Mas Bayu
Wah, asyik juga tuh issue-nya
Sebab masalah sawit sudah menjadi kanker yang menggerogoti civil society
Banyak penduduk lokal, masyarakat adat dan bahkan masyarakat terasing
Hal in juga saya jumpai waktu kunjungan ke Sulteng dan Sultra
Disana ada ekspansi besar-besaran dari kapitalis daerah yang bernama Murad
(Dia itu seorang Soehartois sejati yang waktu krisis mata uang menyumbang emas dan menukar dollar dengan harga rendah)
Masyarakat asli banyak yang kehilangan tanahnya karena dikonversi menjadi perkebunan.
Tidak hanya sawit, tapi juga kopi dan kakao
Saya dengar bahwa di Kaltim juga terjadi kasus serupa.
Disana pelakunya ialah Lonsum (London Sumatera Plantation milik Bakrie)
Juga berbagai perusahaan pertambangan melakukan hal yang sama untuk memperluas area eksplorasinya.
Bahkan di beberapa daerah secara sistematis para kapitalis melakukan pendesakan untuk peminggiran masyarakat asli baik itu dengan membuat akses ekonomi masyarakat asli makin tergantung pada mereka maupun dengan mengambil alih jalur-jalur transportasi masyarakat asli.
Dengan perlakuan ini, suatu saat diharapkan masyarakat asli akan tidak tahan lagi dan menjual tanahnya pada para kapitalis tersebut.
 
Mending kalau ternyata perkebunan itu memberikan spillover effect yang besar dengan mempekerjakan penduduk sekitarnya
(Pemerintah dan kalangan bisnis umumnya selalu mengkampanyekan bahwa dengan masuknya industri tersebut maka masyarakat akan maju karena perbaikan infrastruktur dan tersedianya lapangan pekerjaan)
Biasanya proyek seperti itu sedapat mungkin mempekerjakan orang dari daerah lain, bahkan dari lain pulau
Dengan demikian mereka tidak terganggu oleh conflict of interest terhadap permasalahan sosial yang ada dan bisa 'berkonsentrasi' terhadap pekerjaannya.
 
Akibatnya masyarakat yang dasarnya mudah dipinggirkan ini benar-benar termarginalisasi
Mereka kehilangan pendapatan utamanya dan 'aturan main' dalam hidup mereka kacau balau
Tidak heran kalau secara psikologis mereka menanggung beban akibat penindasan ini
Kesakitan dan luka batin terjadi bukan lagi pada level individual, tapi pada level sosial
Para penonton pembangunan dan kemajuan ekonomi ini kadang-kadang secara bersama-sama (dengan lingkungan sosialnya) menjadi super sensitif dan banyak kegiatan-kegiatan negatif seperti mabuk bersama dll yang dilakukan.
 
Pendapat saya sih, jadi urusannya bukan sekedar limbah terhadap lingkungan fisik saja.
(Kalau yang ini terus terang saya nggak banyak tahu)
Tapi juga limbah sosialnya.
MIsalnya kasus di Bengkulu tersebut yang menggunakan pola PIR-Trans, apakah transmigrasi tersebut pada awalnya sudah disetujui oleh penduduk lokal ?
Sebab bukan tidak mungkin bahwa dengan masyarakat transmigrasi tersebut menjadi kepanjangan tangan dari pola penindasan kapitalis terhadap masyarakat lokal.
Ketika masyakarat lokal hendak mempermasalahkan hal ini, biasanya kapitalis mempergunakan state untuk menindas proses berjalan kearah pembentukan dan penguatan civil society tersebut.
Bila perhatiannya pada proses produksi, apakah tidak bisa diusahakan teknologi yang dipilih sedemikian rupa sehingga limbah dari perusahaan tersebut yang di-release masih bisa menjadi tambahan pendapatan dari masyarakat lokal.
Sebagai misal, limbah tersebut masih bisa diolah masyarakat sekitar menjadi pupuk organik yang memberikan peningkatan pendapatan dari masyarakat lokal.
(Tapi jangan terus limbah tsb dijual dengan harga tinggi sehingga secara ekonomis masyarakat setempat tidak memperoleh manfaat apa-apa)
 
Untuk skala nasional, usul terbaik dari saya ialah: PEMBATASAN PERKEMBANGAN INDUSTRI BESAR SAWIT
Sedapat mungkin masyarakat lokal yang menanam dan pihak perusahaan hanya mengolah hasil dari masyarakat lokal.
Dengan demikian masyarakat lokal tetap menjadi utama dalam pengembangan industri.
Fungsi perusahaan ialah fasilitasi dan konsultasi, termasuk mendewasakan masyarakat lokal sehingga bisa berbicara dalam mekanisme pasar. (Tapi untuk Indonesia saya merasa ini masih menjadi UTOPIA BESAR)
Usul yang lebih mudah lagi ialah support penghidupan asli masyarakat lokal.
Misalnya untuk Sulawesi, sedapat mungkin kembali berbasis ke kelapa (biasa)
PR bagi para intelektual ialah bagaimana hasil dari kelapa (biasa) bisa dikelola sehingga memberikan profit yang cukup besar.
 
Harapan saya ialah dengan ini masyarakat lokal bisa terangkat kehidupannya.
Selain itu mendahulukan peran masyarakat lokal (tidak hanya slogan semata dan kemudian berupaya mengkooptasi mereka lagi ke pihak penguasa baru) secara jujur dan ikhlas bisa memperkuat civil society sendiri karena dengan demikian daya tawarnya terhadap state juga meningkat.
Dari sudut pandang esensi hidup manusia sendiri, memperkuat masyarakat lokal menjadi langkah penting untuk menuju emansipasi manusia dari segala penindasan di sekelilingnya.
 
Salam Emansipasi,
Panca (C7)

Kirim email ke