Budjo,

Kalau Penyuluh Kehutanan Lapangan bingung tentang GNRHL saya pikir lumrah,
karena ternyata para pejabat yang lebih tinggipun masih kebingungan???
Bulan Februari lalu di acara Pertemuan Mitra MFP  ternyata rombongan Dephut
banyak hadir. Kesempatan tsb tidak disia-siakan oleh Bp.Nurdin Radja (Kepala
Dinas Kehutanan Kabupaten Bulukumba Sulsel).  Beliau menyatakan
kebingungannya terhadap pola pelaksanaan GNRHL. Pola yang menurut beliau
tidak beda dengan pola-pola rehabilitasi zaman dulu, pola keproyekan yang
tidak bisa nyambung dengan inisiatif-inisiatif yang sedang dilaksanakan
daerah  dengan mendorong berbagai pendekatan kolaboratif dan partisipatif.
Beliau bahkan menyampaikan pesimisme terhadap keberhasilan Gerakan ini.

Trus,  nggak ada tuh jawaban/klarifikasi  yang mengena dari pejabat-pejabat
yang hadir..tinggalah pak Nurdin tetap dengan kebingungannya...

hasbi
----- Original Message -----
From: "budi rahardjo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 10, 2004 6:26 PM
Subject: [communitygallery] crita gnrhl



Ini cerita GNRHL.

Seorang Penyuluh Kehutanan lapangan bertanya kepada ku pada sebuah training
akhir bulan lalu, 'Pak Budjo, dalam kegiatan GNRHL, sebenarnya peran kami
sebagai petugas lapangan harusnya apa sih.'

Nah  lho. aku kaget. Tapi  sedikit saja.  Mereka yang ada di barisan
terdepan dan punya pengalaman dalam kegiatan penghijuan dan rehabilitasi aja
bingung . dan menanyakan perannya dalam Gerakan Nasional Rehabulitasi Hutan
Lahan.

Trus aku ceritakan, begini :  ketika mendengar kata gerakan nasional, dua
hal yang muncul di kepala saya, yaitu gerakan Pramuka dan gerakan KB.
Pramuka, siapa yang tidak tau pramuka?  Semua orang indonesia tahu dan
pernah jadi anggota pramuka.  Gerakan ini setidaknya berkontribusi dalam
mengajari generasi mudah untuk cinta lingkungan, menghormati orang tua,
hidup sederhana, dan hal-hal postif lainnya seperti menyebrangkan orang
buta, menunjukan arang bagi orang asing dsb. Tidak sedikit generasi
saya -setidaknya- yang di 'gedein' oleh pramuka.

KB, sebagai sebuah gerakan nasional, KB urusannya tidak hanya-maaf-
memasukan kawat berulir ke dalam vagina perempuan usia subur, atau mengajari
kaum bapak-bapak untuk menggunakan kondom pada saat dan pada tempat yang
benar.  Tetapi juga merubah pomeo ' banyak anak banyak rejeki' menjadi '
keluarga kecil keluarga sejahtera'.  Saat ini malahan yang ngetren adalah KB
Lingkaran Biru.  KB mandiri katanya.

Nah.. kalo Gerakan Nasional yang satu ini.. Budaya apa yang mau
dibangun/atau dibangun kembali??    Nilai-nilai positif apa yang mau
ditanamkan kepada masyarakat?  Sedahsat apa impak yang di harapkan??
Seberapa besar keterlibatan para pihak yang diingini?   Seberapa dalam
volunterisme yang diharapkan dari komponen bangsa ini??

Kalo hanya proyek 'menyek-menyek' bersekala nasional, jangan bilang itu
gerakan nasional deh.  Aku tahu menkeh, Prakosa tidak sebodoh yang aku
kirakan, tapi kadang-kadang dia tidak terlalu pintar mengarahkan anak
buahnya untuk menterjemahkan apa yang namanya gerakan nasional.

Praktis saja, dibenakku, ditingkat desa saja,  Disana ada ibu-ibu PKK, ada
anak-anak karang taruna, ada perangkat desa, ada anak-anak SD, SMP SMU, ada
anggota majlis taklim, jemah gereja dll.  Mereka yang harusnya bergerak
merehabilitasi.  20 ribu lebih mahasiswa kehutanan dan pegawai kehutanan
yang bisa melatih kelompok-kelompok di desa itu untuk membuat bibit dan
menanam dan memelihara tanaman rehabilitasi itu.

Pabrik-pabrik yang berburuh banyak, kantor-kantor yang berkaryawan banyak
dan juga sedikit juga bisa melatih dan menerjunkan buruh dan karyawannya
untuk menanam.   Demikian juga kesatuan-kesatuan militer dan polisi, di
barak-barak mereka bisa bikin pembibitan.  Biarkan mahasiswa kehutanan
tingkat 2 yang melatih tentara dan polisi untuk membuat pembibitan.

Kantor dinas kehutanan, pertanian, lingkungan hidup di tingkat kabupaten
juga bisa melakukan pembibitan.  Bahkan di belakang kantor DPRD, di deket
kantinya bisa di buat bedengan untuk membuat bibit.  Tentu di support oleh
lembaga-lembaga penyedia bibit tanaman keras.

Lembaga-lembaga donor di dorong juga untuk memfasilitasi gerakan ini.  Bukan
untuk menyediakan bibit.  Tetapi untuk melatih komponen di masyarakata ini
untuk ber-gerakan dan menyiapkan para voluntir yang blusukan di desa-desa
untuk untuk menggerakan potensi di desa.

Artis- artis bikin sinetron tentang rehabilitasi, radio-radio membuat
sandiwara tentang manfaat rehabilitasi.  Komik-komik tentang hutan,
kecintaan kepada alam di buat dan di jual murah.  Bila perlu dibagiin di
kelas-kelas sekolah SD.  Siaran infotenment menyiarkan Rieke Diah Pitaloka
lagi nanam pohon sama masyarakat di kampung.  Trus di bilang 'Gue memang
artis, tetapi sebagai anggota legeslatif gue juga harus ikut dengan gerakan
ini, ini tanggungjawab seluruh masyarakat'.


Begitu banyak dan dahsatnya energi yang bisa digerakan untuk GNRHL, tetapi
Menkeh tidak mampu menggerakannya.  Tahun ini, GNRHL insya allah akan GAGAL.
Tahun depan juga.  Kalau mekanisme yang dipakai bukan mekanisme gerakan
nasional, tetapi proyek nasional.

Aku bersedia menggantikan Prakosa sebagai Menkeh ( menteri kehutanan) pada
kabinet yang akan datang, bila terbukti GNRHL tahun perdana ini gagal.
Atau aku hanya akan mentertawakan beliau.


budjo







Yahoo! Groups Links









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0FHolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke