Saya pikir bukan dari prilaku kita, tetapi terletak pada prilaku bank dunia.
Rich (1999) menceritakan prilaku bank dunia selama berpuluh tahun mengubah
keterbelakangan diberbagai negeri-negeri termasuk Indonesia sesuai dengan
citra barat, tanpa peduli dengan kearifan budaya lokal dan realitas ekonomi.
Dengan rincian bukti-bukti yang dikumpulkannya, ia yakin advis bank dunia
atas pendekatan top down dan dibarengi dengan ketertutupan tingkat
perencanaan telah membawa kerusakan karena telah mengabaikan pengetahuan
lokal dan perbedaan lokal dari sistem sosial dan ekologi.

Nenny Babo


----- Original Message -----
From: Johnny Anwar <[EMAIL PROTECTED]>
To: Envorum <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Nadji Palemmui Shima <[EMAIL PROTECTED]>; Yohannes Budhi
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, April 30, 2000 7:20 AM
Subject: [envorum] [Fwd: [berita-lingkungan] Depkimbangwil Kerja Sama Bank
Dunia Wujudkan Kota Tanpa Kawasan Kumuh]


>Buat rekan-rekan Milis,
>
>Saya pesimis hal ini bisa terwujud, Karena ciri masyarakat kita sudah
>terbiasa dengan hal-hal yang jorok dan terbiasa dengan ketidak pedulian
>khususnya makna bersih itu sehat. Ingin sekali saya mengetahui visi dan
>misi dari program kerja ini dari rekan-rekan yang mengetahui program
>ini.
>
>salam,
>


----------------------------------------------------------------------------
----

>---------------------------------------------------------------------
>Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]



---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke