saya sekedar menambahkan bbrp penjelasan tentang pertanyaan sebelumnya, tapi 
belum tentu benar juga, jadi mohon dikoreksi kalau ada salah.

Sebuah amplifier biasanya terdiri atas 2 bagian, yaitu :
- penguat awal (pre amplifier), dan 
- penguat akhir (setau saya, penguat akhir ini yang sering disebut sbg power 
amplifier).

Pada penguatan awal ini, ouput dari source (cd player, tape, dvd, dll) 
dikuatkan hingga nilai tertentu. Pada tahap ini pula biasanya ditambahkan 
rangkaian2 aditif seperti tone-control, input selector, balance, tapi 
rangkaian2 ini sifatnya tidak mutlak (tidak harus ada). Kaum puritan, atau 
penganut aliran minimalis umumnya menghindari penggunaan rangkaian2 aditif tsb. 
Output (keluaran) dari tahap ini belum dapat dipakai untuk menggerakkan 
speaker. Keluaran dari preamp ini diumpan dulu ke penguat akhir.

Pada tahap penguat akhir, sinyal keluaran dari tahap sebelumnya (penguat awal) 
dikuatkan lagi hingga sanggup untuk membunyikan speaker. Teknik 'bridging' 
(bridge) biasanya dilakukan pada bagian penguat akhir. Tujuannya utk 
memperbesar daya keluaran. Dengan teknik ini, rangkaian penguat akhir dua kanal 
(stereo) dijadikan satu sehingga menjadi rangkaian penguat akhir satu kanal 
(mono) dengan daya keluaran 2x-nya.  Istilah 'monoblok' juga biasanya ditemui 
pada bagian penguat akhir, yaitu suatu rangkaian penguat akhir 2-kanal (stereo) 
yang tiap kanalnya terpisah secara mandiri dimana biasanya rangkaian catu 
dayanya/powersupply-nya dibuat terpisah tiap kanal.

Yang disebut 'integrated amplifier' itu adalah sebuah unit amplifier yang 
terpadu (secara fisik). Jadi didalamnya sudah terdiri dari 2 bagian tersebut 
(penguat awal dan penguat akhir). 

Mengenai buffer, saya kurang bisa menjelaskan secara teknis. Kurang lebih 
buffer itu mirip dengan preamplifier hanya tanpa penguatan. Fungsinya bisa 
untuk menjaga impedansi keluaran dari source ke preamp dan juga memberikan 
warna suara tersendiri.

sekali lagi mohon dikoreksi.

salam,
yus

Kirim email ke