> Terus...menurut saya (kecuali memang saya kuper)..kok OTL (tau OCL kalau
> ada) kurang populer dibanding dengan OT, kenapa ...?
>
> salam, didik wiryawan

Pak Didik,

Kalau konteksnya tube amp, benar sih. Tapi kalau SS, hampir semua amp di
pasaran sekarang, baik yang Rp 150 ribu maupun 150 juta adalah OCL.

Ada sedikit sejarah soal OT, OC=OTL, atau OCL ini. Namun sebelumnya musti
kita pahami bahwa hanya ada dua komponen yang bisa "memblok level DC" pada
keluaran amp, yaitu kapasitor dan transformator. Penggunaan salah satu
dari kedua komponen itu disebut "DC couple". Karena aplikasinya adalah
pada sebuah keluaran amp, maka kita sebut saja "output couple".

Ketika dulu menggunakan OT (era VT), amp menjadi sangat mahal, berat, dan
tidak praktis. Kesalahan pembuatan OT mengakibatkan hilangnya (loss)
sebagian konten informasi (seperti tanggapan frekuensi) dan daya keluran
(efisiensi rendah).

Lantas muncul OTL (output transformer-less). Kali ini sudah era SS, di
mana P-P amp waktu itu biasa menggunakan pasangan BJT (bi-polar junction
transistor) non-komplemen. Saat itu saya kira masih sulit mendapatkan
NPN/PNP BJT yang komplemen. (Bapak-bapak yang lebih senior, seperti Pak
Harjono dan Pak Tjipto H, mohon bantu jelaskan apa dugaan saya ini betul?)

Seperti halnya OT amp, OTL amp juga bekerja dengan catu daya tunggal: plus
(Vcc) dan nol (Gnd). Karena itu pada keluaran amp ada DC threshold atau
level DC sekitar 1/2 Vcc. Kalau tidak diblok dan masuk ke speaker maka
bukan nyanyian yang terdengar tetapi tangisan, hehehe...

Di sinilah peran sebuah OC (ouput capasitor) sebagi kopling keluaran.
Losses, baik tanggapan frekuensi maupun daya, berhasil diperbaiki total
oleh kopling OTL (OC) dibanding OT.

Namun losses tetap saja ada, yaitu pada tanggapan frekuensi rendah.
Kapasitor yang terhubung seri akan menjadikannya sebuah LPF (low-pass
filter). Diperlukan sebuah C berukuran cukup besar dan bermutu baik untuk
membuatnya "lolos telinga" para audiophile macam Pak Harjono dan Pak AW,
kekekek... Meski sebetulnya dengan 1# order Butterworth pada 8 ohm, respon
20 Hz sudah lolos dengan 1.000 uF (993,8) saja.

Ingin iseng menghitungnya? Mudah saja; gunakan formula dasar "kuno": 1 per
omega C. Omega bukan toko di Glodok tetapi = 2 pi F. (Maaf, saya kesulitan
membuat notasi dengan special character sebab saya mengetik email di rumah
dengan web-mail.)

Lagi-lagi para audiophile atau audio engineer berpendapat (saya nggak tahu
siapa yang memulai), kopling apapun punya kelemahan-kelemahan di luar yang
sudah disebutkan di atas, yaitu "terganggunya signature". Jangan tanya apa
itu, "pokok'e ada yang ilang, katanya". Teorinya, OT mengalami
electromagnetical transform, sedangkan OC mengalami electro-chemical
transfer. Idealnya, sebuah "kopling terbaik" adalah sebuah "kawat jumper".
Nah, lho...!!!

Para audio marketer menangkap kegundahan ini dengan menyorongkan OCL
(output capasitor-less). Strateginya sangat jitu. Katanya, kalau audible
itu adalah apa yang masih dapat "didengar telinga", maka kali ini adalah
faktor un-audible tetapi "mampu dirasakan". Maka "selamat datanglah era
hutan rimba audio hi-end". Saya menyebutnya never-end, hehehe... Kalau di
dunia IT, saya menyebut Oracle dengan "ora klas klar", maaf, maaf....

Back to topic, pada desain OCL digunakan split PSU (plus, nol, minus; atau
VCC, Gnd, Vdd). Dengan pasangan komplemen BJT atau FET sebagai power
transistor, maka pada keluaran amp tidak ditemukan DC level sehingga aman
untuk dapat langsung diumpankan ke speaker.

Desain OCL bukan cuma memberikan pengertian "C-less" tetapi sekaligus
"T-less". Nama lain desain ini adalah "DC coupled amp". Tidak ada kopling,
tidak ada transformasi atau transfer sinyal. Desain ini paling disukai
hingga saat ini, karena juga menyenangkan para pabrikan speaker. Kalau
salah satu transistor tewas, dia akan nyahut speaker kalau amp tidak
dilengkapi dengan speaker protector unit.

Sayang, hingga saat ini para vacuum tube manufacture belum mampu membuat
pasangan power tube komplemen seperti halnya NPN/PNP BJT atau P-Channel
dan N-Channel power MOSFET. Mengapa belum sanggup, biar Pak Harjono yang
jelaskan.

Karena itu desain VT amp hanya akan terbatas pada menggunakan OT atau
menggunakan OC (= OTL); belum bisa OCL. Jadi, saya kira bukan soal populer
atau kurang populer.

Mengapa OT "masih lebih populer" daripada OC para VT amp? Saya kira ada
dua faktor utama:
1. Faktor kebiasaan, di mana yang biasa itu berasa lebih mudah.
2. Faktor teknis, yaitu impedansi keluaran amp dan dumping factor
(keduanya saling terkait).

Faktor teknis adalah "given". Pertama, impedansi keluaran VT tinggi, tidak
seperti power BJT atau apalagi power MOSFET. Power triode 6c33 saja, yang
terendah yang saya tahu, masih 250 ohm. Paralel dua masih separonya, 125
ohm. Padahal speaker 8 ohm. Sulit mengejar low-bass. Bass terasa tight
namun kurang tebal dan rendah. Kalau dalam desain speaker, Qt-nya tinggi,
sehingga mau ditolong enclosure apapun sulit mengejar low-respons.

Kedua, para pemain audio tube bisanya "tergila-gila pada karakter suara"
tipe tabung tertentu, dan bukan pada "apa desainnya". Lihat saja kelompok
penggila 300B, lantas 2A3, lantas "Darling Club 1626" --untuk kelompok S-E
amp. Ada yang masih belum lepas dari nostalgia KT88/6550 karena pamor kuat
MacIntosh 275 --sang legendaris P-P amp.

Para tube audio engineer tidak bisa memaksakan OTL atau menjejali para
penikmat audio dengan satu tipe saja: 6c33 atau 6AS7. Atma-sphere saya
kira menangkap peluang ini: yang dibuat OTL adalah 300B, dan mematenkan
desainnya.

Pertanyaan, konfigurasi apa yang bisa diterapkan untuk VT-OTL? Hampir
semua bisa, baik S-E, P-P, SEPP, maupun yang rada unik seperti yang
diterapkan oleh BAT pada VT-60, atau oleh Tenor pada tipe berapa ya....,
lupa. (Yang pernah digunakan Pak Bing Istanto; apa ada yang bisa membantu
info tipenya? Saya paling sulit menghafal tipe-tipe.)

Satu hal lagi, OT masih akan terus digunakan, bukan saja pada aplikasi
audio hi-end tetapi juga pada PA (public address) amp. Toa misalnya, masih
menggunakan OT pada PA amp-nya karena membutuhkan DC threshold untuk
run-wire atau impedance matching.

So, Pak Didik dan rekan-rekan semua, saya kira sudah terlalu panjang.
Lebih cocok kalau saya tuliskan untuk lembar Opini majalah Audio Video.
Semoga berguna dan tidak bikin tambah pusing.

Salam,
Alex
Langsung jadi Electronics, Surabaya  | Rich Audio, Permata Hijau Jakarta



 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ELPOP-Audio/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ELPOP-Audio/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke