|
Gimana bisa jadi LSM-Watch? lah... bentuk LSM Watch itu
yah LSM juga, masak jeruk makan jeruk? Gimana toh mas...
Hidup matinya pemerintah itu dari uang ngutang, hidup
matinya LSM sebenarnya kalau ditelusuri terus sampai ke sumber dananya yang dari
luar itu dari uang ngutang juga. Di dunia ini tidak ada yang
gratis!!!
Masalahnya sekarang ini adalah, bangsa melayu yang
berbentuk negara RI ini malasnya sudah kelewatan banget. Maunya cepet kaya,
tapi nggak mau susah. Insya Allah, kalau rakyatnya pada rajin-rajin berusaha, di
RI ini yang namanya LSM pasti kagak laku jadi tempat cari kerja.
Karena kalau rakyatnya sudah pada rajin semua, maka LSM kerjanya jadi cuma
ngurusin orang-orang tertindas dan ngurusin penguasa yang berbuat
sewenang-wenang (nggak banyak orang yang mau kerjanya seperti itu, karena nggak
ada duitnya).
Masalah pengangguran sebenarnya yang harus diurusin,
supaya para pengangguran intelektual (pendidikan SMU ke atas) ini tidak lari
cari kerja ke LSM, DPR atau jadi gelandangan politik. Di TNI juga banyak
pengangguran, banyak orang-orang dari level mayor sampai jenderal yang
nganggur lari ke parpol atau LSM supaya bisa dapat dikatakan bekerja
(kesannya kantor formal lah..). Juga mantan-mantan pejabat yang dulunya pernah
sekolah di luar, rame-rame bikin LSM atau ikut parpol ikut adu untung agar bisa
kembali mendapatkan jabatannya yang dulu.
Al-hasil lihat sendiri sekarang ini, duit utangan republik
makin numpuk, penjarahan proyek rakyat tidak tersisa sedikitpun karena
digasak oleh pengangguran berdasi ini.
Tragis dan menyedihkan justru dialami oleh para
pejuang-pejuang kecil yang mulai merintis perjuangan di sektor informal, dengan
modal sepuluh ribu perak mulai dagang gorengan kecil-kecilan sampai dengan
modal dua juta untuk dagang bakso, justru mereka ini dianggap sebagai orang
susah. Bahkan mereka harus kucing-kucingan dengan para koruptor kelas teri agar
modal kerja mereka itu tidak di garuk dan disuruh nebus sebesar lima ratus ribu
perak. Bahkan diantara mereka ini ada yang baru saja mulai buka warung
darurat di depan rumahnya, petugas kelurahan, dan cecunguk-cecunguk yang
pakai seragam hitam-hitam pake kopiah sudah datang meminta jatah keamanan.
Negeri macam apakah ini? Mungkinkah negeri ini negeri terkutuk? Alass!!!
(sebenarnya kalau mau jujur boleh dibilang ini otobiografi).
Jadi sebaiknya bongkar saja bobroknya para bajingan
berdasi yang bercokol di LSM dan lembaga-lembaga sosial politik
lainnya, orang-orang seperti harus dimusnahkan dari muka bumi. Dengan
demikian masyarakat bisa melihat, mana LSM yang memang berjuang untuk
melawan penindasan atau hanya kelas LSM busuk. Saat ini saya sudah
malu menyandang pekerjaan sebagai LSM, tetapi saya sekarang
bangga dengan menyandang gelar tambahan dibelakang nama saya, yaitu
sebagai tukang bakmi ayam.
Jadi daripada bikin pertemuan di hotel-hotel berbintang
yang makanannya nggak cocok di perut, lebih baik bikin pertemuan di tempat
sederhana dengan mengundang teman-teman sektor informal. Biayanya nggak mahal
dan uangnya tidak terbang ke luar negeri. Tapi kalau membagi 'tender' ke
pengusaha sektor informal yang riel berjuang untuk kemakmuran rakyat jelata,
juga bisa ikut merasakan suksesnya perjuangan LSM. Daripada hanya sekedar
rapat-rapat, seminar dsb di hotel berbintang sejuta, cuma NATO (No Actioon,
Talk Only) "nggak menghasilkan uang segar", kata teman saya sesama
pengusaha bakmie juga yang kebetulan dari suku keturuan Cina. (sekalian promosi
nih).
Salam,
Surya
----- Original Message -----
Sent: Friday, January 16, 2004 9:16
PM
Subject: RE: [communitygallery] Fw:
[NGO-DFF-initiative] Vacancy in UNDP-Jakarta (National)
Kang Adi setuju banget sama iggm, bagaimana kalau bikin LSM-Watch.......
Berapa minggu sekali mereka pergi keluar negri, window shopping di LA,
Boston, dll, transparasi keberhasilan, dll.... Azis Khan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kang
Adi,
Saya se7 dengan konsern anda. Dalam kalkulasi saya, ini ada
kaitan dengan perlunya kontrol atawa penapisan atas campur tangan asing
(baca: lembaga asing pembawa uang) yang memang perlu segera dibuat
(?). Tentunya kontrol atas hal-hal dari mulai besaran uang yang
dibawa, statusnya (utang atawa pemberian belas kasihan), konteks yang
dibawa, urgensi dan relevansinya, ideologi yang diusungnya, integritas
(??), kesungguhan (???) dan komitmennya (????)...sampai mekanisme
pendanaan dst....termasuk proses rekrutmen pelaksananya baik yang
melayu-based maupun yang bule-based. Pertanyaannya...sudahkah ada
lembaga kontrol seperti ini? Pemerintah langsung sebagai lembaga kontrol?
Cukupkah? Lalu, pemerintah yang mana? Bagaimana kinerja lembaga(2x)
kontrol pemerintah ini, kalau ternyata sinyalemen yang anda usung
ternyata masih menjadi kenyataan yang hingar bingar dan
menggetirkan....sampai saat ini.
Dari pengamatan kasar saya,
lembaga asing (whatever the name, termasuk yang diawali dengan kata"un")
yang "berproyek" di rekiblik ini bisa dikelompokkan setidaknya menjadi
dua kelompok. Pertama, kelompok yang sangat government oriented, dimana
frame, detail kegiatan bahkan sampai basic ideologynya sangat pemerintah.
Kalau ditanya alasannya, mereka berlindung pada kalimat "lembaga saya ini
adalah lembaga kerjasama pemerintah...fullstop". Cilakanya, lembaga asing
yang jelas-jelas non-government pun sering dijumpai sangat government
oriented. Government oriented salah? Tidak sepenuhnya....hanya saja pada
saat pemerintahnya sendiri terindikasi kehilangan orientasi...lantas
manfaat apa yang bisa diharapkan dari eksistensi lembaga asing itu bagi
publik kebanyakan dan lingkungan?. Some how, lembaga-lembaga asing
- apapun - ada unsur mencari "peruntungan financial dan ekonomi" di
rekiblik ini. Thus, ini factor yang perlu pula dipertimbangkan dalam
menyoal kehadiran lembaga asing itu.
Kelompok kedua, masih
government oriented, tapi sudah "berdekatan" dengan organisasi
non-government atau bahkan NGI, non-government individual. Kelompok ini,
tak jarang berdalih sebagai "jembatan" antara kepentingan pemerintah dan
kepentingan publik dalam mengurus keseharian rekiblik ini. Label yang
dipake bisa macem-macem, dari mulai poverty alleviation,
multistakeholders, conservation, good governance, structural
adjustment, sampai pada sustainable development, dengan macem-macem
entitas issue: tambang, hutan, marine, energy, health, water,
agriculture, off farm, on farm, dst. Dibanding kelompok pertama, kelompok
ini masih relative lebih berpeluang untuk "dimanfaatkan" seoptimal
mungkin. Katakanlah...agar orientasi dan keberpihakannya bisa "digiring"
(artinya termasuk dikontrol) agar melulu kepada kepentingan publik dan
kepentingan jangka panjang. Optimal?...jelas tidak....dan ini sangat
tergantung pada siapa akhirnya yang "benar-benar bisa" menggiring, plus
kondisi dan setting social pulitik kita yang masih sontoloyo: tidak
satunya kata dengan perbuatan, lebih suka membenarkan yang biasa dan
bukan membiasakan yang benar....dan suangat suka dengan kepalsuan dari
mulai tanggal lahir sampai ijazah sekolah. Tidak bisa digeneralisir
memang...tapi anehnya itu semua sudah menjadi pengetahuan, gejala dan
dagelan umum.
Nah Kang Maha, kalau setting social pulitik kita tidak
pernah berubah, dan tidak ada pihak yang bisa benar-benar sebagai
control, uluran campur tangan asing - seberapapun - malah bisa jadi
senjata yang paling ampuh untuk "mereka" akhirnya mengobrak abrik
komunitas-komunitas nusantara ini yang katanya berbangsa satu, bangsa
Indonesia. Kalimat dan kata terakhir Binny (di email yang lain) semakin
menguatkan kekhawatiran ini. Prihatin memang......karena kita ini, dengan
demikian, nyaris tak punya harapan. Hingar bingar pemilu dua ribu
empat hanyalah penegasan, bahwa pulitik di rekiblik ini tak lebih sebagai
ikon perebutan kekuasaan. Cilakanya, masing-masing kita tampaknya tidak
padu dan bahkan asyik dengan kesendiriannya. Mari....sambil terus
berusaha untuk padu, kita saksikan saja.......di lembah mana rekiblik ini
akhirnya berhenti berdenyut....atau seberapa mungkin ia bisa bangkit
kembali.
Salam, AK
-----Original Message----- From:
Maha Adi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, January 16,
2004 5:25 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re:
[communitygallery] Fw: [NGO-DFF-initiative] Vacancy in UNDP-Jakarta
(National)
Salam Lestari,
Syukurlah jika demikian....jangan
sampai suatu saat ada orang yang menulis ttg Politik Konservasi di
Indonesia, nama UNDP masuk 'kelompok hitam.'
Saya tergolong
wartawan yang terkaget-kaget melihat besarnya dana konservasi yang bak
air bah mengucur ke Indonesia. COREMAP saja mendapat ratusan miliar
rupiah.Meskipun terus terang, gak ada hasilnya.
Ide dan parstisipasi
masyarakat, dan bangunan kesadaran mereka ttg konservasi pesisir dan
laut, bukan didorong oleh program COREMAP tetapi lebih banyak krn
kesadaran sendiri. SEtidaknya itu yang terekam saat saya ada di Desa
Les Buleleng, di KOmodo, di Wakatobi, di BUnaken, dll.
Kalau
kerjanya cuma mendata terumbu karang...buat apa ada program baru..suruh
aja anak2 diver. murah meriah kan.
Sama kagetnya ketika
pinjaman sebesar US$ 2 juta dolar disepakati pemerintah Indonesia
untuk kampanye anti ilegal logging. Dana itu diserahkan oleh Dephut untuk
dikelola o' sebuah LSM lingkungan. Dan ternyata, sampai hari ini,
mohon maaf nih, saya yg ingin menulis program itu terus
terang bingung, krn mereka cuma membuat website. Hutan makin rusak,
bahkan menjadi 3,8 juta hektar dalam setahun terakhir, law enforcement
tetap nol besar, aparat terkait tetap melibatkan dirinya dgn para loggers
sialan itu.
So, pinjaman itu dikembalikan saja, toh sudah
dapat bunganya kan...lumayan untuk overhead cost kantor.
Tapi
saya masih punya harapan dgn UNDP lah. memang selalu ada
gesekan kepentingan, selalu ada kompromi. tapi mudah2-an, menggembirakan
untuk lingkungan hidup kita.
Mudah-mudahan calon yang Anda cari
memang punya komitmen tinggi, idealisme tinggi pula untuk memperbaiki
hutan tropis kita. Saya yakin, karena gaji-gaji mereka yang di LSM besar
dan mapan macam WWF, TNC, CI, kan setara dengan CEO perusahaan besar,
krn itu tidak ada alasan lagi, apapun bentuknya, untuk gagal
mengembalikan hutan tropis kita.
Dan akan sangat menarik sebetulnya,
bila ada di antara anggota milis ini yang tertarik membuat buku POlitik
Konservasi di Indonesia, untuk mengkritisi, menguliti, dan menilai
kembali peranan yg dimainkan oleh lembaga2 donor, lembaga keuangan
internasional, lembaga konservasi dan LSM lingkungan hidup thd
konservasi di Indonesia. Terutama yang berhubungan dengan penggunaan dana
yg amat besar itu.
salam saya, iggm
At 05:19 AM
1/15/04 +0700, you wrote: >Pak Maha Adi dari Tempo yang
baik, > >terimakasih banyak sudah mengingatkan kami semua pada
pertanyaan senisitif >tapi nyata seperti ini. Setahu saya, proses
pencarian orang untuk posisi ini >sudah diusahakan secara seterbuka
mungkin. Sepanjang pengetahuan saya, tidak >ada maksud untuk hanya
menjaring CV sebanyak mungkin. Saya paham >kekhawatiran anda karena
memang kadang-kadang terjadi kecenderungan bahwa >lembaga dana atau
institusi memang sudah mempunyai calon kuat, namun karena >tuntutan
proses, maka harus diiklankan terlebih dahulu. Tapi,
untuk kasus >ini, saya rasa kita perlu melihat lebih dekat. Kalau
saya punya informasi >lebih lanjut lagi, saya akan senang untuk
mendiskusikannya dengan anda. >Sekali lagi, terimakasih banyak sudah
turut mengawasi kinerja lembaga dan >program yang didukung oleh
pendanaan internasional. Semoga lebih banyak lagi >yang kritis dan
peduli seperti anda. > >salam, > >Avi
Mahaningtyas >National Coordinator >GEF-Small Grants Programme
Indonesia >Yayasan Bina Usaha Lingkungan >Jl. Hang Lekir VI/no:
1 >Jakarta 12120 >Indonesia >Ph/fax: ++62 21 720 6125; 722
0905 >web: www.sgp.or.id;
www.undp.org/sgp > > > > > >-----
Original Message ----- >From: "Maha Adi"
<[EMAIL PROTECTED]> >To:
<[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Thursday, January 15,
2004 6:32 AM >Subject: Re: [communitygallery] Fw: [NGO-DFF-initiative]
Vacancy in >UNDP-Jakarta (National) > > >> Saya
mau tanya sama yang posting lamaran ini. >> Sebetulnya UNDP benar2
membuka lowongan secara fair dan terbuka atau tidak >? >>
Atau iklan ini cuma untuk menjaring sebanyaknya CV dan
menunjukkan bahwa >> proses rekrutmennya terbuka
? >> >> Sori kalau saya tanya soal ini, krn saya mengenal
dengan baik cara >beberapa >> LSM, terutama yg berskala
internasional / atau dibiayai oleh funding >asing, >> memakai
cara ini untuk menunjukkan kepada funding-nya bahwa segalanya >>
berlangsung terbuka. Tetapi mereka sebenarnya sudah memilih
nama siapa >yang >> bakal duduk di posisi
itu. >> >> Sori ya, jangan ada yang tersinggung
nih. >> >>
iggm-adi/tempo. >> >> >> >> >> >> >>
At 07:43 AM 1/14/04 +0700, you wrote: >> > >> >-----
Original Message ----- >> >From: "Raphael Bille"
<[EMAIL PROTECTED]> >> >To: "Raphael Bille"
<[EMAIL PROTECTED]> >> >Sent: Monday, January 05,
2004 11:15 AM >> >Subject: [NGO-DFF-initiative] Vacancy in
UNDP-Jakarta (National) >> > >> > >>
>> Dear colleagues, >> >> >> >> UNDP
Jakarta is opening the position of National
Coordinator, Small >> >> Grants Programme for Operations
to Promote Tropical Forests (to be >> >> launched in
Indonesia in the next few weeks). This
regional programme >is >> >> fully funded by the
European Commission, executed by SEAMEO Regional >> >>
Center for Graduate Study and Research in Agriculture (Philippines)
and >> >> implemented by UNDP Country Offices in
Asia. >> >> >> >> You will please find
attached the vacancy announcement, which is also >> >>
available on our website (http://www.undp.or.id/jobs/index.asp). Please >>
>> feel free to circulate the announcement to anyone interested,
with >> >> high-level and appropriate
qualifications. >> >> Deadline for submission of
applications: 16/01/2004. >> >> >> >> Thanking
you in advance, and wishing you a very happy new year, >> >>
Raphael Bille. >> >> >> >> >>
>> >> >> Yahoo! Groups Links >>
>> >> >> To visit your group on the web, go
to: >> >> http://groups.yahoo.com/group/NGO-DFF-initiative/ >>
>> >> >> To unsubscribe from this group, send an email
to: >> >>
[EMAIL PROTECTED] >>
>> >> >> Your use of Yahoo! Groups is subject
to: >> >> http://docs.yahoo.com/info/terms/ >>
>> >> >> >> > >> > >>
>Yahoo! Groups Links >> > >> >To visit your group
on the web, go to: >> > http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/ >>
> >> >To unsubscribe from this group, send an email
to: >> >
[EMAIL PROTECTED] >> > >>
>Your use of Yahoo! Groups is subject to: >> > http://docs.yahoo.com/info/terms/ >>
> >> > >> >Attachment Converted:
C:\EUDORA\ToRsforP.doc >>
> >> >> >> >> >> >>
Yahoo! Groups Links >> >> To visit your group on the web,
go to: >> http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/ >> >>
To unsubscribe from this group, send an email to: >>
[EMAIL PROTECTED] >> >> Your
use of Yahoo! Groups is subject to: >> http://docs.yahoo.com/info/terms/ >> >> > > > > >
> >Yahoo! Groups Links > >To visit your group on
the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/ > >To
unsubscribe from this group, send an email to: >
[EMAIL PROTECTED] > >Your use of
Yahoo! Groups is subject to: > http://docs.yahoo.com/info/terms/
> >
Yahoo! Groups Links
To visit
your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/
To
unsubscribe from this group, send an email
to: [EMAIL PROTECTED]
Your use of
Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
Yahoo! Groups Links
Do you Yahoo!? Yahoo! Hotjobs: Enter
the "Signing Bonus" Sweepstakes
Yahoo! Groups Links
--- Outgoing mail is certified Virus Free. Checked by AVG
anti-virus system (http://www.grisoft.com). Version: 6.0.545
/ Virus Database: 339 - Release Date: 11/27/03
Yahoo! Groups Links
|