Dear kawan envorum,

Bagi keperluan riset akhir, saya membutuhkan informasi tentang praktek
kehutanan masyarakat (community forestry) di Jawa. Adakah yang memiliki
informasi lengkapnya (di mana dan siapa kontak personnya?)

Salam
Tafikurrahman


----- Original Message -----
From: "TerraMilis" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, October 15, 2002 11:58 AM
Subject: [Envorum] Kliping Kebijakan / Umum - 15/Oct/02


> Daftar berita terlampir:
> * Ribuan Pulau di Indonesia Akan Tenggelam
> * Banyak PMA di Batam tidak Miliki Amdal
> * Petani Mulai Berpaling ke Pupuk dan Pembasmi Hama Ramah Lingkungan
> * Lahan di Taman Nasional Kutai Terus Diserobot
> * Efek Pemanasan Global Dari Malaria Hingga Tenggelamnya Pulau
> * CFC Terus Diimpor walaupun Dilarang
> * Kecik Herniadi, "Seniman Limbah" dari Lumajang
>
>
> Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
> http://www.terranet.or.id/terramilis.php
> http://www.terranet.or.id/berita.php
>
> TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
> http://www.terranet.or.id
> ================================================================
>
>
>
> Ribuan Pulau di Indonesia Akan Tenggelam
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5044
> Jakarta, Kompas - Dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan menghadapi
dampak perubahan iklim yang kian parah, berupa krisis air, kekeringan,
banjir, kekurangan pangan, berkurangnya daratan, merebaknya penyakit malaria
dan demam berdarah, serta tenggelamnya ribuan pulau. Hal ini timbul akibat
meningkatnya suhu rata-rata di Indonesia yang diproyeksikan akan mencapai
4,2 derajat Celsius pada tahun 2050 akibat meningkatnya emisi gas rumah
kaca.
> (Kompas, 2002-10-15)
>
>
>
> Banyak PMA di Batam tidak Miliki Amdal
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5046
> BATAM (Media): Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengawasan
Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Batam melakukan inspeksi mendadak
(sidak) ke sejumlah industri rawan tanpa analisis dampak lingkungan (amdal).
> (Media Indonesia, 2002-10-15)
>
>
>
> Petani Mulai Berpaling ke Pupuk dan Pembasmi Hama Ramah Lingkungan
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5029
> satunet.com - Masyarakat petani secara bertahap mulai sadar menggunakan
pupuk maupun pembasmi hama tanaman yang ramah lingkungan, sehingga
penggunaan pestisida serta jenis zat kimia lainnya berkurang.
> (Satu Net, 2002-10-14)
>
>
>
> Lahan di Taman Nasional Kutai Terus Diserobot
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5041
> Sangatta, Kompas -Penyerobotan lahan di areal Taman Nasional Kutai (TNK)
di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, terus berlangsung tanpa bisa
dikendalikan. Hari Minggu (13/10), misalnya, sejumlah warga pendatang
terlihat masih terus membuka lahan di KM 35 Sangatta-Bontang, dan tengah
membangun permukiman baru di Gang Teluk Kaba II, Kampung Tanete.
> (Kompas, 2002-10-14)
>
>
>
> Efek Pemanasan Global Dari Malaria Hingga Tenggelamnya Pulau
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5014
> Indonesia di tahun 2070. Puluhan pulau-pulau kecil tenggelam. Sedikitnya
800 ribu rumah terendam dan ratusan ribu penduduk mengungsi. Banyak kota
besar mengalami krisis air bersih. Teriknya matahari begitu menyengat ketika
musim panas datang dengan kemarau panjangnya. Dan saat musim hujan tiba,
puluhan kota kebanjiran.
> (Republika, 2002-10-10)
>
>
>
> CFC Terus Diimpor walaupun Dilarang
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5007
> CHLOROFLURO Carbon (CFC) atau senyawa kimia yang digunakan alat-alat
elektronik untuk pendingin sejak tahun 1998 dilarang Pemerintah Indonesia,
tetapi sampai kini masih saja terus diimpor dari India. Diduga keras itu
terjadi akibat aparat Bea Cukai mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi
senyawa kimia yang bisa merusak lapisan ozon (O3) tersebut.
> (Suara Pembaruan, 2002-10-09)
>
>
>
> Kecik Herniadi, "Seniman Limbah" dari Lumajang
> http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=4984
> MESKIPUN hasrat menggapai jenjang pendidikan seni rupa secara formal tak
kesampaian, Kecik Herniadi (49), warga Desa Tompokesan RT 01 RW 20,
Lumajang, Jawa Timur (Jatim), tidak lantas kehilangan rasa seni. Justru dari
pengalaman pahit karena tak mampu mencapai cita-cita sebagai seorang perupa
akademisi, Kecik pun akhirnya menemukan ruang berekspresi rupa seni melalui
limbah kertas.
>
> "Cita-cita saya sebenarnya ingin sekolah di seni rupa setelah lulus
sekolah teknik (ST) di Lumajang, tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarga
terpaksa hasrat untuk sekolah seni terkubur," kata Kecik ketika ditemui
Kompas, pekan lalu, di sela-sela peragaan membuat benda seni dari bahan
limbah kertas, di Pendopo Kompleks Taman Budaya Jawa Timur.
> (Kompas, 2002-10-03)
>
>
>
> _______________________________________________
> Envorum mailing list
> [EMAIL PROTECTED]
> http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke