Ketika World Bank mengadakan evaluasi SL Pengendalian Hama Terpadu (Nov
- Des 98), saya dapat kesempatan jalan-jalan di desa-desa sekitar jalur
pantura dari Karawang - Cirebon. Di salah satu desa sample di Indramayu,
saya ketemu dengan petani namanya Carsiman (ini nama sebenarnya).

Pak Carsiman ini, punya ramuan membuat  biopestisida. Konon ramuan ini
warisan dari nenek moyangnya, sejak sebelum mereka menggunakan
pestisida.

Ramuan itu adalah sbb: (silahkan catat bagi yang perlu)
1. Bengle (panglay)
2. Dlingo (jaringao)
3. Kunir (koneng)
4. Temu putih
(ini nama lokal Indramayu, saya sundakan dalam kurungnya)
Masing-masing bahan itu sebanyak 1 kg. Semuanya dicampurkan kemudian
ditumbuk, dicampur air satu ember, disaring dengan kain, kemudian
dimasukan sprayer. Dan disemprotkan pada malam hari.

"Apakah saya boleh ikutan belajar meyemprotnya, Pak ?" Tanya saya.

Dia menjawab dalam bahasa Sunda kasar dan Jawa Indramayu yang saya
terjemahkan sbb :
"Silahkan saja, asal Bapak mau mengikuti tata cara tradisi nenek moyang
kami. Penyemprotan kita mulai tengah malam, didahului do'a pengusir
hama, dan si penyemprotnya harus dalam keadaan telanjang bulat......."

Hahhhhhh..............!

Oleh karena saya tidak bekerja sebagai peneliti antropologi, maka tugas
saya tidak sampai harus telanjang tengah malam di tengah sawah.
Berat....... Bo..!


Teten Avianto
--
----------------------
# Http://www.lead.or.id/teten
======================




___________________________________________________________________
Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
atau di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke