Saya kira sama saja dengan bank syariah di indonesia yang ikut-ikutan terjebak 
dalam pasar oligopoli perbankan nasional yang tidak mampu menurunkan suku bunga 
kreditnya atau tingkat bagi hasil pembiayaan pada bank syariah.Dalam dunia 
akademik sah-sah saja mengkritik sebuah konsep. 

--- Pada Sen, 2/8/10, adin surachim <[email protected]> menulis:

Dari: adin surachim <[email protected]>
Judul: [ekonomi-syariah] SEBI: Prof. Mannan Ungkap Fakta Greemen Bank tingkat 
bunga Mencekik hingga 86%
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Senin, 2 Agustus, 2010, 7:29 PM







 



  


    
      
      
      http://sebi. ac.id/index. php?option= 
com_content&task=view&id=92&Itemid=35

                                                
                                
Thursday, 22 July 2010                          
                        
                                        
                        
                                Roundtable Discussion Islamic Microfinance 
Bersama Prof M Abdul Manan        (SEBI
 News). Hari Jum’at (19/7), Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI SEBI) 
mengadakan hajatan intelektual yang istimewa. Dengan acara yang 
sederhana, STEI SEBI mendatangkan Prof. Dr. Muhammad Abdul Mannan, Pakar
 Ekonomi Islam Internasional dan Founder Chairman, Social Investment 
Bank Ltd. Dhaka, Bangladesh, dalam acara Roundtable Discussion “Islamic 
Microfinance: The Success Factors in Poverty Alleviation Programs and 
Ummah’s Welfare Enhancement”. 
                                                                                
                                                                                
                                   
          

                                                                              
Acara ini merupakan wujud nyata keseriusan STEI SEBI dalam penyelenggaran 
pendidikan tinggi dan edukasi
 ekonomi syariah di tanah air dengan mendatangkan tokoh-tokoh ekonomi 
syariah internasional sekaligus meningkatkan kapasitas intelektual 
civitas akademika. Kedatangan Prof Manan menggenapi deretan tokoh-tokoh 
ekonomi dan keuangan syariah internasional yang telah datang ke Kampus 
STEI SEBI seperti Assoc. Prof. DR. Mohammad Daud Bakar (International 
Islamic University of Malaysia (IIUM)); DR. M. Umer Chapra (IRTI-IDB), 
Prof. DR. Saiful Azhar Rosly (Associate Professor International Islamic 
University Malaysia), DR. Abdullah Qurban Turkistani (King Abdul Azis 
University Jedah), Prof. Ross Hanifa dan DR. Hudaib (Bradford University, 
London, UK), Prof Abdurrahim (IIUM), Assoc. Prof. Aslam Haneef (IIUM), Prof. 
Sahul Hameed (IIUM). "Komitmen
 kami dari STEI SEBI untuk terus memajukan industri ekonomi syariah di 
Indonesia," papar Sigit Pramono, SE., Ak., MSACC., Ketua STEI SEBI di 
sela-sela acara Diskusi Microfinance dengan Prof Mannan, Jumat lalu.  "Kami
 juga sangat berharap, mahasiswa kami dan praktisi yang berkecimpung 
dalam industri ekonomi syariah dapat menggali lebih dalam praktek 
ekonomi syariah yang terjadi pada dunia global," tutup Sigit yang juga 
menjabat sebagai pengurus pusat komunikasi ekonomi syariah, sebagaimana 
dikutip sebuah portal ekonomi syariah.  Dalam
 diskusi tersebut Prof Manan menyampaikan beberapa kritiknya terkait 
dengan implementasi pembiayaan mikro model Gramen Bank, yang kemudian 
mendasarinya untuk membuat alternatif dengan mendirikan Social Investmen
 Bank, Ltd.  Menurutnya,
 kelemahan Grameen Bank adalah pembebanan tingkat bunga pinjaman yang 
sangat tinggi sekitar 54 persen, sebuah angka yang sesungguhnya luar 
biasa mencekik. Lebih parah lagi, bila hidden costs seperti biaya-biaya 
tersembunyi, seperti biaya keanggotaan, dokumentasi, kewajiban provisi 
atas jumlah dana yang diblok dan lain sebagainya diperhitungkan, maka 
tingkat bunganya akan mencapai 86 persen. Hal ini kemudian menyebabkan 
mayarakat kecil menjadi tetap dalam pusaran perangkap utang.  Dalam paper 
“Alternative
 Credit Models in Bangladesh: A Comparative Analysis Between Grameen 
Bank and Social Investment Ltd: Myths and Realities”, yang telah dipresentasikan
 dalam First International Islamic Conference on Inclusive Islamic 
Financial Sector Development pada 17-19 April 2007 yang lalu di Brunei 
Darussalam, Prof Manan menyarikan kisah miris dari sebuah
 harian Bengali bernama Shomokal (19/2/2007). Dalam harian tersebut 
diceritakan kondisi sebuah desa bernama Hillary Palli yang selalu 
menjadi desa kebanggaan (show-piece village) Grameen Bank. Dilaporkan 
bahwa kondisi desa ini memburuk, sehingga masyarakatnya tidak bisa 
keluar dari lilitan utang kepada Grameen Bank setelah 12 tahun. Banyak 
dari penduduk desa ini yang kemudian 'terpaksa' menjual tanah mereka, 
sehingga mereka menjadi orang yang tak punya tanah dalam arti 
sesungguhnya.  Selain
 itu, dalam pandangannya, model operasi kredit mikro Grameen Bank 
didasari asumsi implisit konflik kelompok dan paradigma neoklasik 
ortodoks Barat dalam bingkai ekonomi bebas nilai, yang cenderung bias 
jender pada upaya pemberdayaan wanita saja, karena 95 persen nasabahnya 
adalah wanita. Hal ini berdampak, banyak keluarga yang menjadi nasabah 
yang berantakan akibat perceraian.                       
                
                                        
                                
                                        Last Updated ( Friday, 23 July 2010 )



    
     

    
    


 



  





Kirim email ke