman Brothers pada 15 September lalu setelah gagal mendapatkan suntikan modal 
akhirnya mendaftarkan kebangkrutan. Setelah itu pemerintah AS secara kontras 
mengumumkan rencana penyelamatan untuk AIG.

Hal tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya atas keputusan pemerintah AS 
dengan membiarkan Lehman bangkrur dan AIG diselamatkan dengan dana 85 milyar 
dolar AS. 

Baca selengkapnya di:
http://id.ibtimes. com/articles/ 20081014/ investasi- raksasa-bank- 
modal-kontras- suntikan. htm

Enron scandal
>From Wikipedia, the free encyclopedia

Enron Corporation Enron logo, designed by Paul Rand
Founded         Omaha, Nebraska, 1985
Headquarters    Houston, Texas, United States
Industry        formerly Energy
Revenue         $101 billion (in 2000)
Employees       approx. 22,000 in 2000
approx. 4 as of 2008.
Website http://www.enron. com/

The Enron scandal was a financial scandal involving Enron Corporation (former 
NYSE ticker symbol: ENE) and its accounting firm Arthur Andersen, that was 
revealed in late 2001. After a series of revelations involving irregular 
accounting procedures conducted throughout the 1990s, Enron was on the verge of 
bankruptcy by November 2001. After a white knight rescue attempt by smaller 
rival Dynegy had failed, Enron filed for bankruptcy on December 2, 2001.

As the scandal was revealed, Enron shares dropped from over US$90.00 to less 
than 50¢. Enron's plunge occurred after revelations that much of its profits 
and revenue were the result of deals with special purpose entities (limited 
partnerships which it controlled). The result was that many of Enron's debts 
and the losses that it suffered were not reported in its financial statements.

Baca selengkapnya di:
http://en.wikipedia .org/wiki/ Enron_scandal

Chrysler declares itself bankrupt

Chrysler, the 85-year-old Detroit carmaker, employs 54,000 people, with many 
more depending on the company for business and work. Photograph: Bettmann/Corbis

America's third-largest car manufacturer, Chrysler, has declared itself 
bankrupt after a handful of creditors withstood pressure from the Obama 
administration to forgive billions of dollars in debt, casting a cloud of 
uncertainty over tens of thousands of jobs at factories, suppliers and dealers.

Baca selengkapnya di:
http://www.guardian .co.uk/business/ 2009/apr/ 30/chrysler- verge-bankruptcy 
-talks-collapse

Tips Menilai Saham
Seringkali terjadi saham yang turun tajam dan menjadi sangat murah kemudian di 
bangkrut-kan atau di delisting. Contoh terbaru yaitu saham Daya Guna Samudera 
(DGSA), Bintuni Minaraya (BMRA), Super Mitory (SUMI).

Baca selengkapnya di:
http://www.e- samuel.com/ knowledge/ investment/ index.asp? parent=218& gf=185

"Likuidasi 16 Bank Bukan Obat Mujarab yang Ditunggu-tunggu"

Inilah kejadian paling pahit dalam sejarah perbankan Indonesia: 16 bank 
dilikuidasi pada 1 November lalu. Untuk pertama kali juga ada sejumlah nama 
beken di Republik Indonesia yang dicekal ke luar negeri. Kabarnya, pihak 
Departemen Keuangan meminta semua pemilik bank yang dilikuidasi untuk dicekal 
ke luar negeri, walau pihak Kejaksaan Agung belum mengeluarkan surat pencekalan.

Maklum saja, di antara pemiliki dari 16 bank yang dicabut izinnya, terdapat 
nama-nama konglomerat " kelas kakap " yang tercatat sebagai pemilik dan 
pemegang saham. Sebut saja putra Presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo, 
sebagai pemegang saham Bank Andromeda. Ada Ponco Sutowo, putra bekas dirut 
Pertamina Ibnu Sutowo yang menjadi pemegang saham Bank Pacific. Selain itu, ada 
pula pengusaha pribumi kondang Probosutedjo, yang juga saudara Pak Harto, 
pemilik Bank Jakarta. Ada juga Titiek Prabowo yang menjadi salah satu pemegang 
saham Bank Industri.

Di tahun 1994, masyarakat digemparkan oleh mega skandal korupsi yang dilakukan 
oleh pengusaha Eddy Tansil atas Bapindo, sebesar Rp 1,3 triliun. Mungkin, 
inilah sejarah korupsi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang pengusaha 
sepanjang sejarah dunia perbankan Indonesia. Yang lebih memilukan, Eddy bisa 
kabur dari penjara Cipinang Jakarta setelah menyuap beberapa penjaga penjara. 
Bagaimana dengan Bapindo yang nyaris "lumpuh"? Tentu saja "segar" lagi dalam 
lindungan BI.

Berdirinya ratusan bank yang menjamur setelah Pakto 88, ternyata membawa akibat 
luas. Bank-bank milik konglomerat, bukan rahasia lagi, dipakai sebagai "modal" 
untuk membiayai proyek-proyek grup usaha itu sendiri. Bank Indonesia mematok 
hanya 20 persen kredit dari total yang dikucurkan yang boleh dipakai oleh grup 
sendiri. Tapi siapa yang bisa memastikan ketentuan ini dipatuhi oleh sang 
pengusaha yang kelewat "enak"memerah sapi gemuk bernama bank -- miliknya 
sendiri tadi.

Kasus semacam ini bisa dilihat dalam hal Bank Artha Prima (BAP), milik Oka Mas 
Agung atau Bank Pacific (BP) punya Ibnu Sutowo. Keduanya limbung lantaran 
duitnya dikuras oleh sipemiliknya dengan cara menyalurkan kredit ke grup 
sendiri dan macet. Jumlah kredit bermasalah di BAP mencapai Rp 889 miliar, yang 
terdiri atas Rp 345 miliar akibat penerbitan surat promes, dan Rp 565 miliar 
kredit macet.

Sedangkan BP diperkirakan menderita kerugian hingga mencapai Rp 3 triliun 
akibat ekspansi pemberian kredit ke grup sendiri dan penerbitan surat berharga 
(commercial paper). Ambisi sang direktris untuk membangun kawasan wisata resor 
Lido di Sukabumi, Jawa Barat, sebesar Rp 800 miliar, disebut-sebut sebagai 
salah satu penyebab bank milik bekas bos Pertamina ini terkuras pundi-pundinya.

Hal yang sama juga terjadi pada Bank Perniagaan dan Bank Artha, yang 
sempoyongan digerogoti pemiliknya sendiri. Bank Perniagaan digangsir oleh 
pemiliknya sendiri, Hindoro Budiono, selama empat tahun sebesar Rp 900 miliar 
lebih. Caranya, seperti yang dilakukan oleh para pemilik bank lainnya, dengan 
menerbitkan commercial paper (CP) yang dijamin oleh Bank Perniagaan. Nah, pada 
saat commercial paper jatuh tempo, surat-surat pengakuan utang itu tak bisa 
dicairkan.

Baca selengkapnya di:
http://www.tempo. co.id/ang/ min/02/36/ utama.htm

Dari Pakto 88 Sampai Likuidasi 16 Bank

Ada empat "penyakit" perbankan yang dibawa Pakto 88. Yaitu, bank-bank banyak 
dikuasai para konglomerat. Di tangan konglomerat, suburlah praktek insider 
lending alias pemberian kredit untuk kelompok usaha mereka sendiri. Padahal 
praktek tersebut terlarang bagi dunia perbankan. Salah satu contoh betapa 
maraknya praktek insider lending itu adalah ambruknya Bank Summa yang 
dilikuidasi BI pada tanggal 14 Desember 1992.

"Penyakit" lain adalah tingginya suku bunga. Bahkan ada bank swasta yang berani 
memasang tarif 30 persen setahun. Suku bunga tidak lagi ditentukan kekuatan 
pasar, akibat mekanisme kredit makin tidak sempurna dengan adanya alokasi 
kredit untuk kalangan sendiri. Kredit macet makin tak terkendali. "Penyakit" 
lain lagi, pemilik bank memperkuat status-quo kesenjangan penguasaan sumber 
ekonomi dalam masyarakat. "Penyakit" lainnya, investasi banyak dikucurkan ke 
sektor mewah, misalnya apartemen, perkantoran mewah, dan lapangan golf. Sesuatu 
yang dianggap sebagai kemubaziran investasi..
http://www.tempo. co.id/ang/ min/02/36/ utama3.htm

Mengapa Bos Sarijaya Tenggelamkan Tambang Uangnya?

Senin, 12 Januari 2009 | 07:02 WIB

PT SARIJAYA Permana Sekuritas merupakan perusahaan sekuritas lokal terbesar 
kedua, memiliki 48 kantor cabang yang tersebar di 24 provinsi. Namun, mengapa 
tiba-tiba Herman Ramli, Komisaris Utama yang juga pemilik 100 persen saham 
Sarijaya, nekat menggelapkan dana milik 8.700 nasabahnya senilai hampir Rp 300 
miliar.

Langkah ini jelas akan menenggelamkan Sarijaya selaku perusahaan sekuritas dan 
manajer investasi yang selama ini menjadi tambang uang Herman Ramli. Di samping 
itu, juga memaksa Herman mendekam di hotel prodeo. Apa yang dilakukan Herman 
Ramli seperti bunuh diri. Lalu, mengapa Herman Ramli rela melakukan tindakan 
senekat itu? Keterpaksaan atau karena ada motif lain?

Mabes Polri menduga, uang nasabah Sarijaya yang digelapkan Herman dibagi-bagi 
kepada beberapa pihak. Dugaan tersebut muncul setelah menemukan aliran dana ke 
sejumlah rekening yang dikuasai berbagai pihak. Namun, Bareskrim Mabes Polri 
belum dapat mengungkap lebih lanjut dana aliran dari Herman Ramli digunakan 
untuk apa oleh pihak penerima. Apakah dipakai untuk usaha lain atau untuk 
keperluan lain atau sekadar diamankan, belum terungkap.

Namun, hasil penelusuran Persda Network ke berbagai pihak mengaburkan dugaan 
Mabes Polri. Herman Ramli melakukan penggelapan itu diduga karena keterpaksaan. 
Ia mencoba memanfaatkan kelemahan pengawasan dari Badan Pengawas Pasar Modal 
dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk menyelamatkan Sarijaya dari belitan 
utang.

Hanya, keberuntungan tidak berpihak kepada Herman Ramli. Langkah akal-akalan 
yang sebenarnya juga lazim dilakukan perusahaan sekuritas tidak membuahkan 
hasil. Namun, justru sebaliknya, terperosok ke dalam jurang yang lebih dalam.

Baca selengkapnya di:
http://www.kompas. com/read/ xml/2009/ 01/12/07021095/ mengapa.bos. sarijaya. 
tenggelamkan. tambang.uangnya

Penipuan Terbesar di Wall Street
Minggu, 21 Desember 2008, 07.30 WIB

Siapa yang tidak mengenal Bernard Madoff, seorang manajer investasi bertangan 
dingin di Wall Street. Namun itu semua ternyata palsu dan banyak yang menjadi 
korban penipuannya. Modusnya mengambil uang investor baru dan diberikan kepada 
investor lama atau "gali lubang, tutup lubang".

Baca selengkapnya di:
http://www.kompas- tv.com/content/ view/10408/ 2

Penipuan Skandal Investasi Madoff rugikan Rp 650 trilyun.

Madoff investment scandal
>From Wikipedia, the free encyclopedia

The Madoff investment scandal is the Ponzi scheme that former NASDAQ chairman 
Bernard Madoff confessed to in 2008. He founded the Wall Street firm Bernard L. 
Madoff Investment Securities LLC in 1960, and was its chairman until his 
arrest. Alerted by his sons, federal authorities arrested Madoff on December 
11, 2008. On March 12, 2009, Madoff pled guilty to 11 felonies and admitted to 
operating what has been called the largest investor fraud ever committed by an 
individual. On June 29, 2009, he was sentenced to 150 years in prison with 
restitution of $170 billion. According to the original federal charges, Madoff 
said that his firm had "liabilities of approximately US$50 billion." 
Prosecutors estimated the size of the fraud to be $64.8 billion

Baca selengkapnya di:
http://infoindonesi a.wordpress. com

===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media- islam.or. id
Info untuk Indonesia lebih baik: www.infoindonesia. wordpress. com
Belajar Islam via SMS: REG SI ke 3252 Berhenti ketik:UNREG SI Hanya dari 
Telkomsel

Milis Syiar Islam: syiar-islam- subscribe@ yahoogroups. com

Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke 
Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger ..yahoo.com/ invite/


   


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke