saya kira inovasi pemanfaatann air liur  untuk pertanian baik sekali.. dan
mari kita isolasi mikroorganismenya untuk  mengaktifkan file-file di
kejagung.

manan
-----Original Message-----
From: Misri Gozan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, July 15, 1999 8:20 PM
Subject: Re: [envorum] Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian dan KEJAGUNG


>ide hebat,
>walau sederhana, ada hipotesa dan juga uji hipotesanya
>
>Bagus juga dicoba untuk file-file di Kejaksaan agung yang sudah mulai
>membusuk ........
>
>At 03:57 PM 7/9/99 +0700, you wrote:
>>Luar biasa!! Saya forward dari milis Lingkungan.
>>Ada yang mau nyoba?
>>
>>salam,
>>Eriyawan
>>
>>-----Original Message-----
>>From: Abduh <[EMAIL PROTECTED]>
>>Date: Friday, July 09, 1999 3:46 PM
>>Subject: [Lingk] Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian
>>
>>
>>>Berikut ini artikel dari Suara Hidayatullah
>>>(http://www.hidayatullah.com) tentang inovasi dalam bidang pupuk
>>alami
>>>dan pestisida alami.
>>>
>>>Ide dasarnya sederhana, mikrooraganisme dari mulut dikumpulkan
>>>(pagi-pagi air kumur pertama dari 300 santri dikumpulkan) terus
>>>dibiakkan, terus disiramkan ke kotoran ternak dan jerami untuk
>>>mempercepat penguraian biologis menjadi pupuk.
>>>
>>>Selain itu mereka juga mengembangkan pestisida alami. Bagimana
>>>Mas-mas dan Mbak-mbak yang menekuni bidang sejenis, tertarik dengan
>>>artikel di bawah ? Atau ada yang mau berkomentar ? Silakan ...
>>>
>>>Wassalam
>>>Abduh
>>>
>>>
>>>Suara Hidayatullah : Juni 1999 / Shafar-Rabiul Awal 1420
>>>Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian
>>>
>>>Mengapa bingung dengan harga pupuk dan pestisida yang melangit?
>>Gunakan
>>>saja air liur, mujarab kok!
>>>Setiap bangun tidur bau mulut kita pasti terasa tak sedap. Tahukah
>>Anda
>>>bahwa bau tak sedap itu sangat bermanfaat untuk dunia pertanian?
>>>Itulah yang dikembangkan Fuad Affandi. Putra Ciwidey, Bandung ini
>>>berhasil membuat karya inovatif berupa pupuk dan obat pemberantas
>>hama
>>>tanaman dari bahan dasar air liur. Uniknya, Fuad bukanlah seorang
>>ahli
>>>bioteknologi atau lulusan perguruan tinggi. Ia 'hanya' seorang kiai
>>yang
>>>
>>>mengasuh 300 santri.
>>>Awalnya, ia melihat melimpahnya kotoran sapi, kambing, dan ayam. Mang
>>>Haji -demikian Fuad biasa dipanggil- berniat menjadikan kotoran
>>ternak
>>>tadi menjadi pupuk kandang. Agar menjadi pupuk alami yang baik,
>>kotoran
>>>itu harus diperam selama dua sampai empat bulan.
>>>Fuad berpikir, bagaimana mempercepat proses penghancuran dan
>>pembusukan
>>>kotoran ternak tadi? Ternyata, bakteri penghancur yang ampuh justru
>>ada
>>>di perut manusia. "Buktinya, hari ini kita makan, besok keluar sudah
>>>busuk," ujar alumnus Pesantren Lasem, Jawa Tengah ini. Menurut
>>>penelitian Laboratorium Mikrobiologi Universitas Padjajaran, Bandung,
>>>dalam air liur memang terdapat empat macam bakteri: Saccharomyces,
>>>Cellulomonas, Lactobacillus, dan Rhizobium. Bakteri ini biasa hidup
>>di
>>>lambung manusia. Bagaimana mendapatkan bakteri itu?
>>>Tak kurang akal. Kebiasaan makhluk renik itu, kalau tidak ada makanan
>>>masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk menyantap
>>sisa-sisa
>>>
>>>makanan yang ada di dalam rongga mulut. Karena saat tidur tidak ada
>>>makanan yang masuk, saat itulah banyak bakteri berkumpul di mulut.
>>Nah,
>>>Fuad lantas memerintahkan 300 santrinya membuang air kumur pertama
>>dari
>>>bangun tidur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan
>>penginapan
>>>santri.
>>>Mikroorganisme dalam air liur itu lalu dikembangbiakkan dengan
>>>menambahkan molase (gula), dedak, dan pepaya ke dalamnya. Setelah
>>>beberapa hari, air liur santri ternyata berubah menjadi cairan kental
>>>berwarna keruh, dengan bau wangi seperti bau cokelat. Itu berarti
>>>bakteri dapat berkembang biak dengan subur. Fuad lalu menyiramkan
>>cairan
>>>
>>>bakteri itu ke kotoran ternak dan jerami yang sedang diperam.
>>Hasilnya
>>>dahsyat. Hanya dalam tiga hari, kotoran ternak itu hancur dan busuk,
>>>siap dipakai sebagai pupuk kandang. Penemuan Fuad ini diberi nama MFA
>>>(Mikroorganisme Fermentasi Alami) --kadang diplesetkan menjadi
>>>Mikroorganisme Fuad Affandi.
>>>MFA berkasiat untuk mempercepat ketersediaan nutrisi tanaman,
>>mengikat
>>>pupuk dan unsur hara, serta mencegah erosi tanah.  Semula, pupuk
>>organik
>>>
>>>itu dipakai untuk kalangan sendiri, kemudian menyebar dari mulut ke
>>>mulut para petani di lingkungannya. Pada tahap selanjutnya, Mang Haji
>>>berhasil mengembangkan pupuk kandang menjadi cairan yang dikemas
>>dalam
>>>botol dan siap disemprotkan ke tanaman.
>>>Inovasi Fuad tak berhenti sampai MFA. Dia juga menciptakan tiga jenis
>>>pembasmi hama tanaman yang diberi nama Innabat (Insektisida Nabati),
>>>Ciknabat (Cikur Nabati), dan Sirnabat (Siki Sirsak Nabati).
>>>Innabat adalah insektisida yang terbuat dari kacang babi dicampur
>>bawang
>>>
>>>putih, bawang merah, cabe rawit, dan temulawak. Semua bahan itu
>>digiling
>>>
>>>menjadi satu dan dicampur dengan air beras. Campuran tersebut
>>kemudian
>>>didiamkan selama 14 hari sebelum disemprotkan ke tanaman. Ketika
>>diuji,
>>>ramuan ini ampuh untuk membasmi berbagai jenis ulat, ngengat, dan
>>lalat
>>>yang sering menyerbu tanaman sayuran.
>>>Sedangkan Ciknabat, yang terbuat dari cikur (kencur) dicampur dengan
>>>bawang putih, ampuh sebagai fungisida (pembasmi jamur tanaman).
>>Selain
>>>membasmi jamur, Ciknabat juga berfungsi ganda sebagai insektisida.
>>>Kencur dan bawang putih ini tidak mematikan hama, tapi baunya membuat
>>>hama enggan mendekat.
>>>Lain lagi dengan Sirnabat, yang terbuat dari gilingan biji sirsak,
>>>merupakan formula paling keras yang dibuat Fuad. Ramuan ini
>>disemprotkan
>>>
>>>jika Innabat dan Ciknabat sudah tak mempan lagi mengusir hama.
>>>Untuk memproduksi pupuk dan pestisida alami itu, Fuad mendirikan
>>pabrik
>>>di Garut, yang kini dikelola Tatang Sutresna, mantan santrinya.
>>>Permintaan tidak cuma datang dari Bandung dan sekitarnya, melainkan
>>dari
>>>
>>>luar pulau, seperti Jambi, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
>>>Pesantren pertanian
>>>Bila Fuad intensif mengembangkan pupuk dan pestisida alami, itu
>>bukanlah
>>>
>>>aneh. Memang sudah sejak lama kiai ini bersentuhan dengan dunia
>>>pertanian. Bahkan pesantrennya, Al Ittifaq, yang berada di Desa Alam
>>>Endah Ciwidey, identik dengan pesantren pertanian. Santrinya tidak
>>cuma
>>>memperdalam agama, juga belajar bercocok tanam. Hebatnya, beberapa
>>>santrinya di kirim ke Jepang dan beberapa negara Eropa mengikuti
>>>pelatihan agroindustri di sejumlah industri pertanian dan perkebunan,
>>>atas beaya Bank Dunia dan Departemen Pertanian.
>>>Saat pertama datang di Ciwidey, 40 km arah selatan Bandung, sekitar
>>>tahun 70-an, Fuad terheran-heran. "Mengapa penduduknya miskin,
>>padahal
>>>alamnya sangat subur?" pikirnya dalam hati.
>>>Tampaknya, salah satu penyebab utama adalah tingkat pendidikan yang
>>>rendah. Banyak anggota masyarakat tidak tamat SD. Kalaupun ada, hanya
>>>bisa dihitung dengan jari. Terdorong oleh keinginan mengubah nasib
>>>masyarakat, Fuad lantas mendirikan pesantren. Bermodal sebidang tanah
>>>dan sedikit pengetahuan pertanian, Fuad kemudian juga mengajak
>>beberapa
>>>warga menanam sayuran buncis dan kentang. Hasilnya ternyata bagus.
>>Tentu
>>>
>>>saja keberhasilan ini mengundang minat banyak orang mengembangkan
>>>agrobisnis.
>>>Setelah beberapa kali gagal menembus pasar swalayan, karena syarat
>>>kualitas yang ketat, supermarket Hero akhirnya bersedia menerima
>>sayuran
>>>
>>>Fuad. Jalan menuju keberhasilan semakin lempang. Buktinya, kini Fuad
>>>setiap harinya mampu memasok sayuran segar ke Jakarta sekitar 5 ton.
>>>Jumlah tersebut untuk memenuhi beberapa super market, dengan
>>perincian:
>>>2 ton ke Hero, serta 3 ton untuk Makro, Ramayana, dan Gelael. "Kalau
>>>ditanya omzet, alhamdulillah dalam sebulan kurang lebih tiga ratus
>>enam
>>>puluh jutaan," aku peraih penghargaan Satyalancana Wira Karya dari
>>>Presiden BJ Habibie (1998) ini.
>>>Kelebihan
>>>Dibanding pupuk dan pestisida kimiawi, buatan Fuad memiliki sejumlah
>>>keunggulan. Pertama, dari segi beaya, lebih murah. "Harga pestisida
>>>kimia Rp 50.000, sedangkan produksi cuma Rp 15,000," tutur Apep,
>>Wakil
>>>Ketua Pondok Pesantren Al Iftifaq. Apep memberi gambaran, untuk luas
>>1
>>>ha tanaman buncis petani harus mengeluarkan beaya sebesar Rp 2 juta
>>>untuk membeli pestisida kimia/sintesis. Kalau menggunakan pestisida
>>>alami, petani hanya mengeluarkan beaya Rp 100.000, dengan luas lahan
>>>yang sama. "Hasilnya sama, per hektar sekitar 8 ton," ujarnya.
>>>Kedua, menggunakan pupuk dan pestisida alami tentu lebih sehat,
>>karena
>>>tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun hasil produksinya.
>>>Ketiga, harga sayurannya lebih tinggi, karena sayuran tampak lebih
>>>segar, bersih, dan bebas dari zat-zat kimiawi.
>>>Bukan berarti tanpa kendala. Menurut Apep, yang sulit justru mencari
>>>bahan bakunya. Misalnya, untuk membuat Innabat, sangat sulit
>>mendapatkan
>>>
>>>kacang babi. Juga untuk membuat Sirnabat, biji sirsaknya tidak
>>gampang
>>>diperoleh. "Mungkin, kami perlu mendatangi para penjual juice buah
>>>sirsak, atau para pembuat dodol sirsak," kata Apep sambil terkekeh.
>>>Melejitnya harga pupuk dan pestisida kimia sekarang ini, tentu
>>peluang
>>>untuk kembali ke alami. "Pesanan memang naik drastis. Saya optimis
>>>produksi kami akan dicari petani. Sekarang kapasitas produksi kami
>>bisa
>>>30 ton/bulan," kata Awang Nawangsih, yang bersama suaminya, Tatang
>>>Sutresna, diberi amanah mengembangkan MFA. Semoga. (ddg)
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>---------------------------------------------------------------------
>>---
>>>
>>>eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/lingkungan
>>>http://www.egroups.com - Simplifying group communications
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>>___________________________________________________________________
>>Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>>Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>>Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>>atau di http://www.egroups.com/list/envorum
>>
>_________________________________
>Ir. Misri Gozan, M.Tech
>Faculty of Engineering University of Indonesia
>Kampus Baru UI Depok 16424
>INDONESIA
>
>___________________________________________________________________
>Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>atau di http://www.egroups.com/list/envorum


___________________________________________________________________
Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
atau di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke